Apa Itu GUSDURian?

Spread the love
Gusdurian Sumenep
GUSDURian
Gusdurian adalah sebutan untuk para murid, pengagum, dan penerus pemikiran dan perjuangan Gus Dur. Para GUSDURian mendalami pemikiran Gus Dur, meneladani karakter dan prinsip nilainya, dan berupaya untuk meneruskan perjuangan yang telah dirintis dan dikembangkan oleh Gus Dur sesuai dengan konteks tantangan zaman. 
Apa itu Jaringan gusdurian?
Jaringan gusdurian adalah arena sinergi bagi para gusdurian di ruang kultural dan non politik praktis. Di dalam jaringan gusdurian tergabung individu, komunitas/forum lokal, dan organisasi yang merasa terinspirasi oleh teladan nilai, pemikiran, dan perjuangan Gus Dur. Karena bersifat jejaring kerja, tidak diperlukan keanggotaan formal.
Jaringan gusdurian memfokuskan sinergi kerja non politik praktis pada dimensi-dimensi yang telah ditekuni Gus Dur, meliputi 4 dimensi besar: Islam dan Keimanan, Kultural, Negara, dan Kemanusiaan.
Apa Misi Jaringan Gusdurian?
Nilai, pemikiran, perjuangan GusDur tetap hidup dan mengawal pergerakan kebangsaan Indonesia;  melalui sinergi karya para pengikutnya, dilandasi 9 Nilai Gus Dur: Ketauhidan, Kemanusiaan, Keadilan, Kesetaraan, Pembebasan, Persaudaraan, serta Kesederhanaan, Sikap Ksatria, dan Kearifan Tradisi.
Apa itu 9 Nilai Gus Dur?
Jawabannya ada di www.gusduriansumenep.net atau di https://www.facebook.com › GUSDURIAN SUMENEP detailnya lihat di Halaman Berikutnya ||
Apa saja isu strategi yang ditangani oleh Jaringan Gusdurian?
Sebagaimana Gus Dur yang mendasarkan perjuangannya kepada nilai-nilai luhur, jaringan gusdurian tidak membatasi isu yang dikelola, sepanjang terkait dengan 9 Nilai Gus Dur.  Saat ini jaringan gusdurian berkonsentrasi pada isu-isu kebangsaan, pendidikan, dan ekonomi rakyat.
Menginjak tahun 2013, beberapa isu strategis yang menjadi perhatian jaringan gusdurian adalah NU & Pesantren, Islam Indonesia, Intolerasi , Pemiskinan dan Pembangunan Ekonomi,  serta Transisi Demokrasi.
Di mana Jaringan Gusdurian berada?
Jaringan gusdurian tidak terikat tempat, karena para gusdurian alias anak-anak ideologis Gus Dur tersebar di berbagai penjuru Indonesia, bahkan di manca negara. Di beberapa tempat, terbentuk komunitas-komunitas lokal, namun sebagian besar terhubung melalui forum dan dialog karya.
Munculnya komunitas gusdurian lokal banyak dimotori oleh gusdurian generasi muda (angkatan 2000an), yang bersemangat untuk berkumpul mendalami dan mengambil inspirasi dari teladan Gus Dur. Setidaknya sekitar 60an komunitas gusdurian lokal telah dirintis sampai akhir tahun 2012.
Untuk merangkai kerja bersama dalam arena Jaringan Gusdurian, dibentuklah Sekretariat Nasional Jaringan GUSDURian. Amanah yang diemban adalah menjadi penghubung dan pendukung kerja-kerja para gusdurian di berbagai penjuru.
Apa yang sudah dilakukan oleh Jaringan Gusdurian?
Dalam menjalankan amanah jaringan, SekNas JGD memfokuskan diri pada program-program penyebaran gagasan, memfasilitasi konsolidasi jaringan, memberikan dukungan pada upaya (program) lokal, program kaderisasi, dan peningkatan kapasitas jaringan.
Selain itu, SekNas juga menjadi koordinator untuk program-program bersama lintas komunitas gusdurian, serta menginisiasi kelas-kelas khusus terkait jaringan. Beberapa di antaranya:
·         Kelas Pemikiran Gus Dur
·         Forum kajian dan diskusi
·         Kampanye Anti Korupsi
·         Pelatihan entrepreneurship
·         Forum budaya
·         Workshop Social Media
·         Koperasi Jaringan Gusdurian
Sedangkan kegiatan-kegiatan advokasi dilakukan melalui organisasi-organisasi yang berafiliasi dengan jaringan gusdurian dalam bentuk dukungan kerja yang bersifat khas. Misalnya untuk respons insiden Sampang melalui CMARs Surabaya, dan seterusnya.

9 NILAI UTAMA GUS DUR

1. Ketauhidan

Ketauhidan bersumber dari keimanan kepada Allah sebagai yang Maha Ada, satu-satunya Dzat hakiki yang Maha Cinta Kasih, yang disebut dengan berbagai nama. Ketauhidan didapatkan lebih dari sekadar diucapkan dan dihafalkan, tetapi juga disaksikan dan disingkapkan. Ketauhidan menghujamkan kesadaran terdalam bahwa Dia adalah sumber dari segala sumber dan rahmat kehidupan di jagad raya. Pandangan ketauhidan menjadi poros nilai-nilai ideal yang diperjuangkan Gus Dur melampaui kelembagaan dan birokrasi agama. Ketauhidan yang bersifat ilahi itu diwujudkan dalam perilaku dan perjuangan sosial, politik, ekonomi, dan kebudayaan dalam menegakkan nilai-nilai kemanusiaan.

2. Kemanusiaan

Kemanusiaan bersumber dari pandangan ketauhidan bahwa manusia adalah mahluk Tuhan paling mulia yang dipercaya untuk mengelola dan memakmurkan bumi. Kemanusiaan merupakan cerminan sifat-sifat ketuhanan. Kemuliaan yang ada dalam diri manusia mengharuskan sikap untuk saling menghargai dan menghormati. Memuliakan manusia berarti memuliakan Penciptanya, demikian juga merendahkan dan menistakan manusia berarti merendahkan dan menistakan Tuhan Sang Pencipta. Dengan pandangan inilah, Gus Dur membela kemanusiaan tanpa syarat.

3. Keadilan

Keadilan bersumber dari pandangan bahwa martabat kemanusiaan hanya bisa dipenuhi dengan adanya keseimbangan, kelayakan, dan kepantasan dalam kehidupan masyarakat. Keadilan tidak sendirinya hadir di dalam realitas kemanusiaan dan karenanya harus diperjuangkan. Perlindungan dan pembelaan pada kelompok masyarakat yang diperlakukan tidak adil, merupakan tanggungjawab moral kemanusiaan. Sepanjang hidupnya, Gus Dur rela dan mengambil tanggungjawab itu, ia berpikir dan berjuang untuk menciptakan keadilan di tengah-tengah masyarakat.

4. Kesetaraan

Kesetaraan bersumber dari pandangan bahwa setiap manusia memiliki martabat yang sama di hadapan Tuhan. Kesetaraan meniscayakan adanya perlakuan yang adil, hubungan yang sederajat, ketiadaan diskriminasi dan subordinasi, serta marjinalisasi dalam masyarakat. Nilai kesetaraan ini, sepanjang kehidupan Gus Dur, tampak jelas ketika melakukan pembelaan dan pemihakan terhadap kaum tertindas dan dilemahkan, termasuk di dalamnya adalah kelompok minoritas dan kaum marjinal.

5. Pembebasan

Pembebasan bersumber dari pandangan bahwa setiap manusia memiliki tanggungjawab untuk menegakkan kesetaraan dan keadilan, untuk melepaskan diri dari berbagai bentuk belenggu. Semangat pembebasan hanya dimiliki oleh jiwa yang merdeka, bebas dari rasa takut, dan otentik. Dengan nilai pembebasan ini, Gus Dur selalu mendorong dan memfasilitasi tumbuhnya jiwa-jiwa merdeka yang mampu membebaskan dirinya dan manusia lain.

6. Kesederhanaan

Kesederhanaan bersumber dari jalan pikiran substansial, sikap dan perilaku hidup yang wajar dan patut. Kesederhanaan menjadi konsep kehidupan yang dihayati dan dilakoni sehingga menjadi jati diri. Kesederhanaan menjadi budaya perlawanan atas sikap berlebihan, materialistis, dan koruptif. Kesederhanaan Gus Dur dalam segala aspek kehidupannya menjadi pembelajaran dan keteladanan.

7. Persaudaraan

Persaudaraan bersumber dari prinsip-prinsip penghargaan atas kemanusiaan, keadilan, kesetaraan, dan semangat menggerakkan kebaikan. Persaudaraan menjadi dasar untuk memajukan peradaban. Sepanjang hidupnya, Gus Dur memberi teladan dan menekankan pentingnya menjunjung tinggi persaudaraan dalam masyarakat, bahkan terhadap yang berbeda keyakinan dan pemikiran.

8. Keksatriaan

Keksatriaan bersumber dari keberanian untuk memperjuangkan dan menegakkan nilai-nilai yang diyakini dalam mencapai keutuhan tujuan yang ingin diraih. Proses perjuangan dilakukan dengan mencerminkan integritas pribadi: penuh rasa tanggung jawab atas proses yang harus dijalani dan konsekuensi yang dihadapi, komitmen yang tinggi serta istiqomah. Keksatriaan yang dimiliki Gus Dur mengedepankan kesabaran dan keikhlasan dalam menjalani proses, seberat apapun, serta dalam menyikapi hasil yang dicapainya.

9. Kearifan Lokal

Kearifan lokal bersumber dari nilai-nilai sosial-budaya yang berpijak pada tradisi dan praktik terbaik kehidupan masyarakat setempat. Kearifan lokal Indonesia di antaranya berwujud dasar negara Pancasila, Konstitusi UUD 1945, prinsip Bhineka Tunggal Ika, dan seluruh tata nilai kebudayaan Nusantara yang beradab. Gus Dur menggerakkan kearifan lokal dan menjadikannya sebagai sumber gagasan dan pijakan sosial-budaya-politik dalam membumikan keadilan, kesetaraan, dan kemanusiaan, tanpa kehilangan sikap terbuka dan progresif terhadap perkembangan peradaban.
Jangan Lupa IKUTI KPG
KPG (Kelas Pemikiran Gusdur) adalah arena belajar tentang perjuangan, pemkiran, dan nilai-nilai utama Gus Dur. Kelas ini dibuat untuk mewadahi anak-anak muda yang tertarik untuk melanjutkan perjuangan dan pemikiran Gus Dur. Di Yogyakarta, tahun 2018 menjadi kali keenam KPG dilaksanakan. KPG sebelum-sebelumnya dilaksanakan pada rentang waktu 2012-2016. Di Jakarta KPG sudah Menjelang putaran yang ke 4. Garuda Malang sudah di angka ke 5. Sedang di Sumenep baru ke-II kalinya melaksanakan KPG. Maka, saatnya kalian melanjutkan.
(GUSDUR Telah Meneladankan, Saatnya Kita Melanjutkan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: