28.9 C
Indonesia
17 Juni 2019
News

Pesantren Al-Luqmaniyyah, Ajak Santri Mondok Sambil Kuliah

Penasantri.id || Kuliah sambil mondok menjadi hal yang lumrah dilakukan oleh sejumlah mahasiswa di Yogyakarta. Dengan mondok dan kuliah secara bersamaan, dua ilmu didapat sekaligus yaitu ilmu pengetahuan duniawi dan ilmu agama.

Meski terkesan sepele, belajar ilmu agama dan belajar di perguruan tinggi ini butuh manajemen waktu yang baik.Mondok, diartikan menjadi santri di sebuah pondok pesantren.

Pondok pesantren sendiri selama ini sudah terbukti mampu mencetak generasi yang punya nilai keimanan kuat dan mempunyai jiwa sosial yang baik di tengah-tengah masyarakat.

Salah satu pondok yang memiliki banyak santri dari kalangan mahasiswa dan mahasiswi di Yogyakarta adalah Pondok Pesantren Al-Luqmaniyyah. Pondok Pesantren (Ponpes) ini berlokasi di Dukuh Kalangan, Pandean, Umbulharjo, Kota Yogyakarta.

“Ada sekitar 400 santri di pondok ini. Mayoritas adalah mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi di DIY. Sebagian kecil lagi adalah santri yang sudah bekerja dan beberapa santri SMA,” kata Lurah Ponpes Al-Luqmaniyyah, Amin Rofiq.

Ponpes Al-Luqmaniyyah dibangun tahun 1998 oleh pengusaha asal Sumatra, Luqman Jamal Hasibuan.

Dari nama sang pendiri inilah pondok diberi nama Al-Luqmaniyyah. Pondok diresmikan Februari 2000 oleh Salimi, seorang tokoh agama asal Mlangi, Sleman.

Pondok kemudian diasuh oleh Najib Salimi, putera kedua dari Salimi. Najib Salimi adalah seorang ‘alim yang selama belasan tahun menjadi murid dari Abdurrahman Chudlori, pengasuh Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo, Magelang.

Dari sinilah kemudian muncul karakter Ponpes Al-Luqmaniyyah yang sekilas mirip dengan API Tegalrejo.

Hal ini terlihat dari kewajiban menjalankan mujahadah dan riyadloh sebagai sarana untuk mempersiapkan diri menerima ilmu yang bermanfaat.

“Di sini mujahadah dilakukan dua kali setiap harinya. Pertama, waktu dini hari pukul 03.00 sampai menjelang adzan subuh tiba dan kedua pada petang hari setelah salat magrib berjamaah sampai menjelang waktu salat isya,” kata Amin.

Tingkatan santri dibagi menjadi tujuh yaitu I’dady, jurumiyyah, ‘imrithy, alfiyyah I, alfiyyah II, Takhtim Bukhori I dan terakhir kelas Takhtim Ihya. Sementara kitab yang diajarkan seputar tarikh, nahwu, sharf, fiqih, tauhid, akhlak dan hadits.

Menurut Amin, pelajaran di pondok dilakukan tiga sesi yaitu pukul 05.00-06.00 pagi, pukul 16.00-17.30 sore dan pukul 20.00 hingga 22.30 malam.

Pagi hingga siang, santri diperbolehkan beraktifitas di luar termasuk kuliah dan sekolah.

Meski terkesan fleksibel perihal aktifitas santri di luar jam pelajaran di pondok, namun menurut Amin, pengasuh sangat ketat dalam menjalankan aturan.

Jika melanggar, pengurus dan pengasuh tak segan-segan memberikan sanksi kepada santri.

Misalnya ketika santri sedang berkegiatan di kampus, kewajiban utama santri adalah tetap mengaji di pondok.

Jika dalam keadaan mendesak, santri bisa berkegiatan di kampus namun harus disertakan surat keterangan dan dipertimbangkan terlebih dahulu.

“Pengasuh ingin agar santri di sini mondok sambil kuliah, bukan kuliah sambil mondok. Kami percaya jika akhlak layak jadi yang utama dibanding akal. Keduanya harus berjalan berdampingan namun akhlak selalu yang utama,” kata Amin.

Prinsip ini masih dipegang teguh para pengasuh dan pengurus pondok. Bahkan setelah Najib Salimi wafat tahun 2011 lalu, prinsip dan aturan ini masih dijalankan. Kini, Ponpes Al-Luqmaniyyah diasuh oleh Kyai Na’imul Salimi.

Related posts

Rembuk Kebhinnekaan GUSDURian Sumenep

admin

Why Bold Socks Are The ‘Gateway Drug’ To Better Men’s Fashion

admin

Inside Martina, a Shake Shack-Like Approach to Pizza

admin

People Power Hukumnya Haram

admin

Inil Hasil Kesepakatan Multaqo Ulama, Habaib dan Cendekiawan Muslim

admin

Ulama Pasuruan Ajak Santri Doakan Pemilu Damai

Moh Faiq

Leave a Comment