Flash Sale! to get a free eCookbook with our top 25 recipes.

Biografi Nyai Khoiriyah Hasyim dan Jejak Perjuangan Emansipasi Perempuan

Biografi Nyai Khoiriyah Hasyim dan Jejak Perjuangan Emansipasi Perempuan
Listen to this article

Oleh: Khusnul Khotimah

Latar Belakang Keluarga dan Pendidikan

Nyai Hj. Khoiriyah Hasyim lahir pada tahun 1908 M (1326 H) di Tebuireng, Jombang dan meninggal dunia di RSUD Jombang pada hari Sabtu tanggal 2 Juli 1983 M (21 Ramadhan 1404 H). Beliau merupakan puteri pertama dari Hadratus Syaikh K.H. M. Hasyim Asy’ari dan Nyai Hj. Nafiqoh. Dengan demikian, Nyai Hj. Khoiriyah Hasyim adalah kakak kandung dari K.H. A. Wahid Hasyim, Menteri Agama RI pertama. Bibinya Gus Dur dan K.H. Sholahudin Wahid. Jika ditelusuri nasabnya lebih jauh, maka garis keturunan Nyai khoiriyah baik dari ibu maupun ayahnya, keduanya bertemu pada Lembu Peteng (Brawijaya VI). Dari pihak ayah melalui Joko Tingkir sedangkan dari pihak ibu dari Kyai Ageng Tarub I.

Ketika Nyai Khoiriyah masih anak-anak, beliau tidak diperbolehkan sekolah di madrasah atau mondok di luar pondok ayahnya, sebagaimana saudara laki-lakinya. Tetapi Nyai Khoiriyah tidak menyiakan kesempatan mendengarkan ayahnya sedang mengaji kepada santrinya. Sesuai situasi saat itu, Nyai Khoiriyah sebagai anak perempuan menjalani pendidikan tidak selayaknya anak laki-laki. Berbeda dengan adik kandungya yang laki-laki, Wahid Hasyim, Karim Hasyim, dan Kholiq Hasyim. Mereka mencari ilmu dengan mengembara dari pesantren ke pesantren. Sementara Nyai Khoiriyah mendapat didikan langsung dari ayahnya. Pada umur 13 tahun Nyai Khoiriyah Hasyim sudah terlihat dewasa. Maka dari itulah ayahnya lantas menikahkan dengan salah seorang santrinya yang pandai dan alim, yakni; K.H. Ma’sum Ali, santri asal Maskumbambang, Gresik. Beliau merupakan salah satu santri senior Hadratussyaikh K.H. M. Hasyim Asy’ari di Pesantren Tebuireng.

Suami Nyai Khoiriyah dikenal pandai dan alim. Ahli di bidang ilmu falak, ilmu sharaf, dan ilmu lainnya. Kitab Amtsilatu Tasrifiyah yang selalu menjadi pegangan dan pedoman para santri di seluruh pesantren di Indonesia merupakan karya suami Nyai Khoiriyah. Setelah menikah dengan K.H. Maksum Ali, Nyai Khoiriyah Hasyim menempati rumah sederhana di dusun Seblak yang jaraknya sekitar 300 M ke arah barat dari Pesantren Tebuireng. Ayahnya mendorong keduanya untuk mendirikan sebuah pesantren. Jadilah di atas tanah yang ditinggali berdiri sebuah pondok pesantren. Kondisi desa tersebut sama seperti daerah Tebuireng tempo dulu, dimana masyarakatnya belum tercerahkan dan keamanannya juga belum sepenuhnya dirasakan. Namun semua ini tidak membuat Nyai Khairiyah dan K.H. Maksum Ali merasa terusik sedikitpun. Bahkan tidak mengurangi keharmonisan perjalanan kehidupan keluarganya saban hari. Susah senang dan berjuang bersama membangun keluarga dan pesantrennya dijalani dengan ikhlas, tanggungjawab dan mandiri.

Sepeninggal K.H. Maksum Ali Tahun 1933 roda kepemimpinan diambil alih oleh Nyai Khoiriyah. Dengan bekal ilmu yang diperolehnya beliau mampu melanjutkan kepemimpinan pondok pesantren Seblak. Selanjutnya beliau menurunkan ilmunya kepada kedua putrinya yaitu Abidah dan Jamilah, agar mampu meneruskan perjuangan pondok pesantren Seblak.

Pada tahun 1938 Nyai Khoiriyah Hasyim di persunting oleh K.H. Muhaimin. Seorang Kiai yang cakap ilmu dan alim. Beliau berasal dari Lasem Jawa Tengah. Suaminya merupakan kepala Madrasah Darul Ulum di Makkah. Setelah menikah Nyai Khoiriyah pun meninggkalkan kampung halaman untuk tinggal di Makkah bersama suaminya. Kepemimpinan pondok pesantren Seblak diserahkan kepada putrinya, Nyai ‘Abidah Maksum dan suaminya KH. Mahfudz Anwar. Selama di Makkah, beliau melibatkan diri dalam dunia pendidikan. Bahkan, mendirikan lembaga pendidikan bagi kaum perempuan yakni, Madrasatul Bannat. Tentunya menjadi salah satu sosok perempuan pesantren pertama yang menjadi orang besar dan berpengaruh di tanah suci. Jika dari golongan laki-laki sudah sering kita dengar dari Nusantara yang menjadi guru besar di tanah arab, seperti Syekh Yasin al Fadani. Pertanyaan yang kemudian mengganggu pikiran kita, kenapa namannya kurang familiar di kalangan masyarakat Indonesia, bahkan mungkin masyarakat pesantren, kontras dengan Kartini. Seorang tokoh perempuan dari Jepara yang selalu diperingati pada bulan April dalam saban tahunnya.

Perjuangan Emansipasi Nyai Khoiriyah Dari Negeri Sendiri sampai Tanah Suci

Di Makkah kehidupan Nyai Khoriyah Hasyim kembali menemui jalan pahit dan getir. Dimana suami yang begitu dicintai dan disayangi kembali meninggalkannya. Dua lelaki hebat yang pernah bersanding dengannya selalu diambil sang Maha Hidup lebih dahulu. Setelah, Kiai Muhaimin wafat pada tahun 1956 Nyai Khairiyah pun tetap sabar menerima semuanya dengan ikhlas. Mengingat, semua adalah milik Allah. Kapanpun dan dimanapun seseorang harus siap terhadap segala apa yang dipunyai akan diambil yang Maha Kuasa cepat atau lambat. Selama 20 tahun lebih beliau hidup di Makkah, tentu bukan waktu yang singkat. Atas kegigihan dalam memperjuangkan hak-hak kaum perempuan di Mekah itulah, kemudian Nyai Hj. Khoiriyah Hasyim diundang oleh Raja Arab Saudi dan diberikan penghargaan khusus yang berupa sebuah cincin.

Nyai Hj. Khoiriyah Hasyim kemudian kembali ke tanah air atas saran Ir. Soekarno (Presiden RI) ketika berkunjung ke Mekah, bahwa Indonesia sangat membutuhkan orang-orang berdedikasi tinggi seperti Nyai Hj. Khoiriyah Hasyim untuk membangun negara yang baru merdeka tersebut. Setelah sampai di Tebuireng, pada tahun 1957 Nyai Hj. Khoiriyah Hasyim memimpin kembali Pesantren Puteri Seblak setelah K.H. Mahfudz Anwar memilih berkonsentrasi untuk mengasuh Pesantren Sunan Ampel di Jombang. Pada tahun 1970, dikarenakan kesehatan yang mulai menurun dan atas saran dr. Soediyoto, Nyai Hj. Khoiriyah Hasyim kemudian berpindah ke Surabaya. Selama di Kota Pahlawan ini, Nyai Hj. Khoiriyah Hasyim pernah menjadi Dewan Penasihat Taman Pendidikan Puteri (TPP) Khadijah, Pengurus Yayasan Masjid Rahmat (Yasmara) Kembang Kuning, Pimpinan Wilayah (PW) Muslimat NU Jawa Timur dan sebagainya.

Mendirikan Madrasah Kuttabul Banat di Mekkah         

Bermula dari pengalaman Nyai Khoiriyah Hasyim tentang pendidikan perempuan di Haramain, Mekkah. Pada masa itu perempuan Mekkah menghitung gelas dengan hitungan satu-persatu dengan jumlah gelas yang sangat banyak. Hal ini menggerakkan Nyai Khoiriyah Hasyim untuk mengajarkan ilmu perhitungan dengan metode yang lebih efesien dan efektif yaitu dengan cara mengalikan jumlah perlusinan gelas. Keadaan sistem pendidikan perempuan Saudi Arabia yang belum terorganisir dengan baik menjadi alasan Nyai Khoiriyah untuk membangun madrasah dengan sistem yang terorganisir dengan baik. Nyai Khoiriyah Hasyim mengusulkan pembentukan madrasah kepada Dewan Masyayikh Dar Al-ulum yang awalnya diajukan oleh Nyai Khoiriyah dan Syaikh Muhaimin Al Lasemi. Dalam pembentukannya Nyai Khoiriyah Hasyim diangkat menjadi mudirah dalam Madrasah tersebut. Pertama-tama Madrasah Ibtidaiyyah diperuntukkan bagi anak-anak perempuan pada Rabiul Awal 1362 M. Kemudian dilanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi yaitu tingkat tsanawiyyah, dan seterusnya. Madrasah ini kemudian diikuti oleh madrasah-madrasah lain di berbagai kawasan termasuk Madrasah Banat di Saudi Arabia, Madrasah Ibtidaiyah di Kampung Syamiyah.

Madrasah Kuttabul Banat digagas oleh Nyai Khoiriyah hasyim dan Syaikh Muhaimin Al Lasemi kemudian dilanjutkan oleh Syaikh Yasin Al Fadani. Pendidikan dalam madrasah ini berbasis semi formal yaitu pembelajaran agama yang beraliran Ahlusunnah waljamaah dan pendidikan saintek serta wawasan sosial. Pada bulan Rabiul Awal 1377 H atau pada tahun 1957 M Nyai Khoiriyah membuka pesantren untuk peserta didik perempuan yang menetap karena jarak antara madrasah dan rumahnya yang jauh. Pembukaan pesantren bagi peserta didik yang menetap bertempat tinggal di kediaman beliau.  Pesantren tersebut bernama Ma’had Li Al-Muallimat yang sampai saat ini tetap ada dan berkembang, bahkan sudah ada Jami’iyah Khoiriyah University yang didirikan Hj. Aminah Syaikh Yasin Al Fadani sebagai bentuk penghargaan dan mengenang Nyai Khoiriyah Hasyim yang sudah menjadi pelopor pendidikan perempuan pertama di Mekkah.

Pendiri dan Pengasuh Pesantren Seblak

Sepeninggal K.H. Maksum Ali Tahun 1931 roda kepemimpinan diambil alih oleh Nyai Khoiriyah. Dengan bekal ilmu yang diperolehnya Nyai Khoiriyah mampu melanjutkan kepemimpinan pondok pesantren Seblak yang didirikan bersama sang suami KH. Maksum Ali pada tahun 1957 sebelumnya beliau juga pernah memimpin Pesantren Tebu Ireng pada tahun 1953. Peranan Nyai Khoiriyah Hasyim sebagai pengasuh untuk kedua kalinya di Seblak membuat laju perkembangan pesantren semakin maju. Pesantren Seblak didirikan khusus untuk santri perempuan pada awalnya dari berbagai kalangan. Nyai Khoiriyah tidak pernah mmepermasalahkan biaya pendidikan selagi para peserta didik atau santri niat dan semangat untuk belajar. Perkembangan awal Pesantren Putri Seblak bermula dari santri putri yang datang ke rumah Nyai Abidah yaitu cucu tertua Kiai Hasyim Asy’ari yang mengaji Iqra dan kitab kuning, setelah itu diutuslah Nyai Khoiriyah untuk mengembangkan menjadi pesantren khusus putri. Dalam pengasuhan Nyai Khoiriyah pesantren semakin maju dan keilmuan yang diberikan pada santri semakin luas. Dalam pengasuhan pesantren Nyai Khoiriyah mengganggap santrinya seperti anak sendiri, sehingga hubungan antara guru dan murid terjalin sangat akrab.

Proses pengasuhan Pesantren Seblak juga dimanfaatkan Nyai Khoiriyah untuk mengembangkan sistem pendidikan yang berada di naungan Pesantren Seblak. Madrasah Tsanawiyah dikembangkan dengan adanya Madrasah Aliyyah dan Sekolah Persiapan Tsanawiyah. Selama pengasuhan pesantren di bawah naungan Nyai Khoiriyah Hasyim, beliau sangat memperhatikan pengembangan para santri. Terobosan dalam bidang formal dan non formal juga beliau kembangkan di sana. Kegiatan yang diusung oleh beliau selain sistem kegiatan belajar mengajar bidang agama dan akademik juga terdapat kegiatan Pengajian Al-Qur’an, Khitabiyah, Tentir Qira’ah, Majlis Ta’lim, musyawarah dan kegiatan rutin malam jum’at yang diperuntukkan bagi para ibu-ibu umum. Beliau juga menciptakan kerudung Rubu’ yang dijadikan kerudung seragam dalam pesantren. Hal ini didasari dari keinginan beliau agar para santri bisa menutup aurat dengan benar. Karakter pemikiran terbuka dan luas yang dimiliki Nyai Khoiriyah Hasyim  membuat beliau bisa menjadi panutan perempuan berkemajuan. Bagi beliau santri atau perempuan harus melek informasi, cerdas, memiliki keberanian untuk belajar, dan harus mandiri. Hal semacam itulah yang selalu ditanamkan kepada para santri untuk membentuk karakter perempuan yang baik dan bijak.

Membangun Perpustakaan dan Pemberantasan Perempuan Buta Huruf

Keadaan perempuan yang pada masa itu sangat dikekang oleh budaya patriarki serta faktor lain membuat perempuan terhambat untuk berkembang, terutama dalam ranah pendidikan. Doktrinasi budaya dan agama yang keliru seakan menyempitkan ruang gerak perempuan dalam berkembang di berbagai bidang. Perempuan dengan klasifikasi tertentu yang bisa mengenyang pendidikan maksimal separuh dari jenjang hak laki-laki dalam mengenyang pendidikan. Figur Nyai Khoiriyah Hasyim yang merupakan anak dari Ulama dengan pemikiran terbukanya berusaha untuk merubah keadaan perempuan pada masa itu. Proses Nyai Khoiriyah Hasyim untuk mendapatkan pendidikan juga tidak didapat dengan mudah. Pada masa kecil saat belum ada pesanten bagi kaum perempuan beliau selalu sembunyi-sembunyi untuk mengikuti kegiatan mengaji para santri putra dari balik satir langgar (musholla untuk belajar mengaji atau sorogan). Komitmen Nyai Khoiriyah yang ingin agar perempuan bisa maju dan mendapatkan ruang belajar membuat beliau tergerak untuk mendirikan pesantren perempuan.

Nyai Khoiriyah Hasyim yang mempercayai bahwa membaca adalah penting dan bisa dijadikan sarana belajar untuk memenuhi kewajiban umat muslim dalam belajar, membuat beliau berinisiatif untuk mendirikan perpustakaan. Pentingnya perpustakaan untuk menopang sumber bacaan bagi para santri maupun masyarakat umum. Nyai Khoiriyah membuka perpustakaan untuk pertama kalinya yang ada di Jombang untuk para santri. Di perpustakaan tersebut beliau juga mengajar membaca huruf latin untuk para santri ataupun masyarakat umum di sekitar pesantren terutama para kaum perempuan. Buku yang dikoleksi oleh perpustakaan awalnya adalah kitab-kitab kuning, Al-Qur’an dan beberapa buku lawas milik beliau dan kerabat sampai akhirnya terisi oleh donatur dan hasil pembelian buku. Dari proses kehidupan beliau yang peduli dan aktif dalam pengembangan diri bagi kaum perempuan membuat beliau banyak menerima penghargaan. Emansipasi beliau aktualisasikan dalam ranah pendidikan patut menjadi motivasi bagi para perempuan terutama para santri dan pelajar di Indonesia. Sampai detik ini segala kontribusi yang diberikan Nyai Khoiriyah Hasyim masih sangat erat dirasakan oleh banyak orang.

DAFTAR PUSTAKA

Adam, Asvi Warman. 2007. “Perempuan dalam Sejarah Lelaki”. Jurnal Perempuan

No. 52. Jakarta: Yayasan Jurnal Perempuan.

Burhanuddin Jajat. 2002. Ulama Perempuan Indonesia. Jakarta: Gramedia

Fakih, Mansour. 2008. Analisis Gender dan Transformasi Sosial. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Huda Syamsul. 2014. Guru Sejati Hasyim Asr’ari. Jombang: Pustaka Inspira

Kowani. 1978. Sejarah Setengah Abad Pergerakan Wanita Indonesia. Jakarta: Balai          Pustaka.

Kuntowijoyo. 2007. Metodologi Sejarah. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Mardiasih Kalis. 2019. Muslimah Yang Diperdebatkan. Sleman: Mojok.

Mukani. 2015. Biografi dan Nasihat Hadrotussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari.                    Jombang: Pustaka Tebuireng.

Ulum Amirul. 2015. Nyai Khairiyah Hasyim Asy’ari. Surabaya: Global Press

Tulisan ini direpost dari ulamanusantaracenter.com

admin
Pena Santri adalah media dedikasi Santri Pejuang NKRI