26 November 2020

Berkenalan dengan Nuansa Fikih Sosial

Sebagaimana tak banyak disadari oleh publik, bahwa keseharian kita sama sekali tidak dapat dilepaskan dengan seperangkat hukum agama yang mengelilingi kita. Seakan kita menjalani hidup ini ala kadarnya, alamiah, yang sepintas tak melulu berurusan dengan persoalan agama. Sepintas urusan agama hanya terbatas pada prihal solat, puasa dan seperangkat tatanan ibada ansih. Di luar itu, kita menganggap berbagai aspek kehidupan kita sama sekali terlepaskan dari urusan agama. Padahal tidak.

Sejatinya, segala apa yang sedang menjadi predikat (untuk tidak mengatakan wujud manusia sebagai subjek dan pada saat yang sama juga menjadi objek dari lingkungan sekitarnya dan bahkan dari dirinya sendiri) pada manusia, sesaatpun tak dapat dipisahkan dengan prihal agama. Sebab, pada hakikatnya manusia adalah objek mutlak hukum Tuhan. Sehingga manusia tidak dapat mengelak dari hukum itu sendiri.

Bertitik tolak dari ini, penting diingat kembali bahwa hukum tuhan tidak selamanya harus berupa teks qoth’i. Melainkan juga berupa konteks dhanni yang mesti disikapi dengan bijak oleh setiap manusia. Konteks dhanni dimaksudkan adalah segala apa yang berkaitan (langsung atau tidak) dengan hidup dan kehidupan manusia. Oleh karenanya untuk menjalani hidup dan kehidupannya, manusia membutuhkan seperangkat tata-aturan (hukum) yang menjamin terciptanya kenyamanan bersama, bahkan kesejakteraan sosial. Dari refleksi inilah kemudian dirasa perlu membuat konsep turunan serta pengertian terkini apa yang dimaksud hukum di sini.

Bagi penulis, untuk memperolah nyamannya kehidupan dan bahkan kesejahteraan bersama, antar sesama manusia dan lingkungan sekitar, maka dibutuhakanlah konsep-konsep turunan yang aplikatif dari hukum agama untuk keseharian manusia. Konsep tata-atur inilah yang kemudian oleh penulis diistilahkan dengan hukum fikih sosial. Suatu hukum agama yang bersinggungan langsung dengan prektek hidup manusia.

Tentang Fikih  Sosial, jauh dahulu KH. Sahal Mahfud telah memberi pengertian apa yang dimaksud dan dikehendaki oleh fikih sosial. Bagi KH, Sahal Fikih Sosial adalah fikih  yang berbicara manusia beserta kehidupannya secara umum dan terperinci. Fikih  sosial hendak mangatur dan mengarahkan ikhwal manusia dalam kehidupan dunia dengan tetap mempertimbangkan kehidupan akhirat baik secara individual dan komunal dalm hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.[1] Menuru kiai Sahal hukum agama yang dalam ini keterwakilannya diposisikan pada hukum fikih, sudah seharusnya menyentuh rana sosial. Suatu ruang lingkup hukum fikih yang jauh lebih luas dari sekedar berurusan dengan prihal hubungan manusia dengan tuhannya.

Dalam konteks ini, fikih sosial oleh penulis lebih dititik-tekankan pada proses pemahaman manusia akan hidup dan kehidupannya yang dikaitkan dengan segala bentuk ketentuan agama. Sebagaimana lazimnya, manusia memiliki harapan hidup baik, sejahtera, tenang dan aman. Segala bentuk harapan hidup ini mestinya dijawab oleh agama. Dari itulah dikira penting untuk melakukan pemahaman yang holistik terhadap agama.

Kiai Sahal Mahfud, mendefinisikan fikih sosial dengan sebentuk ajaran agama yang mampu merangkum aturan tentang pola hubungan hidup manusia secara integral. Hubungan manuasi dengan sesamanya serta hubungan mansia dengan tuhannya. Aturan hidup manusia dengan tuhannya diturunkan menjadi serangkaian komponen fikih ibadah layaknya bab solat, puasa dan haji. Sementara aturan hubungan hidup manusia dengan sesamanya diturunkan menjadi ajaran fikih yang sifatnya horizontal berupa tata-cara bergaul di masyarakat (muasyarah) dan tata-cara bertransanksi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya (mualamah).

Selanjutnya fikih sosial yang berbicara hubungan horizontal manusia ini dirinci lagi kedalam berbagai sub bab bahasan sebagaimana lazimnya yang tertera di dalam kitab-kitab klasik. Di antaranya adalah dua hal yang telah disebutkan di atas muasyarah mengatur kehidupan berbangsa dan berwarga Negara dan muamalah yang mengatur tatacara pemenuhan kebutuhan hiudup manusia serta berbagai hukum dan aturan membina keluarga (munakahat), hukum yang menjamin ketentraman dan keadilan sosial berupa jinayat, jihad, dan qodla’.

Fikih  Sosial                       

Dari gambar di atas dapat dilihat bahwa fikih  sosial yang dimaksudkan oleh Kiai Sahal Mahfud tidak semata berarti hubungan manusia dengan sesamanya. Akan tetapi fikih sosial memotret persoalan manusia secara integral, secara simitris, secara utuh tentang manusia dan kehidupannya yang terbagi kedalam dua aspek hubungan. Yaitu hubungan manusia dengan sesamanya dan hubungan mansia dengan tuhannya. Sebab kedua-duanya memiliki sisi-sisi terkait yang tidak dapat dipisahkan. Lihat saja suatu misal, tentang kewajiban menunaikan zakat yang sepintas sangat primordial, pada hakikatnya tersimpan ajaran sosial. Begitu juga sebaliknya dengan hukum muamalah, munakahat yang juga memiliki dimensi vertikal tak terpisahkan.

Fikih  Sosial yang ditawarkan Kiai Sahal menjadikan fikih  tak hanya sebagai justifikasi hukum agama belaka. Lebih dari itu, fikih  sosial memiliki nilai tawarnya sebagai kritik sosial dan agen perubahan dengan menyertakan semangat primordial dalam segala bentuk ruanglikup sifat dan kerja manusia itu sendiri. Dengan kata lain, Kiai Sahal menghendaki fikih lebih menyentuh terhadap prilaku keseharian hidup manusia dalam segala aspeknya dengan memosisikan nilai agama sebagai tumpuhan semangatnya. Maka dari itu, fikih sosial mestinya lebih peka terhadap masalah lingkungan hidup, persoalan kemasyarakatan prihal kewarga negaraan yang didalamnya tidak dapat dipisahkan dengan tradisi, kulutr dan budaya manusia itu sendiri.

Fikih  sosial merupakan sebuah ikhtiar aktualisasi fikih  klasik melalui upaya aktualisasi keseluruhan nilai yang ada didalamnya untuk dioptimalkan pelaksanaannya dan diserasikan dengan tuntunan makna sosial yang terus berkembang. Tujuan pokok fikih sosial adalah membentuk satu konsep fikih  yang berdimensi sosial, atau fikih yang dibangun dengan sejumlah peranan individu atau kelompok dalam proses bermasyarakat dan bernegara. Secara khusus bisa dikatakan bahwa pemikiran fikih sosial ini berangkat dari realitas sikap keberagaman masyarakat tradisional, yang secara hirarkis mempertahankan pola bermadzhab secara utuh (qauli dan manhaji) dan benar (dimanifestasikan dalam seluruh sendi kehidupan).


[1] Sahal Mahfudz, Nuansa Fiqh Sosial  (Yogyakarta: LKis Yogyakarta. 1994), 4.


Oleh Ahmad Fairozi : alumni PP. Annuqayah yang sedang menempuh pendidikan Pasca Sarjana Islam Nusantara di UNUSIA Jakarta

Pilihan Lain

Selamat datang di layanan kami Setuju Lain Kali

Privacy & Cookies Policy