Flash Sale! to get a free eCookbook with our top 25 recipes.

Agama, Politik dan Masa depan Indonesia

Listen to this article


Oleh: Sattar Hafidz
“Yang Lebih Penting dari Politik adalah Kemanuasiaan”
(Gus Dur)
Indonesia adalah rumah bersama yang harus dijaga-rawat bersama-sama pula. Keberagaman etnis, Agama dan suku bangsa menjadi kekuatan bangsa ini, dengan persatuan yang senantiasa terus diasah.
Bersamaan dengan itu semua, Indonesia hari ini tengah menghadapi tantangan serius dalam momentum politik yang notabeni menjadi pintu terpecahnya kesatuan bangsa. Terutama sekali realitas bangsa Indonesia yang menjadikan Agama, etnis dan simpul-simpul golongan sebagai kekuatan untuk meraih kepentingan.
Menyikapi kondisi Indonesia saat ini, mendasar sekali harus disadari bahwa potensi konflik relatif tersebabkan Agama yang dijadikan komoditi suatu kepentingan. Tahun politik hari ini menjadi ancaman berat atas kesatuan bangsa-bangsa ini. Apalagi berbagai kalangan sering kali memeralat Agama untuk menjustis kepentingannya.
Kontestasi perpolitikan Indonesia terkini, nyaris dapat diklaim dengan label politik “macan”. Segala cara dilakukan dapat dilakukan oleh macan untuk menjadi raja hutan. Begitulah rimba politik hutan berlaju di Indonesia.
Fenomena yang tak dapat diingkari bahwa kanca perpolitikan indonesia akhir-akhir ini cukup deras menebar kebencian dan cacian dari pada mengajarkan pendidikan idealisme politik yang benar-benar bersih.
Kondisi Indoensia yang demikian inilah menjadi kerasehan sosial-bersama yang kurang elok ditampakkan. Menjadi sebuah keprihatinan dan kerisauan bersama. Hampir dapat dipastikan perpolikan di Indonesia seakan-akan mempertontonkan wajah kusam seorang aktor yang krisis moralitas dan spiritualitas.
Nilai-nilai agama yang semestinya menjadi pijakan moralitas berpolitik, terdistorsi dengan segala kepentingan dan keangkuhan untuk meraih tahta dan kekuasaan.
Bagi penulis, menjaga kedamaian dan politik yang bersih bukan hanya tugas sekelompok golongan tertentu, melainkan tugas kita bersama dengan tanpa pengecualian selagi masi hidup dan makan dari bumi Indonesia.
Menghadapi pesta demokrasi 17 April 2019 mendatang, penulis menaru besar harapan bahwa mementum kali ini dijadikan kesempatan untuk menebar nilai-nilai kebangsaan, untuk membangun peradaban Indonesia yang lebih maju.
Perbedaan ras, etnis dan agama bukan menjadi sebuah halangan untuk merajut kesatuan dan persatuan dan tidak harus di pertentangkan, karena perbedaan adalah rahmat Tuhan yang di berikan kepada kita untuk saling melengkapi.
Maka dengan semangat nilai-nilai kebangsaan dan persatuan yang terus senantiasa diusahakan menjadi suatu cara untuk mearajut perubahan Indonesia yang semakin baik.
Perpolitikan di Indonesia seyogianya menjadi alat untuk merajut persatuan dan kesatuan bangsa. Agama semestinya manjadi heroin yang membuat candu akan kemaslahatan, bukan malah menjadi alat jutstifikasi utuk suatu kepentingan. Karena yang lebih penting dari politik adalah kemanusiaan.
*Penulis adalah Direktur Pusat Study Hukum dan Politik (PSHP) Indonesia.
admin
Pena Santri adalah media dedikasi Santri Pejuang NKRI