27 C
Indonesia
27 Juni 2019
Penasantri-Asal-Usul berdirinya Pondok Pesantren Nurul Huda
Profil Pesantren

Asal-Usul berdirinya Pondok Pesantren Nurul Huda

Asal-Usul berdirinya
Pondok Pesantren Nurul Huda
Kajen Kecamatan Margoyoso Kabupaten Pati

Asal-Usul berdirinya
Pondok Pesantren Nurul Huda



Sejarah Singkat Pondok Pesantren Nurul Huda 
Segala sesuatu yang ada dan nampak didepan mata pasti akan mengalami rangakaian peristiwa dan historisnya, hingga akhirnya kita dapat melihat wujud nyata dari sesuatu tersebut. Begitu pula dengan pesantren Nurul Huda yang mana merupakan lembaga pendidikan islam di bawah naungan Yayasan Nurul Hasan yang beraqidah islam ahlussunnah wal jama’ah yang didirikan oleh Romo Kiyai Haji Moh. Rohmat Noor pada tahun 80 an yang berdomisili di Desa Kajen Kecamatan Margoyoso Kabupaten Pati, tepatnya di Jalan Syekh Ahmad Mutamakkin Gg. 02.
Berdirinya pesantren Nurul Huda (PNH)  di dasari oleh kepentingan da’wah islamiyah dan pengembangan masyarakat melalui penyiapan kader-kader islam yang beraqidah dan berakhlaqul karimah serta berwawasan luas yang dinamis. Untuk memenuhi misi ini dan tuntutan pengembangan masyarakat, maka pesantren Nurul Huda dikembangan dengan sistem ”Langkah Nyata” atau dengan kata lain dititik beratkan kepada sebuah maqolah “LISANUL HAL AFDLOLU MIN LISANIL MAQOL” sesuai dengan mottonya pesan”TREN” Nurul Huda yang artinya taat, realistis, efesien, normatif dan dinamis.
Bermula dari keprihatinan Kyai Rohmat Noor akan minimnya pengetahuan agama bagi anak-anak yang ada di Desa Kajen bagian selatan yang letak persisnya berada diperbatasan dengan Desa Ngemplak kidul terutama yang ada disekitar kediaman beliau, maka beliau berinisiatif untuk memikirkan nasib mereka, bagaimana nasib anak-anak kecil itu tidak terlanjur lelap dalam kebodohan tentang ilmu agama atau setidaknya mereka bisa membaca Al-qur’an dan menulis arab dan para yang dewasa bisa shalat berjama’ah. Karena pada waktu itu tidak ada satupun mushola/langgar didaerah tersebut.
Dengan niat yang bulat dan tulus maka Kyai Rohmat Noor mengajak lapisan masyarakat khususnya tonggo-tonggonya untuk membangun sebuah mushola. Rencananya moshola tersebut bukan hanya sebagai tempat berjama’ah saja tetapi juga sebagai majlis ta’lim. Karena minimnya dana, beliau dengan ikhlas menjadikan sebagian rumahnya yang sebelah timur untuk menjadi musola, dan mushola tersebut diberi nama”NURUL HUDA” (beberapa cahaya petunjuk). Disinilah para tonggo teparo, sanak kerabat di gladi ngaji mulai dari alif, ba’, ta’dan sampai nawaitul al-wudlu-a yang konon ceritanya masih sangat awam alias abangan itu.
Pada tahun 1982 Alhamdulillah beliau mendapatkan rezeki pergi ke tanah suci untuk menunaikan rukun islam yang ke lima yaitu menunaikan haji. Setelah pulang dari tanah suci, beliau di dibantu keluarganya semakin memfokuskan pada majlis ta’lim yang didirikannya .
Dari waktu ke waktu seiring dengan perputaran zaman, datanglah satu persatu santri dari luar daerah untuk mukim/pondok. Dengan dibuatkan fasilitas alakadarnya yakni dengan dua gotaan (yang bermula musholla sebagai diberi satir-pembatas dari triplek), satu kamar mandi, satu dapur masak dan satu WC ceblung, terpaksa meeka ditampung. Untuk menampung jumlah santri yang semakin bertambah maka dibangunlah asrama guna tempat santri tinggal. Kebradaan asrama ini, selain untuk menampung mereka yang berasal dari tempat yang jauh juga untuk mengontrol secara langsung kegiatan santri sehingga akan menunjang pencapaian tujuan pendidikan secara optimal. 
Dari majlis ta’lim hingga berkembang menjadi sebuah pondok pesantren, pesantren Nurul Huda menunjukkan kemajuan yang berarti karena mendapat dukungan dari berbagai lapisan masyarakat, hingga tidak mengherankan dalam waktu yang relatif singkat pesantren ini memiliki santri yang lumayang jumlahnya. Rata-rata santri yang mondok bermukim pada waktu itu santrinya banyak yang tidak mampu karena mereka dari golongan dibawah garis kemiskinan, atau istilah jawanya “ Ati karep bondo cupet” tapi, kondisi demikian tidaklah menyurutkan niat mereka. Dengan berbekal doa restu dari simbok dan bapaknya segenggam cengkir (kencenging piker). Mereka menghabiskan masanya di Pesantren Nurul Huda.
Untuk mewujudkan impiannnya hiti, mereka terpaksa harus berbaur dengan masyarakat sekelilingnya. Demi sesuap nasi dan segenggam sangu untuk biaya mondok dan sekolahnya, ada yang menjadi pembantu rumah tangga, ada yang ngobok dan ada juga yang jualan kecil-kecilan. Dengan demikian setiap pagi harus berangkat sesuai profesinya dan setelah usai shalat dluhur mereka dihadapkan dengan studinya di madrasah karena rata-rata mereka sekolah pada siang hari. Pada waktu malam mereka dituntut untuk mengikuti aktifitas di pesantren, sehingga dengan biaya dan waktu yang efektif serta efisien mereka berharap tercapai apa yang mereka cita-citakan.
Dengan perkembangan Pesantren Nurul Huda yang signifikan, pada tahun 90-an datanglah segelintir masyarakat untuk menitipkan putrinya di pesantren Nurul Huda. Yang semula ditolak beliau, dengan pertimbangan bahwa bertanya menjaga dan bahayanya permasalahan yang timbul disebabkan oleh anak putri. Akan tetapi setelah memperoleh beberapa masukan dan saran dari berbagai pihak khususnya guru-guru beliau, akhirnya beliau menerimanya juga. Pada waktu itu jumlahnya hanya 5 (lima) santri putri.
Waktu terus bergulir sesuai dengan putaran matahari, pada tahun 1993 beliau KH. Moh Rohmat Noor dinobatkan sebagai guru thoriqoh (mursid) oleh guru beliau KH. Abdullah Zain Abdussalam, dan pada saat itu pula mulai tumbuh besar bagaikan tumbuhan di musim hujan, baik dari santri syari`at maupun thoriqohnya.
Sampai saat ini santri pesantren nurul huda thoriqoh dan syari`at sudah mencapai ribuan jumlahnya dan dengan fasilitas yang Alhamdulillah mentereng, dari pondok putra terdiri dari 9 (sembilan) kamar/gotaan yang berlantai dua dan dilengkapi dengan 7 (tujuh) WC dan 10 (sepuluh) kamar mandi, sedangkan untuk pondok putri yang berlantai 4 (empat) dengan 11 (sebelas) kamar/gotaan dan 1 (satu) auditorium yang berada dilantai 3 (tiga) yang digunakan sebagai tempat beraktivitas seperti : khitobahan, ngaji, diskusi dan lain-lain. Untuk kamar mandi dan WC pondok putri, yang berjumlah 18 (delapan belas) berada dilantai 1 dan 2 sedangkan untuk lantai 3 (tiga) untuk mencuci dan menjemur.
Pada perkembangan selanjutnya Pesantren Nurul Huda mengalami kemajuan yang menggembirakan, sehingga untuk lebih mengoptimalkan atau lebih mengembangkan Pesantren Nurul Huda, maka para pengurus memutuskan untuk membuat sebuah yayasan. Pada tahun 1999 terbentuklah sebuah yayasan dengan nama “ YAYASAN NURUL HASAN ” yang artinya (beberapa cahaya kebaikan). Yayasan ini tepatnya didirikan pada tanggal 2 Pebruari 1999 M. Kata “Nurul” diambil dari nama bapak beliau yang bernama Noor Syam dan “Hasan” diambil dari nama kakek istri beliau yang bernama Markhasan. Yayasan berazaskan pancasila dan berwawasan Ahli Sunnah Wal Jama’ah.
Yayasan Nurul Hasan mempunyai tujuan ikut serta berpartisipasi dalam mencerdaskan kehidupan bangsa yang berahlakul karimah. 
Mensikapi permasalahan yang timbul pada awal tahun 2001 Pengurus Yayasan Nurul Hasan membuat bagaimana langkah yang harus di ambil untuk mewujudkan dan memajukan para santri yang di bawah umur (balita), yaitu mulai TK (Raudlotul Atfal ) sampai enam Ibtida’, yang mana dalam masalah ini harus ada bimbingan khusus dalam sehari-harinya. Maka dari itu timbulah ide supaya santri yang mulai menginjak TK sampai enam Ibtida’ agar dipisahkan dengan santri yang dewasa supaya tidak terjadi ketercemaran dalam perkembangannya dan kemajuannya. Dalam hal ini akhirnya dibuatkanlah pondok khusus anak-anak yang berada langsung dibawah yayasan dengan nama “Pondok Ash-Shibyan” yang bertempat disebelah selatan Pesantren Nurul Huda Putri kurang lebih 50 meter, yang sampai sekarang kurang lebih mencapai empat puluh anak yang dibimbing oleh delapan ustadz murobbi.
Sampai saat ini Pesantren Nurul Huda terus berputar menjalankan aktifitasnya yang berupa pengajian kitab kuning, musyawaroh, khithobah, Dauroh Bahasa Arab, Seni Baca Al-Qur’an dan juga grup rebananya yang tak kalah saing dengan masyarakat lain yaitu the art of mucic relegius EL-HIJAZZ group, Pesantren Nurul Huda juga meningkatkan kualitas Madrasah Diniyahnya. Pada tanggal 1 juli 2004 Pesantren Nurul Huda mengajukan permohonan untuk menyelenggarakan progam wajib belajar pendidikan dasar pola pesantren salafiyah atau Madin yaitu Madrasah Diniyah Lailiyah yang di progamkan oleh departemen agama.dan untuk mengikuti perkembangan zaman, dan demi memenuhi kebutuhan santri yang haus akan pengetahuan dan informasi di buatlah sebuah laboratorium internet, yg didalamnya ada sekitar 13 KBU. selain itu  ada fasilitas lapangan serba guna yang bisa dijadikan untuk bermain futsal, perlombaan-perlombaan, senam dll, dengan tujuan meningkatkan kesehatan jasmani para santriwan maupun santriwati.
Demikian sekilas profil Pesantren Nurul Huda tercinta ini yang dulunya bagaikan tukulan klungsu, namun setelah tumbuh bertahun-tahun menjadi besar dan rindang yang bisa kita jadikan tumpuan hati mencari ridlo illahi dan kedamaian yang haqiqi di dunia dan akhirat nanti.
ditulis pada, tgl, 08/01/2012.

Related posts

Pondok Pesantren Jamsaren Surakarta (Solo)

admin

PESANTREN AL-ITTIHAD JUNGPASIR, DEMAK

admin

Sejarah Berdirinya Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata

PENA SANTRI

Profil Pondok Pesantren Nurul Wafa Tasik Malaya

admin

Profil Pesantren Islam Al-Irsyad Tengaran

admin

Riwayat Berdirinya PP. Darunnajah Cipining

PENA SANTRI

Leave a Comment