23.3 C
Indonesia
18 Juni 2019
Esai

Budak Pikiran

Ada kalimat menjengkelkan yang aku terima dengan sadar. Kalimat itu berbunyi, “kau itu diperbudak oleh pikiranmu sendiri”. Kutanya kalimat itu, apakah dirinya tidak diperbudak pikiran? Dia yakin bahwa dirinya telah memperbudak pikiran, bukan pikiran yang memperbudaknya. Dengan pernyataan seperti itu, apa aku harus mengiyakan atau menyalahkan pikiran yang telah memperbudakku? Sungguh tidak. Bahkan aku senang diperbudak pikiran, daripa aku sendiri yang memperbudak pikiran. Semisal ada yang tertarik apa alasanku, silakan siapkan obat sakit kepala.
Tentang alasan, manusia itu terlalu banyak beralasan, hingga kemudian kata-katanya menjadi sampah yang barangkali hanya laku pada api dan tanah. Maka dalam tulisan ini, kurang pantas disebut sebagai alasan, karena aku sendiri tidak berusaha mencari alasan. Daripada mencari alasan, lebih baik mengarang cerita.
Aku bertanya pada diriku yang lain, apakah benar aku sedang diperbudak pikrian? Apa hanya karena aku berpikir tidak berdasarkan pemikiran orang lain lantas dianggap sebagai budak pikiran? Perlu diketahui, bahwa yang orang lain pikirkan juga berasal dari otak yang Tuhan ciptakan. Barangkali yang menjadi pembeda hanya karena pikirannya tertuliskan dalam buku-buku, hingga oleh para kutu buku, para penggila akademisi dan kelas dikutip sana-sini. Mereka menganggap benar. Walaupun yang mereka kutip salah akan tetap benar, karena yang salah adalah si penulis buku, mereka hanya mengutip. Dan dengan demikian, mereka telah memperbudak pikirannya sendiri demi pengakuan bahwa yang dikemukakannya ilmiah. (Itu yang kemudian mencipta sloga, peneliti boleh salah tapi tak boleh berbohong). Apa aku akan suka semisal berada di posisi mereka? Sungguh tidak. Manusia terikat oleh kata-kata, dan kata-kata yang mengikat adalah yang tertulis. Lagipula, saat penulis menuangkan pikirannya bisa saja salah. Apa kesalahan yang tak disadari bisa dijadikan patokan dalam berpikir, demi menyandang predikat bahwa diri telah berhasil memperbudak pikiran sendiri? Benar?
Pikiran itu kebebasan, jadi pantaslah kalau dia memperbudak. Maka sekali lagi kutulis, aku bahagia jika menjadi budak pikiran.
Akan kukutip kebenaran sepele yang sering manusia lupa. Ada tingkatan makhluk hidup yang Tuhan ciptakan. Pertama, makhluk yang hanya memiliki pikiran, tidak punya nafsu, kita sebut saja Malaikat. Kedua, makhluk yang punya pikiran dan nafsu, ya, kita ini. Terakhir adalah makhluk yang memiliki nafsu semata, sebut saja hewan. Yang hidup tanpa raga tak memiliki nafsu. Yang hidup dengan raga memiliki nafsu. Dalam penjelasan sepele itu tentu sudah bisa ditarik kesimpulan, pikiran lebih dekat dengan Tuhan dibanding raga. Lalu kutanya, diri ini lebih senang diperbudak raga atau tidak? 
Sebetulnya omong-kosong belaka bahwa mereka yang katanya berhasil mengendalikan pikirannya adalah bentuk dari kewarasan. Bukankah mereka lebih dekat pada kedunguan? Yang mengurung pikirannya dengan batasan-batasan orang lain? Pikiran yang seharusnya bisa menjadi raksasa dikunci dalam batok kepala. Sudah dikunci masih diikat lagi. Apa tega?
Barangkali pikiran yang aku lontarkan ke orang lain adalah bentuk kesalahan, maafkanlah. Karena banyak sudut pandang orang banyak yang tidak aku setujui. Seperti tentang neraka yang katanya hanya berisi api, dan segala yang ada panas membara. Kupikir, bisa saja di neraka ada es dan pekarangan bunga untuk orang-orang yang menikmati bara api dan membenci keindahan. Bukankah seharusnya neraka berisi sesuatu yang tidak manusia senangi? Lalu ada yang menyangkal, bahwa nanti Tuhan akan menyamakan persepsi rasa saat di neraka, kalau yang seram bagi manusia api ya api. Ditambah dengan guyonan, di surga kelak manusia bisa melakukan apa pun yang disenangi. Ya, ampun, pikiran macam apa itu? Kalau bisa melakukan apa saja yang bisa disenangi, bukankah akan berantakan sekali yang namanya surga itu? Memperkosa sana-sini bisa, mabuk, berjudi, disko dan sebagainya bisa dilakukan. Apa akan tenteram surga yang katanya damai itu? 
Menjadi budak pikiran karena berpikir, jangan-jangan Tuhan adalah waktu itu sendiri, tak apa bagiku. Karena segala hal digerakkan oleh waktu. Yang lebih tahu masa lalu, masa yang dijalani, dan yang akan datang adalah waktu. Hanya saja, barangkali manusia yang salah menamakan waktu. Kemudian aku adalah budak pikiran karena meyakini Tuhan adalah waktu itu sendiri. Pada saat seluruh makhluk dilenyapkan, waktu akan tetap ada sebagai identas waktu di mana segala hal dilenyapkan, termasuk waktu itu sendiri. (Lagipula mana bisa melenyapkan waktu, sedang saat waktu lenyap masih bisa disebut waktu di saat waktu lenyap? Pusing memikirkan kalimat ini?) Dan secara tak langsung aku meyakini, waktu itu abadi. Urusan lain kalau seseorang percaya “Yang fana adalah waktu, kita abadi” seperti judul puisi Supardi Djoko Damono. Bisa dikata bahwa si Supardi adalah orang yang berusaha memberontak pada kenyataan, hingga menyindir waktu sebagai kefanaan. 
Dan hal lain perihal aku yang diperbudak pikiran, yang kurang lebih kutuangkan dalam bentuk cerita dan tulisan-tulisan. Sebelum akhir dari tulisan ini perlu dicatat, aku bukan orang baik. Semakin aku memikirkan barangkali ada kebaikan dalam diri ini, aku semakin sadar bahwa diri seperti orang jahat. Silakan, mau sepakat pada orang jahat atau tidak perihal menjadi budak pikiran ini?[]

Related posts

Relevansi Negara Madinah dan Harmoni Kebhinekaan

admin

“KAFIR”, “BID’AH” FIKIH KEWARGANEGARAAN, DAN KETERBATASAN AGENDA FIQH ISLAM MODERAT SEBERAPAPUN TAMPAK PROGRESIFNYA

admin

Takbir Neno Warisman Akibat Salah Memahami Tasbih Fatimah Az-Zahra

KH. Dr. M. Ishom el Saha, M.Ag.

Membumikan Al-Qur’an di Tengah Masyarakat

Khalilullah

Rekontruksi Paradigma Hubungan Antar Agama

khalwani ahmad

Balqis dan Mistisisme Ibnu Arabi

PENA SANTRI

Leave a Comment