25.3 C
Indonesia
16 Juli 2019
Resensi

Bersedih dan Menangis Bersama Buku Esai

Barangkali saya yang terlalu mudah bersedih. Tapi, apa kiranya yang bakal kau rasakan begitu membaca tentang kemungkinan Facebook menjadi pemakaman massal, seorang penulis yang menembak kening sendiri karena merasa sudah tak memiliki apa-apa dalam hidup, dan anak-anak yang terbunuh karena perang—selain bersedih dan menangis?

Pada sebagian besar dari 20 tulisan dalam buku ini, Dea Anugrah menulis esai seperti menulis cerita-cerita sedih. Terutama dalam tiga esai yang isinya saya sitir di awal. Seluruh esai dalam buku ini dibuat dengan gaya memikat. Kadang bikin tertawa dengan humor-humor tajam, lebih banyak bikin dada bergetar dan mata basah.

Dalam Di Mana Ada Penulis, di Situ Ada Cemooh Dea menderetkan banyak aksi saling cemooh antarpenulis pada berbagai masa. Di antaranya ia mengutip sindiran Mark Twain terhadap karya Jane Austen. “Setiap kali membaca Pride and Prejudice, aku ingin menggali kuburan Austen dan menggetok kepalanya dengan tulang keringnya sendiri.” (hlm. 48)

Cemoohan yang terdengar seperti humor. Humor yang keras dan gelap.

Sementara dalam Ada Apa dengan Pisang? dan Mengutuk dan Merayakan Masturbasi, kelucuan sudah muncul sejak dari judul. Bagaimana penulis membikin sebuah esai perihal remeh-temeh belaka; pisang (tepatnya soal pabrik pisang yang menguasai dunia) dan masturbasi. Yang terakhir, jangankan sebagai bahan tulisan, sekadar mengucapkannya saja menjadi tabu bagi sebagian orang.

Buku ini memang berisi cukup banyak tema yang sepele dan jarang ditulis. Selain soal pisang dan masturbasi, ada juga tentang sebuah barbershop di Jakarta yang hanya mau mencukur pelanggan dengan caranya sendiri. Dalam esai berjudul Kebebasan dan Keberanian itu, Dea menulisnya dengan penuh detail dan cara yang menyenangkan. Sebuah kemewahan membaca yang patut disyukuri, karena tidak banyak penulis Indonesia menulis dengan model begini.

Di luar komedi dan hal-hal sepele, kesedihan mendominasi buku ini. Sebagai salah satu bukti, ada dua esai yang bahkan berjudul menggunakan kata ‘kesedihan’ dan ‘sedih’ yaitu Kesedihan yang Menguatkan dan Kisah Sedih, Perang, dan Musuh yang Diciptakan.

Esai pertama membahas mengenai istilah khusus untuk menggambarkan melankolia kolektif dalam bahasa Portugis dan Turki—yaitu saudade dan huzun. Penulis menutup esai tersebut dengan, “Berbeda dari bahasa Portugis dan Turki, bahasa Indonesia tak punya istilah khusus untuk melankolia kolektif. Sebabnya, kemungkinan besar, karena kita memang tak mengenal kesedihan bersama sekalipun sejarah kita dipenuhi kekalahan, penderitaan, dan tragedi. Wajar bila kita senantiasa jadi sasaran empuk buat diadu domba.” (hlm. 92)

Sedangkan esai kedua menjabarkan efek buruk permusuhan dan perang dan penderitaan-penderitaan setelahnya.

Buku kumpulan esai ini tidak ditulis berdasarkan satu tema tertentu atau esai bersambung yang harus dibaca secara berurutan dari awal ke akhir. Seharusnya saya bisa memilih untuk membaca yang menghibur-menghibur saja (tentu dengan melihat dari judul pada daftar isi), dan menyisakan esai-esai sisanya untuk dibaca belakangan. Tapi, bagaimana mungkin? Sedari esai pembuka, yang mengisahkan perjalanan penulis di Pulau Biawak, aroma melankolis sudah tercium menyengat. Walau esai itu tak terang-terangan menuliskan soal kisah sedih—malahan ia berbicara tentang perjalanan, yang lazimnya menyenangkan—namun cara Dea menulis narasi dan deskripsi yang tampak sangat terjaga dan ritmis juga syahdu, betul-betul menyentuh sanubari. Membangkitkan emosi.

Sekilas esai-esai dalam buku ini mengingatkan pada serial Catatan Pinggir Goenawan Mohamad. Namun, dalam wujud yang lebih segar dan asyik. Latar belakang Dea sebagai penyair dan penulis cerpen bisa menjadi penjelas mengapa esai-esai sepanjang buku ini begitu nikmat dibaca. Karena ia hadir dengan penuturan khas prosa, bukan hanya sekumpulan data dan kata-kata yang membosankan.

Pada banyak esai, saya berhenti cukup lama setelah membacanya. Merenungi isinya dan memikirkan gagasan-gagasan yang terselip di baliknya. Setiap membaca bagian-bagian yang sedih, saya berusaha untuk cepat-cepat berpindah ke halaman lain. Tapi sulit sekali rasanya. Alih-alih, saya malah hanyut dalam bayang-bayang kesedihan itu. Apalagi seusai membaca esai terakhir sekaligus penutup buku ini, di mana penulis membicarakan soal orangtua yang menjadikan anak-anaknya untuk turut dalam aksi bom bunuh diri; seharusnya, kata Dea, ia “menyadari bahwa hidup begitu indah dan hanya itu yang dia punya.” (hlm. 179). Bukan meledakkan diri dan mengharap iming-iming surga dengan membuat banyak orang terluka dan sedih karena kehilangan.

Judul: Hidup Begitu Indah dan Hanya Itu yang Kita Punya; Penulis: Dea Anugrah; Penerbit: Buku Mojok, 2019; Tebal: vi + 181 halaman

Win Han tinggal di Bandung, menulis puisi, cerpen, dan esai

Related posts

Nabi Yusuf, Kemuliaan, dan Dakwah yang Ramah Post Pagination

admin

Islam Ala Amirika

PENA SANTRI

Ibnu Sina Pemantik Pijar Peradaban Islam

PENA SANTRI

Memotret Spirit Perang Sang Nabi

PENA SANTRI

Oase Keteladanan K.H. A. Warits Ilyas: Sebuah Ringkasan Buku

PENA SANTRI

Khadijah; Role Terbaik Perempuan Shalihah

admin

Leave a Comment