27 November 2020

2 Pemuda

(Bad Liar)

2017 aku mengenal seorang 2 pemuda yang waktu itu di mataku mereka hanyalah pemuda biasa yang sama dengan pemuda-pemuda lainnya. 2 pemuda itu memiliki perbedaan dan persamaan. Perbedaannya aku lebih dulu mengenal pemuda kurus dibanding dengan pemuda tinggi. Pertama kali aku melihat pemuda kurus, entah kenapa aku merasa senang ketika melihatnya. Yaaa pemuda kurus itu terlihat ramah dan baik.

Waktu cepat berlalu. Semakin lama aku mengenal pemuda kurus itu, aku semakin tahu tentang dia. Ternyata, dia asyik juga. Dia sangat ramah lebih dari yang aku pikirkan. Setelah lama mengenal, diapun tahu setiap karekteristikku. Mulai dari sikapku, pikiranku, dan cara aku berbicara. Dari situlah dan dari sebuah organisasi yang sama kita mulai akrab. Bahkan, seringkali aku mengeluh mengenai masalahku kepada pemuda kurus itu.

Bisa dibilang dialah yang membuatku berani untuk bicara. Menjadi lebih cerewet ketika berdiskusi, lebih PD, dan tentunya berani buat mengutarakan pendapat. Merubah untuk lebih maju bukan merubah untuk menjadi yang lain. Pemuda kurus itu kerap aku panggil dengan sebutan kakak. Dia yang suka menasehati ketika aku salah dan dia akan diam saja ketika sikapku mulai berubah. Pemuda kurus hanya ingin tidak ada yang berubah dari diriku kecuali berubah menjadi lebih baik lagi.

Setelah beberapa lama kita saling kenal, tanpa sengaja di kantin aku bertemu dengan pemuda kurus, di mana disitu juga ada pemuda tinggi. Ternyata pemuda tinggi itu adalah sahabat pemuda kurus. Awalnya aku tidak suka ketika melihat pemuda tinggi: tubuhnya yang tinggi,  matanya merah, tatapannya yang tajam, dan logat bicaranya yang tegas. Beberapa kali aku bertemu dengan pemuda tinggi itu di sebuah organisasi. Di mana ada pemuda kurus pasti di situ ada pemuda tinggi. Tapi, dari situlah aku juga mengenal baik pemuda tinggi. Ternyata, dia tidak seburuk yang aku pikirkan.

Persamaannya, mereka sama-sama baik, peduli, mampu menyesuaikan, dan masih banyak lagi. Sementara perbedaannya, pemuda kurus lebih sering berkomunikasi, sabar, dan perhatian. Buruknya dia sedikit emes. Sedangkan pemuda tinggi, ia baik, dan kritis. Namun begitu, ada yang membuatku merasa benci kepada pemuda kurus dan pemuda tinggi.

Aku membenci pemuda kurus karena dia yang suka emes. Dia yang kuanggap pendiam, ternyata dia tidak bisa menjaga rahasia. Begitupula dengan pemuda tinggi. Dia hanya bisa memberikan janji, janji, dan janji. Wanita mana yang tak merasa kesal jika seorang pria hanya mampu berkata.

Saat inipun aku merasa kesal. Aku tahu jika ia sibuk, tapi bukan berarti dia lupa dengan janjinya.  Janjinya untuk memberikanku sebuah buku tak terjadi sampai saat ini.

Beberapa kali aku berusaha untuk memintanya, aitsss lebih tepatnya mengingatkannya. Dengan rasa sedikit takut, aku chat pemuda tinggi. Aku juga kerap memanggilnya dengan sebutan Kakak.

“Kak…” terkirim sebuah pean WA dariku

5 menit kemudian. Pemuda tinggi baru membalas pesanku.

“Apa?” balasnya

“Buku Kakkkk” dengan rasa kesal aku membalasnya.

“Ya, besok. Kalau sudah gajian”

Aku hanya read pesannya. Memang tujuannya baik. Tapi, jika pada ujungnya hanya memberikan kekecewaan untuk apa pemuda tinggi itu berjanji. Rasa kesalku semakin menjadi-jadi. Kuharap aku tidak akan bertemu dia lagi, baik ketika di jalan ataupun di organisasi. Tak peduli jika komunikasiku dengan pemuda tinggi itu akan renggang.

Satu pesan WA kuterima, kukira pesan itu dari pemuda tinggi, ternyata pesan itu dari pemuda kurus.

“Nduk”

“Sibuk?”

“Ganggu tidak?”

(Beberapa pesan dari pemuda kurus yang terkirim di waktu bersamaan)

“Apa?’

“Tidak”

“Tidak, kenapa?” balasku ke pemuda kurus

“Lagi apa?” tanyanya pemuda kurus

“Lagi kesel” keluhku pada pemuda kurus

”Kenapa? Ayok cerita, tak dengarkan!”

(Bagaimana aku bisa cerita, jika ceritaku tentang sahabatmu sendiri), pikirku. “ sudahlah kak, lupakan saja”

Pemuda kurus hanya membaca pesanku. Rasanya aku ingin menceritakan semuanya. Tetapi, pemuda kurus saja emes. Rasa percayaku sudah mulai berubah menjadi rasa ragu. Meski terkadang aku juga ingin selalu dekat dan selalu ingin bertemu, karena kesalahannya aku sudah tidak memiliki rasa “ingin” yang lebih. Kutahu, jika aku hanya orang lain, yang sama-sama mendapat perhatian darinya. Semenjak itu, aku benar-benar berusaha melupakan rasa kecewaku. Organisasiku masih berjalan lancar. Pertemuan yang selalu diadakan 1 minggu sekali, membuatku menahan rasa kecewa setiap bertemu dengan 2 pemuda tersebut.

Membahas tentang diklat yang harus menginap untuk 1 hari 1 malam. Waktu diklat telah tiba. Tidak ada persiapan apapun yang aku lakukan untuk diklat. Aku datang terlambat, sesampainya di sana ternyata sudah selesai berikrar. Banyak sekali sapaan dari teman organisasiku,termasuk dari pemuda kurus dan pemuda pemuda tinggi. Malampun tiba, aku yang merasa jenuh akhirnya aku memilih untuk duduk disamping pintu. Di situ, aku justru ditemani pemuda tiggi. Bau asap rokoknya membuatku tidak betah, sehingga aku harus jaga jarak. Saat itu aku dan pemuda tinggi sedang membicarakan tentang politik. Saking asyiknya temanku juga ikut bergabung. Tak lama, pemuda kuruspun datang dan ikut bergabung, suasana menjadi lebih ramai.

Beberapa saat kemudian, kita melakukan sebuah renungan, yang diadakan di lantai dua. Tempatnya terbuka, pukul 00:00 kita semua berangkat ke atas. Yaa seperti biasa, semua menangis termasuk aku. Untuk beberapa saat renungan selesai. Setelah renengun selesai, aku memutuskan untuk turun. Tapi pemuda kurus menahanku.  Karena aku hanya bersikap cuek aku menurutinya. Disitu pemuda kurus mulai bertanya dan mencoba untuk cerita tentang kisahnya. Pemuda tinggi hanya diam sambil menikmati rokoknya (Djarum super). Entah aku yang sudah kena tipu atau tidak, aku hanya bersikap cuek.

“Nduk, aku tanya”

“Iya, apa?”

“Jika kamu sedang jatuh cinta, dan orang yang kamu sayangi menyakitimu, apa yang akan kamu lakukan?”

“Ya, aku tinggalin. Daripada aku sakit hati setiap hari, lebih baik aku tinggalin. Yaa meski berat juga” jawabku dengan sedikit bingung

“Gitu ya!tapi tidak bisa nduk, orang kalau sudah jatuh cinta ya akan tetap mempertahankan”

“Tidak. Tetap aku memilih pergi”

“Nduk, jika dilihat, kamu itu susah untuk suka sama orang. Kamu terlalu bodoh amat dengan laki-laki. Karena kamu yang cuek. Cobalah untuk membuka hati. Laki-laki yang ingin dekat denganmu itu takut, karena sikap kamu”.

“Kok jadi bahas aku?”

“Ya, karena sikap kamu terlalu cuek”

Disitu aku sama sekali tidak mengerti dengan pembicaraannya. Duduk bersama ditempat terbuka dengan 2 pemuda yang sama-ssama gila tentang cinta. Pemuda tinggi mulai mengajak pergi, aku dan pemuda kurus segera berdiri dan meninggalkan tempat itu.

Banyak sekali cerita dan pengalaman yang yang kudapat. Apalahi mengenai 2 pemuda tersebut. Memang, 2 pemuda tersebut saling bertukar cerita, entah menceritakan siapa, siapa aku tidak tahu.

Untuk saat ini, aku masih bersikap bodoh amat dengan mereka. Rasa kecewaku masih ada, dan janji pemuda tinggi masih tetap kuingat. Terimakasih untuk sikap kepeduliannya dan saat ini kalian yang masih memperjuangkan cinta, semoga kalian tidak menjadi pujangga yang mati tanpa mendapat cinta si Hawa.

Penulis

Shofi anggota rumah membaca indonesia

Pilihan Lain

Selamat datang di layanan kami Setuju Lain Kali

Privacy & Cookies Policy