27 C
Indonesia
27 Juni 2019
Penasantri Bali dan Kehidupan Umat Muslim di Tanah Seribu Pura
Islam Lokal

Bali dan Kehidupan Umat Muslim di Tanah Seribu Pura

Di Bali, pulau seribu pura dengan bangunan unik yang identik dengan agama Hindu, ada umat muslim? Iya, itu benar adanya. Minoritas umat muslim berada di tengah-tengah masyarakat Hindu sejak awal mula perkembangannya dan menjalin hubungan harmonis hingga sekarang.
Menurut sejarah, Islam masuk ke Bali pada masa kerajaan Majapahit abad ke-14 ketika Raja Gelgel bernama Dalem Ketut Ngelesir yang memerintah di Bali melakukan kunjungan ke bumi Majapahit untuk bertemu dengan Raja Hayam Wuruk. Pada waktu itu Raja Hayam Wuruk mengadakan pertemuan penting yang harus dihadiri oleh seluruh kerajaan di bawah naungan Majapahit.
Mengapa Majapahit? Bukankah Majapahit kerajaan Hindu?
Majapahit pada masa kejayaannya yang berhasil menakhlukkan Nusantara sedemikian hebatnya, sikap toleransi beragama tercermin dari kerukunan masyarakatnya. Pada masa itu bukan hanya umat Hindu yang mendominasi, umat Buddha dan Islam turut bernaung di bawah bendera Majapahit di wilayah-wilayah tertentu dengan damai.
Ketika Raja Dalem Ketut Ngelesir kembali ke pulau Dewata, ia didampingi oleh 40 pengiring. Dua diantaranya adalah abdi muslim bernama Raden Modin dan Kiai Abdul Jalil. Sesampainya di Bali, para pengawal yang menjadi abdi di kerajaan Gelgel ini mendiami sebuah pemukiman dan mendirikan masjid yang kelak menjadi masjid tertua di Bali.
Para pengawal muslim ini tinggal cukup lama di pusat kota Gelgel. Meski akhirnya mereka kembali berkelana hingga ke Desa Banjar Lebah dan Desa Saren sampai akhir hayatnya. Kemudian Raden Modin dan Kiai Abdul Jalil dikenal sebagai wali yang menyebarkan Islam di pulau Dewata.
Kampung Loloan, Jembrana
Kampung muslim terbesar di Jembrana ini berasal dari prajurit Bugis yang melarikan diri dari kejaran VOC sekitar abad ke-16. Pelariannya ini membawanya sampai ke muara sungai Ijo Gading. Kepada penguasa Jembrana pada waktu itu bernama I Gusti Arya Pancoran, mereka meminta izin untuk tinggal dan menetap di kampung tersebut.
Tak lama sejak orang Bugis menetap di Loloan, datanglah pendatang dari Melayu di Jembrana yang disambut baik oleh si tuan rumah. Atas izin sang penguasa pula, kaum muslim Bugis dan Melayu pun menyebar dakwah kepada para masyarakat asli Bali dengan menggunakan bahasa Melayu.
Hingga kini, kampung yang berjarak sekitar 90 kilometer dari kota Denpasar ini masih kental nuansa Bugis dan Melayu dengan digunakannya bahasa Bugis sebagai bahasa sehari-hari.
Kampung Pegayaman, Buleleng
Sekitar 80 kilometer arah utara kota Denpasar, terdapatlah kampung muslim di Buleleng. Tepatnya di kampung Pegayaman. Di Pegayaman, terjadi akulturasi antara budaya Islam dan Hindu yang saling menjaga kerukunan semenjak awal Islam tersebar di tanah seribu pura tersebut.
Dilihat dari sejarahnya, raja Buleleng mengutus para prajuritnya untuk berkunjung ke Banyuwangi. Menariknya, para utusan ini terpesona dengan ajaran Islam dan berniat mempelajarinya lalu menyebarkannya ketika kembali ke tanah kelahirannya.
Oleh karenanya, sangat umum dilihat jika mengunjungi kampung Pegayaman terdapat bangunan-bangunan khas Bali, hanya saja yang membedakan adalah keberadaan masjid dan tidak adanya tempat menaruh sesaji yang ada di depan rumah sebagaimana budaya umat Hindu Bali.
Kerukunan dan persaudaraan umat beragama masyarakat Hindu-Islam di Bali ini berlangsung hingga sekarang. Hal itu ditunjukkan dengan penggunaan istilah manyama-braya oleh orang Hindu, yang artinya persaudaraan. Perpaduan budaya ini juga dapat dilihat pada penggunaan nama campuran antara nama asli Bali dan nama Islam sebagai contoh, I Made Aisyah.
Kampung Gelgel, Klungkung
Mendapuk kampung Islam tertua dan pertama yang ada di Bali. Hal itu dapat disebutkan dalam sejarah masuknya Islam di pulau seribu pura yang dibawa oleh Raden Modin dan Kiai Abdul Jalil abad ke-14 silam. Masjid peninggalan dari era tersebut masih berdiri kokoh hingga saat ini dan diberi nama Masjid Nurul Huda yang mengalami berkali-kali pemugaran.
Kampung Kecicang Islam, Karangasem
Masjid Baiturrahman menjadi bukti eksistensi tersebar dan berkembangnya agama Islam sejak berdirinya masjid itu di abad ke-17 di Karangasem. Masjid yang dulu dibangun dengan sederhana kini menjelma menjadi masjid Agung yang terus direnovasi dan diperbesar tiap tahunnya menyesuaikan perkembangan penduduk muslim di kampung Kecicang.
Penduduk Kecicang percaya bahwa mereka keturunan leluhur Toh Pati Keling. Ketika raja yang memerintah telah mangkat, raja yang menggantikan tersebut memindahkan penduduk Toh Pati dengan cara membabat hutan. Adapun sejarah masuknya Islam di Karangasem tersebut berasal dari Lombok, yang kala itu raja menginvasi Lombok utara yang telah beragama Islam.

Related posts

Islam Minangkabau (Bagian 3, Habis)

khalwani ahmad

Islam Madura (Bagian VI, Habis)

Ahmad Fairozi

Islam Minangkabau (Bagian 1)

khalwani ahmad

Islam Madura (Bagian V)

Ahmad Fairozi

Peradaban Islam Negeri Di Atas Awan

khalwani ahmad

Warisan Islam di Alexandria

admin

Leave a Comment