27.7 C
Indonesia
22 Oktober 2019

Belajar Merenung

Belajar Merenung 1

Faza bifadli min Thalibihi
Wa bil ibadi naili al Fadl
 Sungguh beruntung para pencari pengetahuan (ilmu)
Apalagi, dengan niat beribadah. Maka akan dipenuhi dengan segala keutamaan.

Syair dalam kitab ta’lim al muta’allim ini memberi pandangan bahwa pengetahuan akan menjadi satu jalan yang bernilai ibadah kepada Tuhan. Senyampang ada rasa dalam hati yang terketuk untuk meniatkan diri beribadah, maka proses pencariannya akan bernilai penghambaan kepada Tuhan. Menghamba sepenuhnya, menyerahkan diri seutuhnya kepada Tuhan. Kepada Dzat yang diyakini dan diimani sebagai aksentuasi keuatan tiada tara di luar manusia dan mahkluk yang lain. 
Sastra adalah puncak kejujuran dari setiap pengarang, dalam ranah Hermeneutik dikenal dengan author. Bahkan bukan hanya dipandang indah dalam konteks kebahasaan saja. Tetapi ada pengetahuan tersirat yang disampaikan, sehingga tidak jarang kadang perlu mengernyitkan kepala untuk memahami satu prosa atau beberapa bait puisi. 
Begitu juga terkait syair di atas. Jika boleh dikatakan lugas dan mudah dipahami, maka “iya” jawabannya. Tetapi dalam ranah apa keberuntungan yang dimaksudkan? Atau bagaimana memunculkan kesadaran dalam hati dan otak agar benar-benar meniatkan diri untuk selalu menghamba kepada Tuhan? Pada dasaranya menghamba adalah pola interaksi structural antara manusia dengan Tuhan. Tasawwuf menerangkan dengan rinci bahwa abd atau hamba adalah kondisi di mana makhluk benar-benar menyandarkan segala yang ada di dalam dirinya kepada Tuhan sang pencipta. 
Dengan kata lain, syair di atas adalah ungkapan personal yang pernah – atau sedang mengalami keberuntungan atas pencarian pengetahuannya. Pastinya dilandasi dengan niat beribadah (menghamba) kepada Tuhan. Sebagai umat yang beragama, entah warisan Semit – Abraham  (Nasrani, Yahudi dan Islam) atau ajaran-ajaran kebatinan setidak menilik kembali dan melakukan riset terkait pengaruh dari proses pencarian pengetahuan. Karena pada dasarnya kehidupan membutuhkan pengetahuan, pengetahuan akan kesiapan diri dalam menjalani proses kehidupan. Jika dalam Islam diharuskan untuk mencari pengetahuan bagi siapapun, redaksi haditsnya adalah “Maka wajib bagi muslim pria dan wanita untuk mencari ilmu (pengetahuan)” 
Dalam Amsal 1; 4-5 dijelaskan bahwa “Untuk memberikan kecerdasan kepada orang yang tak berpengalaman, dan pengetahuan kebijaksanaan kepada anak muda, baiklah orang bijak mendengar dan menambah ilmu, sehingga orang yang memiliki pengertian akan memperoleh bahan-bahan pertimbangan.” Lahirnya agama Nonteistik Buddha juga didasari atas kesadaran ruhaniah dan nalar, sehingga pengetahuan menjadi satu lokomotif yang memiliki gerbong-gerbong kesadaran yang menuju pada proses perkembangan kepribadian. 
Titik temunya bukan pada perihal sama-sama menghilangkan kebodohan, tetapi mempersiapkan diri agar mampu menyesuaikan dengan kehidupan yang dinamis. Dengan kata lain kejar-kejarannya dengan waktu, oleh karenanya pendewasaan diri juga dibutuhkan. Dan untuk mendewasakannya butuh yang namanya pengetahuan. Sehingga penyampaian tentang pentingnya pengetahuan akan sangat beragam. Ada yang berupa perintah, prosa, puisi dan sajak-sajak beriman. Harapannya pesan itu menemui ruangnya. Menemui dunianya. Karena sebagai manusia tidak bisa memaksakan kepada manusia yang lain. Karena jelas sekali bahwa manusia diciptakan (tercipta) dengan kondisi dan peran yang sangat berbeda-beda. 
Dan sebelum menunaikan ibadah atau pengabdian kepada Tuhan dengan jalan mencari pengetahuan, agaknya memahami konteks penghambaan adalah kunci utama proses tersebut. dengan kata lain pengetahuan masih berada pada posisi teratas proses pencarian. Dengan demikian muncullah Hadits Nabi yang mengatakan “bahwa mencari ilmu itu sejak di dalam kandungan sampai di dalam liang lahat.” 
Konteks hari ini, ada beberapa pekerjaan ruwet (PR) yang harus benar-benar dikerjakan dengan baik. Kesadaran yang mempengaruhi kemauan, kemudian memancing rasa penasaran, kemudian melakukan percobaan-percobaan, baik teoritis maupun prakatis, tergantung dalam sudut apa penerimaan pengetahuan tersebut, kemudian meramu dan mengembangkan menjadi moral. 
Tetapi apakah proses pengabdian atau penghambaan berhenti di titik ini? agaknya tidak. Selagi pengetahuan memberi ruang yang sangat lebar maka tiada alasan untuk menaruh dan mencari tempat pemberhentian. Karena dengan demikian maka kebijaksanaan menjadi hasil akhir dari pengabdian, maka tidak hanya belajar caranya berbicara dan menulis saja. Tetapi juga belajar bagaimana caranya mendengar. Selagi mendengar adalah proses transformasi pengetahuan yang tiada batasnya maka berhenti berbicara sejenak adalah kondisi bijak dari setiap personal.  
Oleh karenanya merenung menjadi pintu utama proses belajar sebagai pengabdian, pasalnya pengembaraan terhadap diri diawali dengan perenungan panjang, sehingga ketika proses pengembangan diri berjalan, maka pelajaran pertama yang diterima adalah rasa syukur. Mengapa? karena dengan belajar maka akan tahu di mana kekurangan dan letak ketidak tahuannya. Maka rasa syukur yang tumbuh itulah yang menjadikannya selalu beribadah dan mengabdi kepada Tuhan. 
Ahmad dahri, 2019
Penulis adalah Ahmad Dahri atau Lek Dah, ia santri di Pesantren Luhur Bait al Hikmah Kepanjen, juga nyantri di Pesantren Luhur Baitul Karim Gondanglegi, ia juga mahasiswa di STF Al Farabi Kepanjen Malang. Beberapa karya dalam bentuk buku adalah, Multikulturalisme Kontekstual Gus Dur(2015, Revisi 2018), Dialektika Pesantren (2016), Kumpus Orang-Orang pagi (2017) dan monolog Hitamkah Putih Itu (2017, Cetak ke-Dua 2018), Metodologi tafsir (Menyelami Kalam Tuhan) (2018). Dan akan segera terbit Terjemah Niswat assufiyah karya Al Azdy, dan Kumpus Jalan Setapak. Bisa disapa melalui Surel: Lekdah91@gmail.com  

Pilihan Lain

Selamat datang di layanan kami Setuju Lain Kali

Privacy & Cookies Policy