3 Desember 2020

Berdamai dengan Perbedaan

Sesak dengan adu komentar yang tak memberikan solusi malah mengembangkan caci maki menjadi gambaran kondisi media sosial kita. Bukan menjadi kebetulan bagi kehidupan saat ini di bangsa kita, politik adu domba, caci maki, identitas (keagamaan), hoaks semakin hari menjadi wajah perseteruan yang tak pernah ada habisnya. Seolah mati satu tumbuh seribu, berjibunya informasi semakin mempermudah produksi berbagai berita yang ternyata di dalamnya terdapat berbagai isi yang bisa membahayakan bagi masyarakat. Apabila nalar dalam alur jurnalistik tidak di ketahui semua masyarakat, terkhusus dalam hal verifikasi kebenaran suatu informasi sudah tentu hoax akan mudah diterima dan disebarluaskan ke berbagai kalangan.
Melihat korban yang bisa dikelabui informasi hoax bukan hanya dari kalangan menengah ke bawah, kalangan atas yang notabene memiliki dasar pendidikan yang baik bisa saja terhasut menjadi korban dari perkembangan berita hoax. Komoditi yang menjadi isu disetiap beredarnya informasi hoax tidak lepas dari permasalahan keagamaan, perpolitikan hingga adat. Ketiga hal tersebut senantiasa menjadi objek dari produksi informasi hoax untuk disebarluaskan dengan informasi-informasi yang belum tentu kebenarannya. Melihat isu dari ketiga tersebut merupakan isu yang sensitif dikalangan masyarakat kita yang terkenal dengan keberagamanya.
Isu keberagaman mencuat kembali karena kita masih belum begitu paham akan sebuah dari keberagaman yang diinginkan oleh para pendiri bangsa ini. Bahwasanya Bung Karno sendiri menyatakan bahwa keberagaman sudah menjadi titik akhir dari bangsa kita. Bahwa negara ini tidak untuk kelompok, etnis, suku, agama dan budaya tertentu. Akan tetapi Indonesia dari sabang sampai merauke milik kita semua dan bersama.

Sudah jelas, bahwa penegasan yang dikatakan oleh Bung Karno menjadi titik akhir, yang seharusnya menjadi akhir dari wacana tentang keberagaman. Akan tetapi, kondisi sosial kita sudah berubah seiring semakin cepatnya arus informasi melalui media internet. Keberagaman mencuat kembali karena kita sedikit resah dengan perkembangan media sosial kita yang akhir-akhir ini penuh dan sesak dengan konten-konten yang mengarah kepada perseteruan yang tak pernah ada habisnya.
Sedikit perbedaan entah dalam perbedaan pandangan, pilihan politik hingga ketersinggungan terhadap agama. Hal inilah yang mengakibatkan kita ingin mengembalikan konsep baru dalam menanggapai isu keberagaman yang kembali hadir ditengah-tengah kehidupan kita.Diperlukan suatu titik temu antara perdebatan yang timbul diantara kita selama ini, kunci penguatan persatuan dan kesatuan sejatinya adalah dialog. Tanpa proses dialog tidak akan pernah ada persatuan dan kesatuan.
Paulo Freire (1972) dalam bukunya Pedagogy of the Oppressed menyebut bahwa proses dialog harus didasarkan pada cinta, keyakinan dan kerendahan hati. Dialog merupakan hubungan horizontal didasari sikap saling memercayai, sehingga yang berdialog dapat bekerja sama lebih erat. Kalau curiga selalu dikedepankan, tak akan ada dialog. Takutnya, jika pihak yang senantiasan berhaluan pandangan dianggap sebagai musuh yang nista dan perlu dihilangkan.
Kehidupan kita yang serba berbeda terkhusus dalam kekayaan lokasl masyarakat Indonesia, sudah seharusnya kegiatan dialog sebagai langkah dalam memertemukan segala perbedaan yang selama ini menjadi ciri kekyaaan bangsa kita. Dialog menjadi salah satu dari manifestasi point-point dalam sila pancasila yang menguatkan unsur musyawarah dalam mengambil sebuah keputusan yang itu untuk kepentingan bersama.
Ruang-ruang dialog sebagai wadah dalam peleburan wacana keberagaman juga sebagai langkah dari proses membentuk peradaban kedepanya, yang itu berawal dari kerjasama semua kalangan untuk sepakat dalam proses menyatukan segala bentuk yang dapat menjadi alasan pemecah belah keberagaman.
Hidup di tengah lingkungan yang homogen seperti Indonesia menjadi keharusan untuk menjadikan kegiatan dialog-dialog sebagai rutinitas, yang selain untuk melebur menjadi kesatuan. Proses dialog akan memutus sekat-sekat pembatas antar individu ketika mengahadapi suatu permasalahan kelompok.

Pembiasaan dalam berbaur dengan kelompok yang berbeda akan memperkaya kita terhadap perspektif dalam memadang kehidupan. Dengan saling mengenal, orang akan menghapus rasa curiga terhadap orang lain. Kita bisa secara cepat mengonfirmasi mengenai streotif ataupun prasangka buruk. Komunikasi yang terjalin antara pihak berbeda akan mengikis prasangka buruk yang selama ini dirawat.
Berbaur dan berelasi dengan mereka yang berbeda agama, sosial ekonomi, dan budaya sejak dini memang bukan sebuah kegiatan yang luar biasa. Akan tetapi memiliki efek besar terhadap lorong masa depan Indonesia. Di sini peran aktif keluarga, lembaga pendidikan, dan masyarakat menjadi penting. Kegiatan dialog terhadap perbedaan harus selalu dipromosikan kedepanya.

Pilihan Lain

Selamat datang di layanan kami Setuju Lain Kali

Privacy & Cookies Policy