27 C
Indonesia
27 Juni 2019
Agama

Bolehkah Sejajar Shof Wanita dan Laki-Laki Dalam Sholat….?

Akhir-Akhir ini siar agama Islam begitu nyaring bergema di bumi Nusantara, hal ini ditunjukan dengan beraneka ragam simbol agama memenuhi ruang publik kita, ditambah lagi siar agama dimanfaatkan untuk kegiatan politik, sehingga membuat siar agama semakin menjadi kajian dan perbincangan yang hangat diruang publik. Tak pelak hal ini menyebabkan gairah semangat beragama dikalangan masyarakat meningkat derastis. 

Semakin siar Islam bergema menunjukan bahwa masyarakat Nusantara yang mayoritas beragama Islam lagi gandrung sekali dengan pembahasan isu agama. Disalah satu sisi siar merupakan kegiatan yang positif bagi pengembangan dakwah Islam di Nusantara, akan tetapi disisi lain siar yang tidak dibarengi ilmu menyebabkan siar yang tidak mencerahkan masyarakat dan malah merusak masyarakat itu sendiri.

Sebagaimana contoh pada tanggal 7/4/2019 diadakan Sholat Subuh berjamaah yang di laksanakan di Stadion Utama Gelora Bungkarno, yang tujuanya untuk bermunajat dan mendukung salah satu capres yang akan bertarung pada pemilihan presiden. Diliat dari sisi siar agama, hal ini sangatlah baik, karena menunjukan semangat beragama akan tetapi semangat Beragama ini harusnya harus mengedapankan ilmu, agar siar tersebut menjadi lebih baik.

Siar sholat berjamaah subuh ini nyatanya bukan menambah gairah keislaman dan bukannya menunjukan hal yang baik malah menimbulkan banyak polemik, satu karena agama yang harusnya merupakan ruang privasi sudah dibawa-bawa untuk kepentingan politik sesaat. kedua ketika sholat berjamaah laki-laki dan perempuan berdiri sejajar dalam satu shof yang sama, jelas hal ini dalam kacamata fikih membutuhkan kajian yang cukup pelik. Sebab dalam sholat berjamaah ada aturan yang harus diperhatikan.

Diantara aturan dalam berjamah yang harus diperhatikan adalah masalah shof, karena nabi bersabda


خَيْرُ صُفُوفِ الرِّجَالِ أَوَّلُهَا وَشَرُّهَا آخِرُهَا وَخَيْرُ صُفُوفِ النِّسَاءِ آخِرُهَا وَشَرُّهَا أَوَّلُهَا

Sebaik-baik shaf bagi kaum laki-laki adalah yang paling depan, dan yang paling buruk bagi mereka adalah shaf yang paling akhir. Sedangkan sebaik-baik shaf bagi kaum wanita adalah yang paling akhir, dan yang paling buruk adalah shaf yang paling depan. (HR. Muslim)

لاَ تُقَدِّمُوا صِبْيَانَكُمْ

Janganlah kamu tempatkan anak-anak kecil di depan (HR. Ad-Dailami). 

أَخِّرُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَخَّرَهُنَّ اللَّهُ

Posisikan para wanita di belakang sebagaimana Allah SWT memposisikan mereka di belakang.(HR. Abdurrazzaq) 

Dari hadits-hadits di atas, kita bisa membuat kesimpulan : 

Barisan yang paling baik buat laki-laki adalah barisan yang paling depan. Semakin ke belakang semakin rendah nilainya. Maka bagian paling belakang dari barisan laki-laki diperuntukkah buat anak-anak kecil yang laki-laki. Sebab mereka umumnya belum baligh.

Sebaliknya, barisan yang paling baik buat wanita bukan adalah bagian paling belakang, dan bukan bagian paling depan. Justru semakin ke depan malah akan semakin rendah nilainya. Dan karena itulah barisan paling depan buat wanita diperuntukkan buat anak-anak kecil juga, yaitu anak-anak wanita. 

Syekh wahbah Zuhaili dalam bukunyaal-Fiqh al-Islamiy wa Adillatuhu (Damaskus-Dar al-Fikr, cet ke-4, edisi revisi, juz, 2, h. 402)menerangkan bahwa Jumhurul ulama selain hanafiyah berpendapat; jika perempuan berdiri di shaf laki-laki maka shalatnya orang yang ada di sebelahnya tidak batal, begitu juga shalat orang yang ada di belakangnya. Karena itu adanya shaf perempuan yang sempurna tidak bisa menghalangi mengikutinya orang laki-laki yang ada di belakangnya. Dan tidak batal shalat orang yang ada di depan perempuan, begitu juga shalatnya perempuan. Hal ini sebagaimana ia berdiri pada selain shalat

Dengan demikian apabila ada laki-laki dan perempuan yang berdiri dalam satu shof untuk menuaikan sholat jamaah, sholatnya tetap sah dan tidak membatalkan jamaah lelaki yang disamping atau dibelakangnya. Akan tetapi jelas mengurangi keutamaan dan dihukumi makruh karena meninggalkan sunah yang diajarkan Nabi.

Related posts

Mengenal Anggota Wudlu danTayamum

admin

Non-Muslim Atau Kafir’ Versi Yusuf Al-Qaradhawi

PENA SANTRI

Perkembangan Tarekat

khalwani ahmad

Empat Fase Ayat Al-Qur’an Tentang (Hukum) Arak

PENA SANTRI

Dalil Tentang Menyambut Tahun Baru Hijriyah

PENA SANTRI

Rekontruksi Paradigma Hubungan Antar Agama

khalwani ahmad

Leave a Comment