24 September 2020

Ali Bin Abu Thalib Mengalah, Kenapa Khawarij Marah?

M. Ishom el-Saha

Manusia hanya berusaha sebab Allah yang Maha Kuasa! Itulah sikap yang diyakinkan Ali b. Abu Thalib kepada para pengikutnya ketika kalah secara dramatis dalam peristiwa tahkim (perundingan) antara dirinya dengan Mu’awiyah.

Padahal dalam perang Shiffin kelompok Ali nyaris mengalahkan kelompok Mu’awiyah. Hanya saja beliau menerima tawaran genjatan senjata yang diajukan kelompok Mu’awiyah sebab mereka tak menginginkan jatuh korban yang lebih banyak dari para sahabat Nabi yang ikut berperang.

Untuk menyudahi konflik, mereka sepakat menyelesaikan masalah dengan aturan main yang disepakati. Masing-masing menyutujui apapun hasil tahkim sesuai kesepakatan yang dibuat. Sebagai juru runding Ali b. Abu Thalib menunjuk Abu Musa al-Asy’ari. Sedangkan Muawiyah menunjuk Amru b. Ash.

Kesempatan pertama untuk menyampaikan pendapat diberikan kepada Abu Musa al-Asy’ari sebab dianggap lebih tua. Beliu menyatakan bahwa Ali b. Abu Thalib telah menyerahkan urusan kepemimpinan kepada umat Islam.

Rupanya pernyataan Abu Musa al-Asy’ari dimanfaatkan oleh Amru b. ‘Ash sebagai wakil Mu’awiyah yang diberikan kesempatan menyampaikan sambutan terakhir. Kata ‘Amru b. Ash: “dikarenakan pihak Ali telah menyerahkan urusan kepemimpinan kepada umat Islam, berarti telah terjadi kekosongan kepemimpinan. Oleh sebab itu mulai saat ini kita angkat Mu’awiyah sebagai khalifah.

Tentunya hasil perundingan ini sangat merugikan kelompok Ali. Akan tetapi karena secara prosedural “konstitusional” perundingan telah dilaksanakan maka kelompok Ali b. Abu Thalib tak bisa berbuat banyak. Ali b. Thalib menerima kekalahan pahit itu.

Seorang pengatur strategi dari pihak Ali –yang bernama Qais b. Saad b. Ubadah– juga melakukan “pidato kekalahan”. Pernyataan beliau di hadapan pendukung Ali: “Kita tak mungkin bisa dikalahkan Mu’awiyah, melainkan Allah Yang Maha Kuasa-lah yang menghendaki semua itu terjadi. Saya bisa saja melakukan kegaduhan, tapi agama saya (Islam) melarang!”

Betapa dirugikan pihak Ali b. Abu Thalib dalam peristiwa perundingan yang dramatis ini. Tapi menariknya Ali b. Abu Thalib tidak melawan dan menerima keputusan hasil Tahkim pasca Perang Siffin itu.

Beliau menyadari bahwa perundingan adalah jalan terbaik sebab musyawarah adalah ajaran Islam. Firman Allah Swt: “Dan masalah di antara kalian, di-musyawarah-kanlah! Dan jika kamu mempunyai citi-cita maka ber-tawakkal-lah kepada Allah” (QS. Ali Imran: 153).

Ali b. Abu Thalib mengalah dan menyerahkan urusannya (tawakkal) kepada Allah. Namun herannya justru ada sekelompok massa yang tak terima dengan sikap beliau itu. Mereka itulah yang disebut sebagai kelompok pembelot (Khawarij), yang menarik diri mendukung Ali b. Abu Thalib.

Mereka musuhi semua pihak yang terlibat dan menerima hasil Tahkim. Mereka berbuat huru-hara dan merancang pembunuhan tokoh-tokoh Islam.

Ali b. Abi Thalib yang mengalah-pun dihabisi nyawanya oleh Abdurrahman b. Muljam, seorang Khawarij yang tak percaya dengan ajaran Islam seputar pentingnya musyawarah (demokrasi) dan tawakkal kepada Allah. Semoga kita diselamatkan dari kebangkitan Khawarij!

Pilihan Lain

Selamat datang di layanan kami Setuju Lain Kali

Privacy & Cookies Policy