26 November 2020

Arkoun; Logosentrisme dan Dekontruksi Ideologis

Oleh Amhad Fairozi


Arkoun lahir pada tanggal 2 Januari 1928 M. dalam keluarga biasa di perkampungan Berber yang berada di sebuah desa di kaki-gunung Taorirt-Mimoun, Kabilia, sebelah timur Al-Jir, Al-Jazair. Ibunya buta huruf. Pendidikan dasar Arkoun ditempuh di desa asalnya, dan kemudian, Arkoun melanjutkan studi bahasa dan sastra Arab di Universitas Al-Jir (1950-1954), bersamaan dengan itu, Arkoun mengajar bahasa Arab di Sekolah Menengah Atas al-Harach.

Setelah itu Arkoun melanjukan studi tentang bahasa dan sastra Arab di Universitas Sorbonne, Paris. Ketika itu Al-Jazair sedang mengalami perang dengan Perancis (1954-1962). Pada tahun 1961-1969 M. Arkoun diangkat sebagai dosen di Universitas Sorbonne, Paris bersamaan dengan program doktornya mengenai humanisme dalam pemikiran etis Miskawaih (w. 1030 M), seorang pemikir Arab di Persia pada abad X M yang menekuni kedokteran dan filsafat. Kajiannya terhadap Miskawai menghasilkan banyak karya yang dipengaruhi oleh perkembangan mutakhir tentang Islamologi, Filsafat, ilmu bahasa dan ilmu-ilmu sosial di dunia Barat, terutama di dunia tradisi keilmuan Perancis.

Arkoun telah menulis jurnal terkemuka seperti Arabica (Leiden/Paris), Studia Islamica (Paris),Islamo-Christiana (Vatican), Diogene (Paris), Maghreb-Machreq (Paris), Ulumul Qur’an (Jakarta), di beberapa buku dan ensiklopedi. Oleh karena, kajian dan ideologi Arkoun banyak diperngaruhi Miskawai dan Prancis, maka tak ayal apabila arkoun mengemukakan pandangan besarnya terhadap mandeknya pradaban Islam, tersebabkan karen Islam terjebak pada logosentrisme. Dari ideologi dan anggapan ini ia mulai banyak melakukan pembaharuan terhadap artikulasi pradaban, interpretasi teks dan bahkan ia perkemuka sebagai satu-satunya tokoh Muslim pertama di Univensitas Prancis yang telah mengevaluasi para plopor modernisme.

Logosentrisme dan Dekontruksi Ideologisasi

Dalam perspektif Arkoun, kegagalan peradaban  modern, ketimpangan sosial, terjadinya caos dan kriminalitas yang menjadi perwajahan dunia abad terkini, tidak lain disebabkan karena ideologi logosenrtisme yang berlebihan. Kegelisahan Arkoun akan hal yang demikian didasarkan padapembacaannya terhadap praktek dikotomi-dikotomi di dalam masyarakat, khususnya masyarakat Muslim. Dikotomi tersebut secara garis besar banyak bersentuhan dengan persoalan-persoalanparticularity versus (vs) universality, dan marginality vs centrality. Problem-problem ini tampak tercermin dari adanya pemetakan dunia yang diciptakan oleh mainstrem pemikiran masyarakat itu sendiri.  Pembagian entitas dan etnik yang berhadap-hadapan, seperti Sunni dengan Syi’i, kaum mistik dengan kaum tradisionalis, Muslim dengan non-Muslim, Berber (non-Arab) dengan Arab, Afrika (Asia) denganEropa dan sebagainya, telah meniscayakan adanya status quo, sukuisme dan sektarian yang menjadi pemicu konflik (Lihat Mohammed Arkoun, Rethinking Islam Today).

Oleh karena itu, dunia yang digagas oleh Arkoun adalah dunia yang tidak ada pusat, tidak ada pinggiran, tidak ada kelompok Borjuis, tidak ada kelompok Ploleteral (dalam kasus kapitalis), tidak ada kelompok yang superior dan tidak ada kelompok yang inferior di dalam kasus Amirica kaitannya dengan negara lain yang mengaku dirinya sebagai Adi Kuasa. Maka dari itu Arkoun mengajukan pertanyaan kritis kepada kita: “Bagaimana seluruh manusia bisa menjadi diri mereka sendiri dengan identitas mereka sendiri tanpa menyendiri dari tetangga-tetangga dan sesama manusia lainnya?” Bagi orang Islam, Arkoun bertanya-tanya, “Dapatkah identitas-identitas Muslim itu didamaikan dengan identitas-identitas non-Muslim?”

Dari itu, dalam ikhwal teks suci Islam wal Muslimin, al-Qur’an, Arkoun memahami al-Qur’an bukanlah sebagai korpus yang paten. Mushaf yang kita miliki sekarang bukanlah al-Qur’an sebagaimana yang diwahyukan Tuhan kepada Muhammad. Al-Qur’an yang kita baca hari ini telah mengalami tiga kali derifasi. Pertama, wahyu sebagai Firman Allah yang transenden, tidak terbatas dan tidak diketahui oleh manusia. Untuk menunjuk realitas wahyu seperti ini, kita meyakini al-Qur’an yang terdapat  di al-Lauh al-Mahfudh atau Umm al-KitabKedua, wahyu yang diturunkan dalam bentuk pengujaran lisan dalam realitas sejarah yang disebut sebagai discours religious dan berfragmen dalam bentuk bahasa dan linguistik. Ini terjadi pada ashrul wahyi wa at-takwin di mana bangsa Arab terpilih menjadi letak geografis turunnya wahyu. Anggitan ini telah menurunkan drajat wahyu yang transinden kepada tingkatan linguistik, historis, sisologis hingga antropologis. Dan Ketiga, wahyu yang direkam dalam catatan/lembaran kertas yang kita baca saat ini. Anggitan ini oleh Nasr Hanid disebut sebagai korpus sejarah/teks.

Dalam perspektif Arkoun, teks kita hari ini telah kehilangan banyak hal, terutama sakralitas wahyu dan kedua situasi pembicaraan. (sementara asbab an-nuzul tidak dapat mengembalikan hal-hal yang hilang ketika suatu pembicaraan dipelintirkan ke dalam tulisan). Penulis sepakat dengan tesa Arkoun yang demikian. Sebab, segala apa yang verbalis apabila berubah menjadi teks literalis, setidaknya situasi dan kondisi, intonasi, ekspresi, artikulasi, penjiwaan hingga penghayatan terhadap suatu ungkapan samasekali tidak terejawantahkan.  Padahal, hal terkecil yang demikian ini, mempunyai arti dan penilaian tersendiri bila kita umpamakan pada pengujaran bahasa sastra, amtsal puisi, roman dan kisah.

Mengingat sakralitas wahyu yang transinden, masihkah kita akan memaksakan al-Qur’an untuk dipahami secara literalis? Akankah kita mencukupkan pada tafsir al-Qur’an ala mufassir pendahulu kita? Tidak adakah kemungkinan bagi kita untuk memahami dan mengkaji al-Qur’an berdasarkan  kemampuan kita sendiri? Atau membuat madzhab tafsir sendiri. Dalam konteks aqidah dan agama, masikah kita akan ego dan selalu membenarkan keislaman kita? Benarkah Islam sepeti apa yang kita pertontonkan dalam gerak-gerik keseharian kita? Siapa yang menjamin kebenaran Islam kita? Siapa? Lalu kenapa kita masih ego dan leha-leho, tidak pernah memperbaiki diri dan mencari jati diri keberagamaan kita? Kenapa? Kita sadar tidak?

Pertanyaan ini telah dijawab oleh Arkoun dalam teori tafsir independnnya. Baginya semua orang berhak menerjemahkan kebenaran agamanya sendiri. Semua orang berhak menginterpretasi teks. Semua orang berkewajiban menciptakan keseimbangan dan kedamaian, tanpa menyalahkan banyak orang, melalui strategi dekonstruksi yang ia tawarkan. Dan hal ini hanya mungkin dilakukan dengan epistemologi modern yang kritis. Dengan demikian, nalar (reason) harus dibebaskan dari ontologi,transendentalisme, dan substansionalisme yang memenjarakannya, terutama sekali menjauhkan diri dari ideologi logosentris.

Sehingga tak ayal apabila Arkoun terus mencoba pemahaman-pemahaman yang baru tentang Islam dan kaum Muslim dengan menggunakan teori-teori mutakhir yang berkembang di dunia Barat modern. Upaya tersebut dilakukan Arkoun untuk memadukan unsur yang sangat mulia di dalam pemikiran Islam dengan unsur yang sangat berharga di dalam pemikiran Barat modern (rasionalitas dan sikap kritis). Dari tawaran metode yang demikian, Arkoun berharap akan muncul suatu pemikiran yang bisa memberikan jawaban atas berbagai persoalan yang dihadapi oleh kaum Muslim akhir-akhir ini dan dapat membebaskannya dari belenggu yang mereka buat sendiri.

Bangunanan epistimologi Arkoun berbeda dengan Hassan Hanafi yang lebih kental dengan kalam dan filsafat, berbeda dengan Sayyid Hussein Nasr yang lebih menonjolkan tasawwuf dan rasionalitas filsafat pun juga berbeda dengan Ismail Raji al-Faruqi dan Syed Muhammad Naquib al-Attas yang lebih bernuansa islamisasi ilmu pengetahuan. Menelaah Arkoun berarti sudah selesai mengevaluasi tokoh modernis Fazlur Rahman yang dan Muhammad Abduh. Arkoun bahkan juga mengkritik pemikiran Taha Husein dan Ali Abd Raziq sebagai pemikiran yang tidak didasarkan pada kebijaksanaan untuk mencari kompromi antara kebebasan intelektual yang tercerahkan dengan prasangka-prasangka keagamaan dari massa.

Apabila dicermati, pemikiran Arkoun tersebut ternyata banyak dipengaruhi ilmuwan-ilmuwan Perancis seperti Paul Ricoeur dalam episteme, discours dan archeology, Michel Fouchault dalam signifiantdan signifie, Jack Derrida dalam deconstruction, unthought (l’impense), unthinkable (l’impensable) danthinkable (le pense)Di samping itu, juga oleh ahli bahasa Swiss, Ferdinand de Saussure, antropolog Inggris, Jack Goody, ahli sastra Kanada, Northtrop Frye, dan sebagainya.

Ideologi yang Arkoun tawarkan lebih pada dekontruksi Ideologisasi. Menurutnya Islam yang selalu memanjakan dirinya dengan Agama yang paling diridlai Tuhan, pengakuan barat yang superior dan paling modern, penggolongkan Islam wa Muslimin pada kelompok klasik dan terbelakang, hanyalah ideologi dan epistimologi yang dibuat-buat sendiri. Dan pada akhirnya, kalangan  yang sudah mengaku paling benar akan sombong dan arogan, yang mengklaim dirinya paling kuat adalah suatu cara untuk mengkerdilkan yang lain. Klaim Islam yang terbelakang berhasil membuat Muslimin mender. Namun kenapa hari ini semakin banyak manusia yang suka memetak-metakkan bukan malah mencari kesamaan dan kebersamaan? Beginikah permainan dunia mutakhir?


*mahasiswa semister V jurusan Tafsir dan Hadits.


Bisa ditemui di pusda.lgs@gmail.com

Pilihan Lain

Selamat datang di layanan kami Setuju Lain Kali

Privacy & Cookies Policy