23 September 2020

Amin

Bisakah, lima waktu rakaat salat kujadikan tiang penyangga imananku yang mulai tumbang lantaran  akhir zaman serta insan menyulap Islam menjadi batu nisan dan obsesi hiburan?. Tuhan, “ashshalatu  eimaduddini” adalah sepatah kata arab yang selalu  aku ikat dengan erat untuk  kujadikan alat,  syafaat kala kau mau  menjeratku  ke  jalan yang  sesat.
 
Cukupkah segenggam zakat yang kutuniakan dijadikan  tebusan atas siksaan yang kau janjikan terhadap kemunafikan dan kemungkaran yang senantiasa kukerjakan? Bukankan  ada kejelasan dari pewaris  utusan “segantang beras  di  akhir Ramadlan  akan menghilangkan kotoran kehidupan dan akan  menjadi tebusan akan dosa yang  dilakukann,”
 
Akankah tiga puluh siang ramadan cukup syarat untuk jadikan air siram akan Islamku yang kian kusam setalah berbulanbulan bermandi kekufuran?
 
Dapatkah tahajjud malam dan dluha siang kugadaikan dengan segelas zamzam dan setangkai durian kala di makhsyar semua insan dikumpulkan untuk menanti keputusan diantara dua tempat keabadian?
 
Tuhan,  hal min taaibin?, hal  min  mustaghfirin?  aku  masih ingat akan keadilan yang kau janjikan  untuk  memberi ampunan  kesetian insan yang datang dipematang  malam, dan  aku masih betulbetul  ingat  “kau tak akan berhianat”

Pilihan Lain

Selamat datang di layanan kami Setuju Lain Kali

Privacy & Cookies Policy