21 September 2020

Belajar Islam Pada Cheng Ho (Bagian I)

Diskursus tentang Islam Nusantara, publik memahaminya dengan penuh warna. Ahmad Baso–misalnya–memahami Islam Nusantara melalui pendekatan fiqhiyah. Sehingga devinisi yang dikemukakan [adalah cara bermadzhab secara qouly dan manhajy dalam beristimbat tentang Islam dari dalilnya yang disesuaikan dengan teritori, wilayah, kondisi alam, dan cara pengamalan penduduk kita] lebih dekat pada manhajiah.

Tokoh lain menyebutkan Islam Nusantara adalah Islam yang tidak menghapus budaya, Islam yang tidak menafikan atau menghilangkan kultur. Islam Nusantara mensinergikan nilai-nilai universal bersifat teologis dari Tuhan yang ilahiyah dengan kultur budaya tradisi yang bersifat kreatifitas manusia.Devinisi yang dikemukakan Said Aqil ini lebih dekat pada wawasan kebudayaan dan kebangsaan.

Berbeda dengan itu, Musthafa Bisri mengedepankan teritori dalam mengartikan Islam Nusantara. Bagi Gus Mus Islam Nusantara adalah susunan idlafah antara Islam dan Nusantara. Atau dengan kata lain Islam yang disandarkan pada pada Nusantara, yaitu Islam yang ada di Indonesia dari dulu hingga sekarang yang diajarkan oleh wali songo.

Dari berbagai pasang-surut devinisi yang diberikan para tokoh dan pengamat tentang Islam Nusantara,menarik penulis mengemukakan sejarah masuknya Islam versi Cheng Ho. Seorang lanksamana agung yang melakukan kembara perdagangan dari Cina ke Nusantara hingga berlabu di Surabaya dengan membawa visi dakwah. 

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menggelar “halal-bihalal” yang disambung dengan seminar Ekspedisi Cheng Ho dan Islam Nusantara pada Selasa (28/7) di lantai 8 Gedung PBNU. Universitas Islam Nahdlatul Ulama (Unisnu) Jepara menggelar diskusi Islam Nusantara bertempat di Ruang Seminar Gedung Pascasarjana, Selasa (10/7) mendudukkan Laksamana Cheng Ho sebagai ekspedisi penyebar Islam di Nusantara. Bahkan Jauh sebelum itu, menjelang Muktamar ke-33 PBNU menggelar diskusi diskusi publik bertempat di Yogyakarta pada 1-5 Agustus mengemukakan bahwa Cheng Ho memliki andil besar Islamisasi tanah Jawa.

Berdasarkan ramainya diskusi publik dan penelitian tentang Islam Nusantara yang menempatkan Cheng Ho sebagai salah satu pemeran Islamisasi Nusantara, menunjukkan suatu pertanda bahwa ekspedisi Cheng Ho di Nusantara dengan yang mambawa visi Islam tetap menjadi kajian yang menarik untuk ditekuni. Sehingga dari itu, dalam paper ini penulis menghajatkan diri untuk belajar Islam pada Cheng Ho dengan menjadikan Surabaya sebagai objek kajiannya.

Berkenalan dengan Laksamana Cheng HO

Cheng Ho adalah seorang kasimMuslim yang menjadi orang kepercayaan Kaisar Yongle dari Tiongkok (berkuasa tahun 1403-1424), kaisar ketiga dari Dinasti Ming. Nama aslinya adalah Ma He, juga dikenal dengan sebutan Ma Sanbao (馬 三保)/Sam Po Bo, berasal dari provinsi Yunnan. Ketika pasukan Ming menaklukkan Yunnan, Cheng Ho ditangkap dan kemudian dijadikan orang kasim. Ia adalah seorang bersuku Hui, suku bangsa yang secara fisik mirip dengan suku Han, namun beragama Islam.

Laksamana Cheng Ho dilahirkan di keluarga muslim suku Hui di Yunnan, Tiongkok tepatnya pada tahun 1371 Masehi. Nama asli Laksamana adalah Ma He atau Man Sam Po. Ayahnya bernama Ma Hajji dan dari ibu bermarga Wen. Menurut catatan sejarah menyebutkan bahwa suku muslim Hui di Yunnan adalah pengikut dari Saad Bin Abi Waqqash, seorang sahabat Rasulullah SAW yang diutus menyebarkan dan mengembangkan ajaran islam di negeri Cina.

Sejak masa kecil, Cheng Ho bernasib kurang baik. Tapat pada usianya yangn ke-11, Cheng Ho ditangkap oleh pasukan kerajaan istana Kekaisaran Cina untuk dijadikan seorang kasim atau abdi di istana. Selama hidupnya di istana, Cheng Ho berkali-kali ikut terjun ke berbagai peperangan bersma punggawa istana. Dan selama pergulannya, Cheng Ho selalu memenangkan laga perang. Oleh sebab itulah, Laksamana Cheng Ho  menjadi kepercayaan istana untuk memimpin armada laut Tiongkok berlayar mengarungi samudera luas dalam rangka memperkuat pengaruh perdagangan dan persahabatan antar negara.

Sebagai seorang muslim yang taat, Laksamana Cheng Ho memendam cita-cita untuk menunaikan ibadah haji ke Mekkah. Singkat cerita, cita-citanya tercapai saat sang Laksamana Agung tersebut melakukan penjelajahan lautnya yang ketujuh pada sekitar tahun 1431 masehi bersama armada lautnya yang jumlahnya sangat banyak.

Berdasarkan catatan sejarah, Laksamana memulai perjalanan lautnya pada tahun 1405 menuju semenanjung Malaka dan sempat mendarat di negeri Champa (Thailand), Sriwijaya (Palembang), Samudera Pasai (Aceh), serta tanah Jawa dan sempat bertemu sang Raja Majapahit saat itu, Sri Wikramawardana. Berdasarka kenyataan inilah Istilah Islam Nusantara, versi teritori yang mendudukkan Cheng Ho sebagai pemerannya tidak hanya dibatasi pada negara Indonesia. Akan tetapi [kawasan] kawasan Islam Nusantara disandarkan pada sebanyak tempat yang pernah diduduki oleh Cheng Ho.

Sementara itu, penjelajahan laut yang dilakukan Laksamana Cheng Ho tersebut jauh lebih awal dari bangsa Eropa, yakni 87 tahun lebih awal dari Christopher Columbus, serta 92 tahun lebih awal dari Vasco da Gama. Bahtera kapal lautnya pun dipercaya sebagai bahtera terbesar yang pernah dibuat manusia setelah bahtera Nabi Nuh. Majalah Life juga menyebutkan bahwa armada laut Laksamana Cheng Ho adalah armada laut terbesar dan terbanyak sepanjang sejarah peradaban manusia.

Diantara sekian banyak perjalanan laut yang telah diarungi itu, Laksamana Cheng Ho kemudian menghasilkan sebuah peta navigasi yang mampu mengubah peta navigasi dunia yang akurasinya diniliai tak seakurat peta navigasi milik sang Laksamana Agung. Karena kepiawaiannya dalam navigasi laut, negosiasi, maupun diplomasi dengan negeri-negeri dan kerajaan lain, maka sudah selaknya Laksamana Cheng Ho mengemban misi sebagai pimpinan armada laut Kekaisar Cina.

Selama beberapa dekade belakangan ini, tempat-tempat yang pernah dijelajahi oleh Laksamana Cheng Hoo masih dapat ditelusuri dan diakui secara universal, salah satunya yang paling terkenal adalah Klenteng Sam Po KOng di Semarang, Jawa Tengah. Untuk membuat monumental catatan dan fakta perjalanan sejarah sebagai bahariwan yang termasyur, utusan perdamaian terpuji dan juga seorang muslim yang taat dan saleh, maka umat muslim dan kaum etnis Tionghoa di Surabaya membangun Masjid Muhammad Cheng Hoo ini. “Karena dimana ada laut, disitu ada Cheng Ho”, mengutip dari ucapan Hasan Basri, seorang muslim keturunan etnis Tionghoa yang juga menjabat sebagai Ketua Harian Masjid Cheng Ho Surabaya. (Bersambung)

*Oleh Ahmad Fairozi, Penulis adalah Alumni PP. Annuqayah Lubangsa yang sedang menyelesaikan pendidikan S2nya di UNUSIA Jakarta

[zombify_post]

Pilihan Lain

Selamat datang di layanan kami Setuju Lain Kali

Privacy & Cookies Policy