28.5 C
Indonesia
15 Desember 2019
Seribu Alasan dan Fatwa Ulama Tentang Tahlil

Seribu Alasan dan Fatwa Ulama Tentang Tahlil

TAHLILAN secara bahasa  berakar dari kata hallala (هَلَّلَ) yuhallilu ( يُهَلِّلُ ) tahlilan ( تَهْلِيْلاً ) artinya adalah membaca “Laila illallah.” Istilah ini kemudian merujuk pada sebuah tradisi membaca kalimat dan doa- doa tertentu yang diambil dari ayat al- Qur’an, dengan harapan pahalanya dihadiahkan untuk orang yang meninggal dunia. Biasanya tahlilan dilakukan selama 7 hari dari meninggalnya seseorang, kemudian hari ke 40, 100, dan pada hari ke 1000 nya.

KH Abdul Manan A.Ghani, Ketua Lembaga Ta’mir Masjid PBNU, menuliskan bahwa tahlilan sering dilakukan secara rutin pada malam jum’at dan malam-malam tertentu lainnya. Bacaan ayat-ayat al-Qur’an yang dihadiahkan untuk mayit menurut pendapat mayoritas ulama’ boleh dan pahalanya bisa sampai kepada mayit tersebut.

Sejauh ini tentang praktek Tahlil menuai kontroversi di tengah masyarakat. Untuk meluruskan asumsi-asumsi miring tentangnya, penasantri.id akan merilis berbagai dalil tentang Tahlil dari beberapa tokoh dan dari berbagai sumber sebagaimana berikut.

1. IBNUL QOYYIM AL JAUZY TTG TAHLIL.

Hadiah pahala atau kirim pahala menurut Ibnu Qoyim Al Jauziyah murid utama Ibnu Taymiah, dalam kitabnya Al Ruh, Terbitan Beirut: Dar al wathan, th 1417 H, halmn 167:

افضل ما يهدى الى الميت العتق والصدقة والا ستغفارله والحج عنه واما قراءة القران واهداؤهاله تطوعا بغير اجرة فهذ يصل اليه كما يصل ثواب الصوم والحج

Artinya:
“Amal perbuatan yang paling utama DIHADIAHKAN (DIKIRIM) pahalanya kepada mayit adalah membebaskan budak, bersedekah, beristighfar untuk mayit dan haji untuknya. Adapun bacaan Al Qur’an (termasuk surat Ya Sin dan surat yang lain) dan MENGHADIAHKAN ( MENGIRIMKAN) untuk mayit secara cuma cuma maka pahalanya akan SAMPAI kepada mayit, sebagaimana pahala puasa dan ibadah haji.”

2. IMAM SYAUKANI TTG TAHLILAN.

Bagi golongan yang dikit2 bidah dikit2 haram dikit2 kafir tolong baca dulu dibawah ini.
fatwa syekh syaukani:

الْعَادَةُ الْجَارِيَةُ فِي بَعْضِ الْبُلْدَانِ مِنَ اْلاِجْتِمَاعِ فِي الْمَسْجِدِ لِتِلاَوَةِ الْقُرْآنِ عَلَى اْلأَمْوَاتِ وَكَذَلِكَ فِي الْبُيُوْتِ وَسَائِرِ اْلاِجْتِمَاعَاتِ الَّتِي لَمْ تَرِدْ فِي الشَّرِيْعَةِ لاَ شَكَّ إِنْ كَانَتْ خَالِيَةُ عَنْ مَعْصِيَةٍ سَالِمَةً مِنَ الْمُنْكَرَاتِ فَهِيَ جَائِزَةٌ ِلأَنَّ اْلاِجْتِمَاعَ لَيْسَ بِمُحَرَّمٍ بِنَفْسِهِ لاَ سِيَّمَا إِذَا كَانَ لِتَحْصِيْلِ طَاعَةٍ كَالتِّلاَوَةِ وَنَحْوِهَا وَلاَ يُقْدَحُ فِي َذَلِكَ كَوْنُ تِلْكَ التِّلاَوَةِ مَجْعُوْلَةً لِلْمَيِّتِ فَقَدْ وَرَدَ جِنْسُ التِّلاَوَةِ مِنَ الْجَمَاعَةِ الْمُجْتَمِعِيْنَ كَمَا فِي حَدِيْثِ اقْرَأُوْا يس عَلَى مَوْتَاكُمْ وَهُوَ حَدِيْثٌ صَحِيْحٌ وَلاَ فَرْقَ بَيْنَ تِلاَوَةِ يس مِنَ الْجَمَاعَةِ الْحَاضِرِيْنَ عِنْدَ الْمَيِّتِ أَوْ عَلَى قَبْرِهِ وَبَيْنَ تِلاَوَةِ جَمِيْعِ الْقُرْآنِ أَوْ بَعْضِهِ لِمَيِّتٍ فِي مَسْجِدِهِ أَوْ بَيْتِهِ اهـ (الرسائل السلفية للشيخ علي بن محمد الشوكاني ص : 46)

“Tradisi yang berlaku di sebagian negara dengan berkumpul di masjid untuk membaca al-Quran dan dihadiahkan kepada orang-orang yang telah meninggal, begitu pula perkumpulan di rumah-rumah, maupun perkumpulan lainnya yang tidak ada dalam syariah, tidak diragukan lagi apabila perkumpulan tersebut tidak mengandung maksiat dan kemungkaran, hukumnya adalah boleh. Sebab pada dasarnya perkumpulannya sendiri tidak diharamkan, apalagi dilakukan untuk ibadah seperti membaca al-Quran dan sebagainya. Dan tidaklah dilarang menjadikan bacaan al-Quran itu untuk orang yang meninggal. Sebab membaca al-Quran secara berjamaah ada dasarnya seperti dalam hadis: Bacalah Yasin pada orang-orang yang meninggal. Ini adalah hadis sahih. Dan tidak ada bedanya antara membaca Yasin berjamaah di depan mayit atau di kuburannya, membaca seluruh al-Quran atau sebagiannya, untuk mayit di masjid atau di rumahnya” (Rasail al-Salafiyah, Syaikh Ali bin Muhammad as Syaukani, 46).

3. Muhammad bin Abdul Wahhab :

ﻭﺃﺧﺮﺝ ﺳﻌﺪ ﺍﻟﺰﻧﺠﺎﻧﻲ ﻋﻦ ﺍﺑﻲ ﻫﺮﻳﺮﺓ ﻣﺮﻓﻮﻋﺎ : ﻣﻦ ﺩﺧﻞ ﺍﻟﻤﻘﺎﺑﺮ ﺛﻢ ﻗﺮﺃ ﻓﺎﺗﺤﺔ ﺍﻟﻜﺘﺎﺏ , ﻭﻗﻞ ﻫﻮ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﺣﺪ , ﻭﺃﻟﻬﺎﻛﻢ ﺍﻟﺘﻜﺎﺛﺮ, ﺛﻢ ﻗﺎﻝ : ﺇﻧﻲ ﺟﻌﻠﺖ ﺛﻮﺍﺏ ﻣﺎ ﻗﺮﺃﺕ ﻣﻦ ﻛﻼﻣﻚ ﻷﻫﻞ ﺍﻟﻤﻘﺎﺑﺮ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺆﻣﻨﻴﻦ ﻭﺍﻟﻤﺆﻣﻨﺎﺕ, ﻛﺎﻧﻮﺍ ﺷﻔﻌﺎﺀ ﻟﻪ ﺃﻟﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ. ﻭﺃﺧﺮﺝ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻌﺰﻳﺰ ﺻﺎﺣﺐ ﺍﻟﺨﻼﻝ ﺑﺴﻨﺪ ﻋﻦ ﺃﻧﺲ ﻣﺮﻓﻮﻋﺎ: ﻣﻦ ﺩﺧﻞ ﺍﻟﻤﻘﺎﺑﺮ, ﻓﻘﺮﺃ ﺳﻮﺭﺓ ﻳﺲ , ﺧﻔﻒ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﻭﻛﺎﻥ ﻟﻪ ﺑﻌﺪﺩ ﻣﻦ ﻓﻴﻬﺎ ﺣﺴﻨﺎﺕ ‏(ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻮﻫﺎﺏ ” ﻣﺆﺳﺴﺔ ﺍﻟﻔﺮﻗﺔ ﺍﻟﻮﻫﺎﺑﻴﺔ ” ﻓﻲ ﻛﺘﺎﺑﻪ ﺃﺣﻜﺎﻡ ﺗﻤﻨﻲ ﺍﻟﻤﻮﺕ)

“Sa’ad al-Zanjani meriwayatkan hadits dari Abu Hurairoh ra secara marfu’: “Barang siapa mendatangi kuburan lalu membaca surah al- Fatihah, Qul Huwallahu Ahad dan al-Hakumuttakatsur, kemudian mengatakan: “Ya Allah, aku hadiahkan pahala bacaan al-Qur’an ini bagi kaum beriman laki-laki dan perempuan di kuburan ini”, maka mereka akan menjadi penolongnya kepada Allah”. Abdul Aziz – murid dari al- Imam al-Khollal, meriwayatkan hadist dari sanadnya dari Anas bin Malik ra secara marfu’: Barangsiapa mendatangi kuburan, lalu membaca Surat Yasin, maka Allah akan meringankan siksa mereka, dan ia akan memperoleh pahala sebanyak orang-orang yang ada di kuburan itu.”
(Muhammad bin Abdul Wahhab, Ahkam Tamanni al-Maut, hal. 75).

4. TAHLIL RASULULLAH SAW.

DZIKIR DAN TAHLIL BERSAMA DI ATAS KUBURAN

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ اْلأَنْصَارِيِّ، قَالَ: خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا إِلَى سَعْدِ بْنِ مُعَاذٍ حِينَ تُوُفِّيَ، قَالَ: فَلَمَّا صَلَّى عَلَيْهِ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَوُضِعَ فِي قَبْرِهِ وَسُوِّيَ عَلَيْهِ، سَبَّحَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَسَبَّحْنَا طَوِيلاً، ثُمَّ كَبَّرَ فَكَبَّرْنَا، فَقِيلَ: يَا رَسُولَ اللهِ، لِمَ سَبَّحْتَ؟ ثُمَّ كَبَّرْتَ؟ قَالَ: ” لَقَدْ تَضَايَقَ عَلَى هَذَا الْعَبْدِ الصَّالِحِ قَبْرُهُ حَتَّى فَرَّجَهُ اللهُ عَنْهُ “

Sahabat Jabir bin Abdullah radhiyallaahu ‘anhu berkata: “Pada suatu hari kami keluar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menuju Sa’ad bin Mu’adz ketika meninggal dunia. Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menshalatinya, ia diletakkan di dalam kubur, dan kemudian diratakan dengan tanah, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca tasbih, dan kami membaca tasbih dalam waktu yang lama. Baginda membaca takbir dan kami membaca takbir pula. Kemudian baginda ditanya: “Wahai Rasulullah, mengapa engkau membaca tasbih, kemudian membaca takbir?” Baginda menjawab: “Sungguh kuburan hamba Allah yang shaleh ini benar-benar menghimpitnya, (maka aku membacanya) sehingga Allah melepaskannya dari himpitan itu.”

Hadits riwayat Ahmad dalam al-Musnad [14873, 15029], al-Hakim al-Tirmidzi dalam Nawadir al-Ushul [325], al-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Kabir [5346], dan al-Baihaqi dalam Itsbat ‘Adzab al-Qabr [113]. Hadits di atas shahih dan sanadnya bernilai hasan.

Beberapa pesan dalam hadits tersebut:

1) Dalam hadits tersebut dijelaskan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca tasbih dan takbir bersama para sahabat dalam waktu yang lama ketika pemakaman sahabat Sa’ad bin Mu’adz, hingga akhirnya Allah melepaskan himpitan alam kubur kepada beliau.

2) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat membacanya secara bersama-sama, atau secara berjamaah.

3) Dengan demikian, berarti bacaan tasbih dan takbir di atas kuburan seseorang dapat meringankan beban dan kesulitan yang dihadapinya di alam kubur. (Lihat, al-Imam al-Suyuthi, Syarh al-Shudur dan al-Imam al-Laqqani dalam al-Zahr al-Mantsur, hlm 234)..

4) Hadits di atas diamalkan oleh kaum Muslimin dengan membaca Surah Yasin dan Tahlilan bersama ketika ziarah ke makam para wali, ulama dan keluarga. Meskipun bacaan dalam hadits di atas terbatas pada tasbih dan takbir, akan tetapi al-Qur’an dan bacaan-bacaan lainnya dapat dilakukan berdasarkan dalil qiyas yang shahih.

5) Hadits di atas menjadi dalil anjuran membaca bacaan dzikir di atas kuburan untuk meringankan beban orang yang mati di alam kubur. Dzikir tersebut seperti al-Qur’an, tasbih, takbir, tahmid, tahlil, shalawat dan lain-lain.

5. MENURUT ALBANI

Baca Quran untuk orang tua yang sudah wafat oleh anaknya, dapat sampai menurut Syekh Albani:

وَخُلَاصَةُ ذَلِكَ أَنَّ لِلْوَلَدِ أَنْ يَتَصَدَّقَ وَيَصُوْمَ وَيَحُجَّ وَيَعْتَمِرَ وَيَقْرَأَ الْقُرْآنَ عَنْ وَالِدَيْهِ لِأَنَّهُ مِنْ سَعْيِهِمَا ، وَلَيْسَ لَهُ ذَلِكَ عَنْ غَيْرِهِمَا إِلَّا مَا خَصَّهُ الدَّلِيْلُ مِمَّا سَبَقَتِ الْإِشَارَةُ إِلَيْهِ . و الله أعلم . (السلسلة الصحيحة – ج 1 / ص 483)

“Kesimpulannya, bahwa ANAK BOLEH bersedekah, berpuasa, berhaji, berumrah dan MEMBACA AL-QURAN untuk kedua orag tuanya. Sebab anak merupakan usaha orang tua (An-Najm 39). Dan anak tersebut tidak bisa melakukan itu semua untuk selain orang tuanya, kecuali yang dikhususkan oleh dalil, yang telah dijelaskan” (al-Silsilah al-Sahihah, 1/483)

6. Syekh Ibnu Utsaimin juga membenarkan amalan kirim bacaan Al-Quran:

النَّاسُ عَلَى قَوْلَيْنِ مَعْرُوْفَيْنِ: أَحَدُهُمَا: أَنَّ ثَوَابَ الْعِبَادَاتِ الْبَدَنِيَّةِ مِنَ الصَّلَاةِ وَالْقِرَاءَةِ وَنَحْوِهِمَا يَصِلُ إِلَى الْمَيِّتِ كَمَا يَصِلُ إِلَيْهِ ثَوَابُ الْعِبَادَاتِ الْمَالِيَّةِ بِاْلإِجْمَاعِ وَهَذَا مَذْهَبُ أَبِي حَنِيْفَةَ وَأَحْمَدَ وَغَيْرِهِمَا وَقَوْلُ طَائِفَةٍ مِنْ أَصْحَابِ مَالِكٍ وَالشَّافِعِي وَهُوَ الصَّوَابُ لِأَدِلَّةٍ كَثِيْرَةٍ ذَكَرْنَاهَا فِي غَيْرِ هَذَا الْوَضْعِ. وَالثَّانِي: أَنَّ ثَوَابَ الْعِبَادَةِ الْبَدَنِيَّةِ لَا يَصِلُ إِلَيْهِ بِحَالٍ وَهُوَ الْمَشْهُوْرُ عِنْدَ أَصْحَابِ الشَّافِعِي وَمَالِكٍ. (مجموع فتاوى ورسائل ابن عثيمين – ج 7 / ص 159)

“Ulama memiliki 2 pendapat yang sudah populer. Pertama bahwa pahala ibadah badaniyah (tubuh/ fisik), seperti salat, membaca Quran dan lainnya bisa sampai pada mayit, seperti sampainya pahala ibadah harta (sedekah) berdasar ijma’ ulama. Ini adalah madzhab Abu Hanifah, Ahmad dan lainnya. Juga pendapat sekelompok ulama Malikiyah dan Syafiiyah. INI ADALAH PENDAPAT YANG BENAR karena banyaknya dalil yang kami sampaikan di selain bab ini. Kedua, bahwa pahala ibadah fisik (tubuh) adalah tidak sampai sama sekali. Ini pendapat yang populer ulama Syafiiyah dan Malikiyah” (Majmu’ Fatawa Wa Rasail Ibni Utsaimin 7/159)

7. Fatwa Syekh Bin Baz tentang sedekah untuk orang tua yang telah wafat, di Arab dikenal dengan nama ‘Asya’ Al-Walidain. Di negeri kami namanya selametan, berkatan dan sebagainya. Dan jelas di akhir fatwanya Syekh Bin Baz tidak mempermasalahkan nama dan istilah:

ج : الصَّدَقَةُ لِلْوَالِدَيْنِ أَوْ غَيْرِهِمَا مِنَ الْأَقَارِبِ مَشْرُوْعةٌ ؛ لِقَوْلِ النَّبِي صَلّى اللهٌ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لَمَّا سَأَلَهُ سَائِلٌ قَائِلًا : َهْل بَقِيَ مِنْ بِرِّ أَبَوَيَّ شَيْءٌ أَبَرُّهُمَا بِهِ بَعْدَ مَوْتِهِمَا ؟ قَالَ نَعَمْ الصَّلَاةُ عَلَيْهِمَا وَالْاِسْتِغْفَارُ لَهُمَا وَإِنْفَاذُ عَهْدِهِمَا مِنْ بَعْدِهِمَا وَإِكْرَامُ صَدِيْقِهِمَا وَصِلَةُ الرَّحِمِ الَّتِي لَا تُوْصَلُ إِلَّا بِهِمَا » (رواه الإمام أحمد برقم (15629) ، وأبو داود برقم (5142)) … « وَقَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا سَأَلَهُ سَائِلٌ قَائِلاً : إِنَّ أُمِّي مَاتَتْ وَلَمْ تُوْصِ أَفَلَهَا أَجْرٌ إِنْ تَصَدَّقْتُ عَنْهَا ؟ قَالَ النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَعَمْ » (رواه البخاري برقم (1388) ومسلم برقم (1004))

Sedekah untuk kedua orang tua ataupun untuk orang lain adalah sesuai dengan syariat. Sesuai dengan hadis, ketika ada sahabat bertanya: “Adakah kewajiban saya untuk berbakti kepada kedua orang tua saya setelah keduanya wafat?” Rasulullah menjawab: “Ya, yaitu mendoakan keduanya, memintakan ampunan untuk keduanyan, melakukan wasiat keduanya, memuliakan sahabatnya, dan bersilaturrahmi kepada keluarga keduanya” (HR Ahmad dan Abu Dawud) … Dan hadis ketika ada sahabat bertanya: “Ibu saya meninggal dan dia tidak berwasiat. Apakah ia akan mendapatkan pahala jika saya bersedekah atas nama ibu saya? Rasulullah Saw menjawab: “Ya” (HR Bukhari dan Muslim).

وَهَذِهِ الصَّدَقَةُ لَا َمَشاحَةَ فِي تَسْمِيَتِهَا بِعَشَاءِ الْوَالِدَيْنِ ، أَوْ صَدَقَةِ الْوَالِدَيْنِ سَوَاءٌ كَانَتْ فِي رَمَضَانَ أَوْ غَيْرِهِمَا. وَفَّقَ اللهُ الْجَمِيْعَ لِمَا يُرْضِيْهِ . (مجموع فتاوى ابن باز 13/ 253)

Sedekah ini tidak masalah disebut ‘hidangan kedua orang tua’, atau ‘sedekah orang tua’, baik di bulan Ramadlan ataupun yang lain (Kumpulan Fatwa Bin Baz 13/253)

Jadi jelas amaliah kami memiliki dukungan fatwa dari ulama Salafi dari Saudi. Jika disini pengikut Salafi masih membidahkan amaliah kami, maka konsekuwensinya mereka juga membidahkan Syekh Albani, Syekh Ibnu Utsaimin dan Syekh Bin Baz yang fatwanya tidak menguntungkan Salafi Nusantara.

8. IBNU TAIMIYAH TTG TAHLIL

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata di dalam kitab Majmu’ Al-Fatawa juz 24 halaman 367 :

ﻭﺃﻣﺎ ﺍﻟﻘﺮﺍﺀﺓ ﻭﺍﻟﺼﺪﻗﺔ ﻭﻏﻴﺮﻫﻤﺎ ﻣﻦ ﺃﻋﻤﺎﻝ ﺍﻟﺒﺮ ﻓﻼ ﻧﺰﺍﻉ ﺑﻴﻦ ﻋﻠﻤﺎﺀ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﻭﺍﻟﺠﻤﺎﻋﺔ ﻓﻲ ﻭﺻﻮﻝ ﺛﻮﺍﺏ ﺍﻟﻌﺒﺎﺩﺍﺕ ﺍﻟﻤﺎﻟﻴﺔ ﻛﺎﻟﺼﺪﻗﺔ ﻭﺍﻟﻌﺘﻖ ﻛﻤﺎ ﻳﺼﻞ ﺇﻟﻴﻪ ﺃﻳﻀﺎ ﺍﻟﺪﻋﺎﺀ ﻭﺍﻻﺳﺘﻐﻔﺎﺭ ﻭﺍﻟﺼﻼﺓ ﻋﻠﻴﻪ ﺻﻼﺓ ﺍﻟﺠﻨﺎﺯﺓ ﻭﺍﻟﺪﻋﺎﺀ ﻋﻨﺪ ﻗﺒﺮﻩ . ﻭﺗﻨﺎﺯﻋﻮﺍ ﻓﻲ ﻭﺻﻮﻝ ﺍﻷﻋﻤﺎﻝ ﺍﻟﺒﺪﻧﻴﺔ : ﻛﺎﻟﺼﻮﻡ ﻭﺍﻟﺼﻼﺓ ﻭﺍﻟﻘﺮﺍﺀﺓ . ﻭﺍﻟﺼﻮﺍﺏ ﺃﻥ ﺍﻟﺠﻤﻴﻊ ﻳﺼﻞ ﺇﻟﻴﻪ

Terjemah : adapun bacaan Al-Quran, shodaqoh dan ibadah lainnya termasuk perbuatan yang baik dan tidak ada pertentangan dikalangan ulama ahli sunnah wal jamaah bahwa sampainya pahala ibadah maliyah seperti shodaqoh dan membebaskan budak. Begitu juga dengan doa, istighfar, sholat dan doa di kuburan. Akan tetapi para ulama berbeda pendapat tentang sampai atau tidaknya pahala ibadah badaniyah seperti puasa, sholat dan bacaan. Pendapat yang benar adalah semua amal ibadah itu sampai kepada mayit.
Bahkan Syaikhul Islam ibnu Taimiyah juga menyebutkan bahwa pendapat yang mengatakan bahwa pahala bacaan Al-quran itu sampai kepada mayit adalah pendapat dari Al-Imam Abu Hanifah, Al-Imam Ahmad Bin Hanbal. Berikut ini adalah perkataan beliau dalam kitab Majmu’ Al-Fatawa :

ﻭﺗﻨﺎﺯﻋﻮﺍ ﻓﻲ ﻭﺻﻮﻝ ﺍﻷﻋﻤﺎﻝ ﺍﻟﺒﺪﻧﻴﺔ : ﻛﺎﻟﺼﻮﻡ ﻭﺍﻟﺼﻼﺓ ﻭﺍﻟﻘﺮﺍﺀﺓ . ﻭﺍﻟﺼﻮﺍﺏ ﺃﻥ ﺍﻟﺠﻤﻴﻊ ﻳﺼﻞ ﺇﻟﻴﻪ ﻓﻘﺪ ﺛﺒﺖ ﻓﻲ ﺍﻟﺼﺤﻴﺤﻴﻦ ﻋﻦ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺃﻧﻪ ﻗﺎﻝ : } ﻣﻦ ﻣﺎﺕ ﻭﻋﻠﻴﻪ ﺻﻴﺎﻡ ﺻﺎﻡ ﻋﻨﻪ ﻭﻟﻴﻪ { ﻭﺛﺒﺖ ﺃﻳﻀﺎ : } ﺃﻧﻪ ﺃﻣﺮ ﺍﻣﺮﺃﺓ ﻣﺎﺗﺖ ﺃﻣﻬﺎ ﻭﻋﻠﻴﻬﺎ ﺻﻮﻡ ﺃﻥ ﺗﺼﻮﻡ ﻋﻦ ﺃﻣﻬﺎ { . ﻭﻓﻲ ﺍﻟﻤﺴﻨﺪ ﻋﻦ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺃﻧﻪ ﻗﺎﻝ ﻟﻌﻤﺮﻭ ﺑﻦ ﺍﻟﻌﺎﺹ : } ﻟﻮ ﺃﻥ ﺃﺑﺎﻙ ﺃﺳﻠﻢ ﻓﺘﺼﺪﻗﺖ ﻋﻨﻪ ﺃﻭ ﺻﻤﺖ ﺃﻭ ﺃﻋﺘﻘﺖ ﻋﻨﻪ ﻧﻔﻌﻪ ﺫﻟﻚ { ﻭﻫﺬﺍ ﻣﺬﻫﺐ ﺃﺣﻤﺪ ﻭﺃﺑﻲ ﺣﻨﻴﻔﺔ ﻭﻃﺎﺋﻔﺔ ﻣﻦ ﺃﺻﺤﺎﺏ ﻣﺎﻟﻚ ﻭﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ

Terjemah : para ulama berbeda pendapat tentang sampai atau tidaknya pahala ibadah badaniyah seperti puasa, sholat dan bacaan. Pendapat yang benar adalah semua amal ibadah itu sampai kepada mayit. Karena diriwayatkan bahwa nabi pernah bersabda “barang siapa yang meninggal dan dia punya hutang puasa maka boleh bagi walinya untuk berpuasa atas si mayit”. Dan ini adalah pendapat ahmad bin hanbal, abu hanifah dan beberapa ulama malikiyah dan syafiiyah. Bagaimana suta jaya??? Ente menafsirkan quran hadits menurut pendpt nte sndr, itu tempatnya neraka. Rasulullah saw bersabda : Barang siapa menafsirkan dg pendapatnya sendiri maka tempatnya adlah neraka. Takutlah pd Allah, suta jaya, agar tdk menyesatkan umat islam.

9. IMAM SYAFI’I RA

قَالَ الشَّافِعِي وَاْلأَصْحَابُ يُسْتَحَبُّ أَنْ يَقْرَؤُوْا عِنْدَهُ شَيْئًا مِنَ اْلقُرْآنِ قَالُوْا فَإِنْ خَتَمُوْا الْقُرْآنَ كُلَّهُ كَانَ حَسَنًا (الأذكار النووية 1 / 162 والمجموع للشيخ النووي 5 / 294).

“Imam Syafi’i dan ulama Syafi’iyah berkata: Disunahkan membaca sebagian dari al-Quran di dekat kuburnya. Mereka berkata: Jika mereka mengkhatamkan al-Quran keseluruhan, maka hal itu dinilai bagus”

(al-Majmu’ V/294)

10. IMAM AHMAD BIN HAMBAL RA.

( وَتُسْتَحَبُّ قِرَاءَةٌ بِمَقْبَرَةٍ ) قَالَ الْمَرُّوذِيُّ : سَمِعْتُ أَحْمَدَ يَقُولُ : إذَا دَخَلْتُمْ الْمَقَابِرَ فَاقْرَءُوا بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَالْمُعَوِّذَتَيْنِ ، وَقُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ، وَاجْعَلُوا ثَوَابَ ذَلِكَ إلَى أَهْلِ الْمَقَابِرِ ؛ فَإِنَّهُ يَصِلُ إلَيْهِمْ ، وَكَانَتْ هَكَذَا عَادَةُ الْأَنْصَارِ فِي التَّرَدُّدِ إلَى مَوْتَاهُمْ ؛ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ (مطالب أولي النهى في شرح غاية المنتهى – ج 5 / ص 9)

Dianjurkan baca al-Quran di Kubur. Ahmad berkata ”Jika masuk kubur bacalah Fatihah, al-Ikhlas, al-Falaq dan an-Nas, hadiahkan untuk ahli kubur, maka akan sampai. Inilah kebiasaan sahabat Anshor” (Mathalib Uli an-Nuha 5/9).

( وَتُسْتَحَبُّ قِرَاءَةٌ بِمَقْبَرَةٍ ) قَالَ الْمَرُّوذِيُّ : سَمِعْتُ أَحْمَدَ يَقُولُ : إذَا دَخَلْتُمْ الْمَقَابِرَ فَاقْرَءُوا بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَالْمُعَوِّذَتَيْنِ ، وَقُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ، وَاجْعَلُوا ثَوَابَ ذَلِكَ إلَى أَهْلِ الْمَقَابِرِ ؛ فَإِنَّهُ يَصِلُ إلَيْهِمْ ، وَكَانَتْ هَكَذَا عَادَةُ الْأَنْصَارِ فِي التَّرَدُّدِ إلَى مَوْتَاهُمْ ؛ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ (مطالب أولي النهى في شرح غاية المنتهى – ج 5 / ص 9)

Dianjurkan baca al-Quran di Kubur. Ahmad berkata ”Jika masuk kubur bacalah Fatihah, al-Ikhlas, al-Falaq dan an-Nas, hadiahkan untuk ahli kubur, maka akan sampai. Inilah kebiasaan sahabat Anshor” (Mathalib Uli an-Nuha 5/9).

Berdasarkan beberapa dalil yang telah dikemukakan di atas, kiranya cukup sebagai keterangan yang jelas bagi kita semua tentang Tahlil seutuhnya. Maka, bagi orang yang beriman satu dalil telah cukup baginya. Tapi bagi orang yang tertutup hatinya seribu dalil tidak bisa membukakan hatinya. Karena yang dibutuhkan adalah hanya HIDAYAH dari Allah swt.

Pilihan Lain

Selamat datang di layanan kami Setuju Lain Kali

Privacy & Cookies Policy