27.1 C
Indonesia
23 September 2019
Al-Minahussaniyyah (Anugerah Seumur Hidup) 1

Al-Minahussaniyyah (Anugerah Seumur Hidup)

M. Ishom el-Saha

Kitab ini berisi wasiat Rasulullah kepada Ali b. Abu Thalib. Inti dari kumpulan nasehat-nasehat Rasulullah Saw ini adalah mengajarkan manusia agar hati kita “sumeleh” (lapang, nyaman, riang, bahagia), dan mampu mendudukkan “rasa” pada tempat hakikinya.

Seringkali kita merasa kurang: kurang rejeki, kurang kesempatan, kurang mulia, dsb yang menyebabkan kita “melehke” (menyalahkan) kondisi, bahkan Tuhan sekalipun.

Tak dipungkiri dalam hati kita muncul kesimpulan seperti: koq begini, koq segini, koq gak seperti yang lainnya, dst. Hal itu disebabkan obsesi dan angan-angan kita yang keluar batas.

Melalui kitab Al-Minahussaniyyah, kita diajarkan “sumeleh” bukan “melehke”. Sebab sadirilah Allah telah memberikan anugerah sangat besar kepada kita. Anugerah itu adalah “Allah tak menutup pintu taubat buat umat manusia”.

Oleh sebab itu dalam kitab ini pertama-tama yang diajarkan ialah “istiqamah bertaubat”. Ya, taubat menjadi materi pokok dalam kitab ini sebab sejak awal Allah telah memberikan anugerah pada setiap manusia sesuai dengan kapasitas dan kemampuannya di dalam menerima anugerah.

Hanya saja kita sering tak menyadarinya sehingga kita melakukan sesuatu yang di luar batas dan merugikan sendiri. Sebagai contoh kita merasa jalan hidup kita tersendat-sendat, lalu karena tidak sabar, kita pindah haluan dan mengambil jalan pintas.

Padahal jalan hidup tersendat sengaja diciptakan Allah untuk kita agar hidup yang kita jalani lebih aman. Namun kita memilih pindah haluan dan mengambil jalan pintas, yang dapat mengakibatkan kita lupa daratan, dan mungkin memperpendek jalan hidup (umur) kita. Ibarat jalan tersendat memberi ruang dan waktu hidup kita lebih panjang, akan tetapi kita justru pingin cepat mengakhiri perjalanan hidup. Akibatnya sangat fatal.

Oleh sebab itu, mari kita ngaji kitab Al-Minahussaniyyah agar hati kita “sumeleh” dan selalu istiqamah berada dalam lajur jalan yang sudah ditentukan Allah bagi tiap-tiap manusia. Agar kita tidak bertabrakan dengan sesama makhluk, Allah telah menentukan bagi tiap-tiap manusia jalan hidupnya seperti rel kereta api atau run way kapal terbang.

Kira-kira jika kita diumpamakan pengendara, enak mana? Antara kebut-kebutan dan berebut lalu lintas dengan melintas jalur khusus?

Makanya saya ngajak di bulan Ramadhan ini bersama-sama ngaji kitab Al-Minahussaniyyah.

Pilihan Lain

Selamat datang di layanan kami Setuju Lain Kali

Privacy & Cookies Policy