1 Desember 2020

Balqis dan Mistisisme Ibnu Arabi

Oleh:  Masyhuri Drajat, S. Ps.I.
Balqis dan Mistisisme Ibnu Arabi 


Dalam tulisan ini saya akan menyajikan sebuah cerita yang seakan tidak realistis. Namun, saya akan mencoba untuk menguak bahwa cerita itu adalah benar-benar raelistis dengan mengkomparasikan cerita ini dengan cerita pemindahan kerajaan ratu Balqis. Tentunya apa yang saya kemukakan ini akan selalu berpijak pada perspektif Ibnu Arabi sebagai mistikus akbar.

Diceritrakan dari al-yafi’i bahwa Allah Swt memberikan wahyu kepada Sulaiman bin Daud alaihim al-salamu agar mendatangi sebuah pantai supaya ia dan para pengikutnya yang terdiri dari jin dan manusia bisa melihat keanehan di pantai itu. Setelah ia sampai kepantai itu ia kemudian menoleh kekanan dan kekiri namun ia tidak menemukan apapa. Kemudian ia berkata kepada ifrit “ menyelamlah engkau kelaut ini dan beritahukan pada ku apa yang engkau temukan didalamnya” setelah beberapa saat kemudian ifrit datang dan berkata “ wahai Nabi Allah setelah aku pergi mengarungi kedalaman laut ini akupun tidak melihat apa-apa”  kemudian Nabi Sulaiman berkata kepada Ifrit yang lain” menyelamlah engkau dalam laut ini lalu kabarkan apa yang engkau dapatkan darinya” dan setelah Ifrit itu menyelam, beberapa saat kemudian ia kembali dan melaporkan seperti apa yang dilaporkan oleh Ifrit yang pertama walaupun dirinya telah menyelami laut itu duakalilipat dibanding Ifrit yang pertama.

Setelah Nabi Sulaiman gagal mendapatkan berita dari kedua Ifrit itu, beliau kemudian memerintahkan wazirnya Asaf bin barkhiya yang disebut oleh Allah di dalam al-Quran sebagai seorang yang mempunyai ilmu al-kitab. “ datangkanlah kepadaku sebuah kabar tentang apa yang engkau dapatkan didalam laut ini” Ucap Nabi Sulaiman.  Kemudian Asaf mendatangkan (akan sebuah kabar) mengenai sebuah Qubbah yang terbuat dari menyang korma putih yang mempunyai empat pintu. Pintu pertama terbuat dari mutiara, yang kedua terbuat dari yakut, yang ke tiga terbuat dari permata, dan pintu yang ke empat terbuat dari zabarjad yang hijau. Semua pintunya terbuka tapi tak ada sepercik airpun masuk kedalamnya walau Qubbah itu berada di kedalaman laut yang amat dalam seperti tiga kali pengarungan yang dilakukan oleh Ifrit yang pertama. Kemudian Asaf meletakkan Qubbah itu dihadapan Nabi Sulaiman, Tiba-tiba di tengah Qubbah ada seorang pemuda yang sedang Shalat,dan Nabi Sulaiman pun mulai memasuki kubah itu untuk menemui pemuda tersebut dan bertanya “ bagaimana kamu bisa turun kedalam dasar laut ini? Pemuda itu berkata “ Wahai Nabi Allah! Pada dasarnya aku mempunyai ayah yang pengangguran, ibu yang buta dan aku berbakti kepada keduanya selama tujuh pulu ribu tahun lamanya. Menjelang  sakratul maut ibuku berdo’a” Wahai Tuhanku panjangkanlah Umur anakku dalam berbakti kepada-Mu” begitu pula dengan ayahku, ketika ia hendak meninggal dunia  ia mendoakanku “ wahai Tuhanku jadikanlah anakku khaddam disebuah tempat, yang syaitan pun tidak menemukan jalan untuk memasukinya”. Setelah aku memakamkan keduanya, aku menuju pantai ini dan aku melihat Qubbah dan aku tertarik untuk memasukinya dengan tujuan aku bisa meliahat keindahanya.  Pada saat aku didalam Qubbah kemudian datang Malaikat membawa Qubbah ini dan meletakkan di dasar laut ini. Nabi Sulaiman kemudian bertanya “ Kamu datang ke pantai ini pada Masa siapa?” pemuda itu menjawab” pada masa Ibrahim kekasi Allah.” Kemudian Sulaiman melihat buku sejarah hingga  ia tahu bahwa masa itu sudah mencapai 1400 tahun, pemuda ini masih saja tanpa istri didalam laut ini.  Lalu, di dalam laut ini minuman dan makananmu apa? Setiap hari ada burung hijau datang ketempat ini yang di paruhnya ada sesuatu yang berwarna kuning bak kepala manusia. Maka aku memakanya dan aku mendapat kenyamanan dari makanan itu melebihi kenikmatan di dunia ini, hingga hilang dariku rasa lapar, haus, kepanasan, kedinginan, rasa capek,kelemahan, dan ketakutan. Ucap pemuda itu. Dan Nabi Sulaiman kembali bertanya” apakah kamu ingin pergi bersama kami atau kamu ingin ditinggal ditempatmu ini saja? Tinggalkan saja aku ditempatku ini wahai Nabi Allah! Kemudian nabi berkata pada Asaf “ tinggalkanlah dia disini wahai Asaf” dan nabi menoleh pada semua pengikutnya seraya berkata “lihatlah oleh kalian semua bagaimana kemustajaban do’a kedua orang tua, dan takutlah kalian untuk berbuat durhaka pada keduanya”.

Ada seorang tokoh yang mempunyai kelebihan yang sangat menakjubkan ditimbang dari yang lain yaitu Asaf bin Barkhia yang disebutkan dalam cerita ini, ia juga yang berhasil memindahakan istana ratu Balqis ke hadapan Nabi Sulaiman. Dalam cerita ini juga terjadi sebuah pemindahan Qubba yang berada didalam laut kehadapan Nabi Sulaiman yang diungkapkan dengan kata “ fawadha’aha baina yadai” ia meletakkan Qubah itu di hadapannya. Hal yang sangat mengganjal dalam benak saya adalah apakah pemindahan itu berupa pemindahan yang bersifat materi? Sebab secara rasional tidak mungkin ada sebuah transfer materiil.

Dalam memecahkan kepelikan peristiwa ini saya akan mengkomparasikannya dengan cerita pemindahan istana ratu Balqis. Sebab ada kesamaan antara cerita ini dengan cerita Istana ratu Balqis yaitu sama-sama terjadi sebuah pemindahan dan itu pun dilakukan oleh seorang tokoh yang sama yaitu Asaf bin Barkhia. Agar penjelasan ini dapat dicerna dengan baik maka saya akan mengemukakan sebuah perkataan Hendri Corbin dalam sebuah bukunya “ Imajinasi Kreatif Sufisme Ibnu Arabi” ia berkata:

Tentu saja tidak ada pergerakan aktual. Baik Asaf atau pun singgasana tidak pindah dari satu tempat ketempat yang lain di muka bumi. Kita juga  bahkan takbisa berbicara ihwal pengulangan ruang. Apa yang terjadi adalah pelenyapan, penghapusan fenomena yang ada di Saba’, dan peng-ada-anya, yakni manifestasi di hadapan Sulaiman, dan saat ia taklagi termanifestasi di Saba adalah saat ketika dia muncul kepada mata Sulaiman dan majlisnya. Bahkan tidak ada suatu pergiliran, yang ada hanyalah suatu penciptaan baru,suatu perulangan atau pembaruan penciptaan, suatu konsep yang sesuai seperti kiya lihat, dengan ide metamorfosis teofani-teofani. Esensi yang satu dan sama dalam dunia misteri bisa dimanifestasikan disatu tempat tertentu, lalu disembunyikan di tempat itu dan dimanifestasikan disuatu tempat lainya,identitasnya terletak pada entitas esensi. Sama pula halnya dengan persebaban itu berasal dari Nama Ilahi yang tertanam dalam entitas ini, semntara di antara berbagai fenomena seperti yang kita lihat,hanya ada hubungan-hubungan tanpa sebab, karena tanpa memiliki durasi atau pun kontinuitas, mereka tidak akan menjadi sebab satu sama lainnya. Jadi, apa yang dilihat oleh Sulaiman dan rombongannya adalah sebuah penciptaan singgasana yang baru, kerana kelenyapannya (di Saba) dan kemunculannya (di hadapan Sulaiman) terjadi di dalam satu saat yang tak terbagi suatu atom waktu.

 Jadi telah dapat kita pahami pula bahwa pemindahan Qubba itu pula bukan pemindahan dalam artian Qubba tersebut secara materi dipindah dengan bentuknya ke hadapan Nabi Sulaiman. Jadi cerita ini bukanlah cerita yang bertentangan dalam akal sebab cerita ini dilihat dari sudut pandang Mistisme merupakan sebuah kekuatan dari adanya Himmah jadi Asaf bin Barkhia menggunakan daya Himma  untuk memunculkan istana atau Qubbah itu secara  entitas bukan dalam eksistensinya.

Diantara berbagai manifestasi hanya ada kemiripan, dari itulah maka perkataan ratu Balqis ketika melihat Istananya dari kejauhan, dia mengenali kemustahilan transfer Materiil “ ka annahu Huwa” seolah singgasana ini singgasanaku”. Perkataan ratu Balqis itu memang benar, memang itu adalah singga sananya dalam arti entitasnya,individuasinya yang ditetapkan dalam dunia Ilahi, namun bukan dalam arti eksistensinya sebagai yang di konkritkan di hadapan Sulaiman. Jadi perkataan ratu Balqis merumuskan sintesis kemajmukan dan kesatuan.

Jika dikembalikan pada cerita mengenai Qubba ini maka apa yang dilihat Nabi Sulaiman denga perantara Asaf bin Barkhia merupakan penglihatan dalam makna entitas bukan dalam eksistensi. Atau dalam dunia citra (amtsal) bukan dalam dunia konkrit ini. Namun walaupun demikian apa yang dilakukan Nabi Sulaiman bukanlah hal yang sia-sia walaupun itu dalam dunia bayangan  sebab hal itu merupakan hal yang konkrit baginya dengan kemampuannya akan menggunakan daya Himma tanpa harus berkonsentrasi. Mungkin kita akan sedikit membahas mengenai himma ini, agar kita dapat mengetahui apa fungsi himma itu.  Himma merupakan sebuah kecakapan yang menggunakan daya imajinatif untuk menatap dunia tengah dan dengan mengangkat data menuju satu level yang lebih tinggi, untuk mengalih bentukkan selubung lahiriah menjadi kesejatiaanya sehingga dengan itu memungkinkan segala sesuatau dan wewujudan untuk memenuhi fungsi teofanik mereka.

Segala apa yang dilakukan Asaf dalam pemindahan Qubba takterlepas dari adanya himma itu. Dengan di imajinasikan maka bayangan akan tampak, bila dikenali sedemikian, menandakan bukan sebuah angan-angan melainkan sesuatu yang riil dan bermakna karena memang mengenalinya.


Daftar Bacaan

·         Zainuddin bin Abdul Aziz bin  Zainuddin Al- Malibari,Irsyadul Ibad, Al-Hidayah, Surabaya, hal 98-99

·         Hendri Corbin,Imajinasi Kreatif Ibnu Arabi, Lkis Yogyakarta, 2002, hal 310-313

Pilihan Lain

Selamat datang di layanan kami Setuju Lain Kali

Privacy & Cookies Policy