1 Desember 2020

Asal Mula “Rihlatas syita’ Wasshoif

Oleh: Ustaz Muafa (Mokhamad Rohma Rozikin/M.R.Rozikin)

Suatu saat, suku Quraisy mengalami krisis ekonomi yang parah. Demikian parahnya kondisi perekonomian waktu itu, sampai-sampai ada satu keluarga yang memutuskan untuk bunuh diri massal. Keputusan ini dilakukan karena mereka tidak punya makanan untuk bertahan hidup dan mereka juga tidak ingin mengemis atau meminta-minta yang dianggap akan menjadi aib mereka seumur hidup. Cara bunuh diri mereka adalah dengan menutup pintu dan mengurung diri di rumah, lalu menunggu masing-masing anggota keluarga dijemput kematian satu demi satu.

Kita tahu, Mekah yang menjadi tempat tinggal suku Quraisy adalah tempat yang tandus. Bentang alam semacam itu sangat tidak cocok untuk bekerja di sektor pertanian. Usaha dalam bidang peternakan juga masih sangat terbatas, sehingga belum sanggup memenuhi kebutuhan agregratif masyarakat Quraisy. Karena itu, sektor yang paling mungkin dijadikan andalan adalah bidang perdagangan. Di sinilah bisa dipahami mengapa masyarakat Quraisy mayoritas berprofesi sebagai pedagang.

Hanya saja, bangsa-bangsa di luar juga tidak tertarik menjalin hubungan perdagangan dengan suku Quraisy. Disamping posisi Mekah yang lumayan terlalu masuk di area Hijaz, mereka juga tidak mau ambil resiko digarong oleh suku-suku Arab pedalaman di padang pasir yang sepi. Oleh karena itu wajarlah jika bangsa-bangsa yang lebih maju peradabannya seperti Romawi, Persia, Habasyah dan Yaman tidak ada yang tertarik menjalin hubungan perdagangan dengan suku Quraisy.

Demi melihat problem ini, maka bangkitlah salah satu pemuda Quraisy yang memiliki jiwa kepemimpinan dan kenegarawanan tinggi untuk menyelesaikan problem krisis ekonomi tersebut. Pemuda ini terkenal dengan julukan Hasyim (هاشم). Dengan intuisi politiknya yang tajam, dan semangatnya untuk membantu yang lemah, serta upayanya mewujudkan kesejahteraan merata di tengah-tengah masyarakat Quraisy, dia menggagas untuk menjalin hubungan diplomatik dengan negara-negara tetangga. Gagasan Hasyim adalah mendatangi raja-raja tetangga untuk membuat perjanjian perdagangan sekaligus kesepakatan jaminan keamanan. Hasyim ingin orang-orang Quraisy dilindungi saat berdagang di negeri-negeri tetangga itu, dan sebaliknya pedagang-pedagang dari negeri tetangga itu juga akan dilindungi jika berdagang ke Hijaz.

Lalu Hasyim mengumpulkan 3 saudaranya, yaitu Abdu Syams (عبد شمس), Naufal (نوفل), dan Al-Muttholib (المطلب). Bersama mereka disepakatilah untuk berbagi tugas. Hasyim bertugas menjalin hubungan diplomatik dengan Romawi, Abdu Syams bertugas menjalin hubungan diplomatik dengan Habasyah, Naufal bertugas menjalin hubungan diplomatik dengan Persia, dan Al-Muttholib bertugas menjalin hubungan diplomatik dengan Yaman.

Mereka-pun sukses dengan misinya. Seluruh raja di daerah-daerah tersebut meyambut dengan suka cita gagasan mereka. Setelah sukses, mulailah Hasyim mengajak masyarakat Quraisy berdagang ke luar negeri secara lebih teratur setiap tahun. Pada musim dingin, mereka pergi berdagang ke Yaman dan Habasyah. Pada musim panas mereka berdagang ke Syam dan Persia. Kebiasaan inilah yang kemdian menjadi tradisi tahunan masyarakat Quraisy yang kemudian disebut dengan istilah “Rihlatu Asy-Syita’” (رحلة الشتاء) atau perjalanan musim dingin dan “Rihlatu Ash-Shoif” (رحلة الصيف) atau perjalanan musim panas. Kegiatan ini akhirnya menjadi jantung perekonomian masyarakat Quraisy, karena menjamin persediaan makanan dan kebutuhan lainnya sehingga mereka bebas dari ketakutan kelaparan dan krisis ekonomi yang pernah menimpa mereka.

Perjalanan musim panas dan musim dingin inilah yang diingatkan Allah dalam Al-Qur’an sebagai salah satu nikmat-Nya. Jika bukan karena pertolongan Allah untuk melunakkan hati para raja sekitar Mekah sehingga mereka mau menjalin hubungan perdagangan dengan Quraisy, niscaya orang-orang Quraisy akan mati kelaparan dan tidak akan pernah merasa aman jika berani keluar Mekah karena bisa dibantai oleh masyarakat di luar mereka, Oleh karena itu, sudah sepantasnya masyarakat Quraisy itu berterima kasih kepada Allah, Sang Pemilik Ka’bah dengan cara menyembah-Nya dengan tidak menyekutukan-Nya dengan siapapun. Allah berfirman,

{لِإِيلَافِ قُرَيْشٍ (1) إِيلَافِهِمْ رِحْلَةَ الشِّتَاءِ وَالصَّيْفِ (2) فَلْيَعْبُدُوا رَبَّ هَذَا الْبَيْتِ (3) الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ وَآمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ } [قريش: 1 – 4]
Artinya,
Karena kebiasaan orang-orang Quraisy,
yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas
Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka’bah).
Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan. (Q.S. Quraisy; 1-4)
Tahukah Anda siapa Hasyim yang saya ceritakan di atas?

Beliaulah buyut Nabi Muhammad ﷺ. Ingat, nasab Nabi Muhammad adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muttholib bin Hasyim bin Abdu Manaf.

Abdu Manaf punya empat putra. Dua di antaranya kembar, yakni Abdu Syams dan Hasyim. Kemudian adiknya bernama Naufal dan yang bungsu bernama Al-Muttholib. Merekalah empat bersaudara pahlawan Quraisy di masa lalu yang sangat berjasa menyelematkan bangsa Quraisy dari krisi ekonomi dan kebinasaan massal.

Jadi bisa dikatakan Hasyim adalah leluhur Nabi Muhammad ﷺ yang pertama-tama mempelopori tradisi perjalanan musim dingin dan musim panas (rihlatasy-syitai wash shoif) bagi orang Quraisy.

Memang satu hal yang tidak dapat diingkari, leluhur Nabi Muhammad adalah orang-orang yang mulia semenjak zaman jahiliyyah.

Saat Abu Sufyan masih kafir dan ditanya Heraklius bagaimana nasab nabi Muhammad ﷺ , dia menjawab,

هُوَ فِينَا ذُو نَسَبٍ (صحيح البخاري (1/ 8)
“..Dia (Muhammad) di tengah-tengah kami memiliki nasab yang mulia” (H.R.Al-Bukhari)

اللهم ارزقنا حب النبي محمد ﷺ

Pilihan Lain

Selamat datang di layanan kami Setuju Lain Kali

Privacy & Cookies Policy