25.3 C
Indonesia
16 Juli 2019
Esai

Agama, Cinta

Bukan hal yang asing lagi kalau berbicara masalah cinta. Setiap orang tentunya sudah pernah bercinta atau paling tidak tahu atau mendengar kata yang sensasional ini. Cinta terdiri dari lima huruf yang pemaknaannya masih bermacam-macam, tergantung dari sudut mana akan melihat cinta.  Cinta juga mudah didengar namun sulit untuk dimengerti. Itulah sekelumit tentang cinta yang sangat universal.
Namun pada realitanya, banyak yang menganggap bahwa cinta itu-itu saja. Sehingga banyak stereotip miring yang bermunculan mengenai cinta. Padahal, pada dasarnya cinta itu merupakan fitrah yang diberikan Allah pada kita. Cinta tidak pernah mengenal kata salah, namun yang perlu kita garis bawahi adalah tindakan bercinta. Sesuaikah tindakan cinta kita dengan apa yang telah di fitrahkan Allah pada kita? Itu merupakan pertanyaan yang seharusnya dimunculkan. Pemaknaan cinta yang sesuai dengan fitrahnya ini yang akan berusaha dijelaskan secara singkat pada kali ini.
Islam adalah agama fitrah, sedangkan cinta itu sendiri adalah fitrah kemanusiaan. Allah telah menanamkan perasaan cinta yang tumbuh di hati manusia. Islam tidak pula melarang seseorang untuk mencintai atau bahkan dicintai, bahkan Rasulullan menganjurkan agar cinta tersebut diutarakan, “Apabila seseorang mencintai saudaranya maka hendaklah ia memberitahu bahwa ia mencintainya.” (HR Abu Daud dan At-Tirmidzy). Dalam hal memberitahu, tidak harus melalui lisan. Namun, ungkapan sejati adalah bukanlah terletak pada seberapa sering kita mengatakan, tetapi seberapa besar kita bisa bisa mengamalkan ungkapan tersebut melalui tindakan
            Maqam Cinta atau Mahabbah
Dalam dunia sufi, Mahabbahmerupakan maqam yang bisa ditempuh oleh para salikuntuk sampai pada Dzat Maha Tidak Terbatas. Maqam ini pertama kali diperkenalkan oleh tokoh sufi pada abad kedua, yaitu Rabiah Al-Adawiyah.Mahabbahyang diperagakan oleh Rabiah adalah hatinya telah dilingkupi oleh rasa cinta tersebut (tentunya rasa cinta kepada Allah). Pada suatu ketika Rabiah pernah ditanya, “Apakah engkau membenci Setan?” ia menjawab, “tidak. Cintaku kepada Allah tidak meninggalkan ruang kosong dalam diriku untuk rasa benci pada setan”. Dan pada waktu yang lain, Rabiah pernah mengatakan bahwa: “aku tidak beribadah bukan karena aku takut akan neraka-Nya, dan juga bukan karena cinta akan surga-Nya (seperti pekerja yang mengharapkan imbalan) tetapi aku beribadah kepada-Nya karena aku cinta serta rinda akan Diri-Nya”.
Namun, pertanyaan besar datang dari apa yang telah dipandangkan oleh Rabiah dalam cintanya kepada Allah adalahbukankah Allah juga mengutus manusia ke Bumi sebagai Khalifah? Manusia juga sebagai makhluk yang juga butuh terhadap orang lain.! Dalam pandangan Rabiah, hal yang serupa merupakan cinta yang kurang total, dari makhluknya kepada Khaliqnya. Rabiah beranggapan, buat apa kita membutuhkan kepada makhluk yang masih sama-sama membutuhkan kepada yang lain, lebih pantasnya kita membutuhkan kepada yang tidak sama sekali membutuhkan akan yang lainnya.
Pandangan Rabiah dalam cinta disini tidak semerta-merta harus kita ambil ataupun sebaliknya. Alangkah lebih baiknya kita mencoba mangklarifikasi akan hal tersebut. Rabiah adalah merupakan tokoh sufi yang sudah sampai akan tujuan akhirnya. Bagaimana dengan kita yang akan masih atau ingin mencobanya untuk mencintai yang memang sepantasnya dicintai. Maka dari itu, kita melangkah sebagaimana langkah yang telah menjadi sunnah Nabi Muhammad SAW, baik dalam hal bertetangga, bersosial, dan terutama dalam hal ibadah. Nabi merupakan sosok yang komplek.
Dalam pandangannya Nabi mengenai Mahabbah atau cinta, Beliau mengatakan:“Tidak sempurna iman salah seorang dari kamu sekalian sehingga ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai diri sendiri.” Juga sabda Rasulullah, “Barang siapa ingin mendapatkan manisnya Iman, maka hendaklah ia mencintai orang lain karena Allah.” (HR Hakim dari Abu Hurairah). Dari dua hadist Nabi ini, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa dalam hal cinta sekalipun kita sepantasnya memasukkan unsur Rabbani pada diri kita. Selaras dengan itu, hal tersebut sesuai dengan salah satu tujuan Tasawuf. Salah satu tujuan Tasawuf yang dimaksud adalah bahwa kehidupan keseharian dapat menjadi praktik spiritual yang sangat mendalam. Sehingga benar apa yang dikatakan oleh Robert Frager dalam bukunya bahwa: ”Cinta adalah dasar-disiplin-sufi. Semakin kita belajar mencintai orang lain, kita semakin mampu mencintai Tuhan”.
Dengan kita menyadari bahwa mencintai makhluk dapat menyampaikan kita kepada Sang Khaliq, kita bisa semakin merasakan akan kekuasaan-Nya. Pada unsur lain, dengan kita sudah bisa mencintai orang sebagaimana kita mencintai diri kita, maka kita bisa senantiasa melihat Tajalli-Nya Allah pada sekitar kita. Sehingga kita akan selalu menikmati atau menyaksikan akan keberadaan Allah. Maka, dengan cara inilah (salah satunya) kita bisa (sampai) mengenal terhadap Pencipta dari segala yang ada.
            Terakhir, ungkapan tanpa tindakan adalah kesia-siaan.!
            Selamat bercinta karena Pencipta, semoga bisa mengetahui dengan mencintai.
*Penulis ABD. WARIS. Aktif di KOPI (Komunitas Obrolan Pecinta Sufi),
 Ketua Perpustakaan Lubangsa dan kini masih menempuh  di semester III AT
Dan merupakan anak asuh dari IPJ (Istana Pers Jancukers) Lubangsa.

Related posts

Identitas Agama-agama Samawi dalam al-Quran

admin

Seutas Tentang Shalawat Asyghil

PENA SANTRI

Pra-Syarat Menuntut Ilmu Pengetahuan

Ahmad Fairozi

Pesantren Sumber Spiritual Islam Dulu, Kini dan Nanti

admin

Konsep Ummatan Wasathan sebagai Poros Peradaban Dunia

PENA SANTRI

Tawassuth Butuh Ilmu, Tasamuh Perlu Akhlak

PENA SANTRI

Leave a Comment