25 September 2020
Buku dan Narasi Peradaban Bangsa

Buku dan Narasi Peradaban Bangsa

Sendu, senyap. Rak-rakbuku menjelma bak kamar mayat yang sepi tak berpenghuni. Sudut-sudut ruangannya meradang dalam kesunyian. Ruang baca hanya dikunjungi satu, dua, tiga, dan atau tidak sama sekali. Pintu pun tertutup rapat karena tidak ada orang yang punya minat. Itulah sepenggal gambaran kenestapaan yang menyelimuti kondisi perpustakaan dibeberapa wilayah di tanah air.

Perpustakaan bukanlah museum tempat penyimpanan barang-barang antik peninggalan sejarah. Ia merupakan bagian ruangan untuk meluaskan spektrum berpikir. Perpustakaanlah dari masa ke masa yang mencipta historis peradaban suatu bangsa. Karena itu, ia tak boleh ditinggal dan ditanggalkan. 

Adalah khalifah Harun Ar-Rasyid (813 M) dimasa Dinasti Abbasiyah yang telah mambangun perpustakaan Baitul Hikmah. Sebuah perpustakaan yang berdiri megah dijantung kota Baghdad. Dikelilingi bejibun buku-buku barat dan timur yang terus dikaji, didiskusikan, dikritisi, dan diterjamahkan dalam sebuah perjumpaan agung intelektual muslim dari berbagai bidang keilmuan. Kemasyhurannya membentang keseluruh penjuru dunia. Disinilah cagak-cagak peradaban mulai tumbuh. Baghdad pada masanya menjadi kiblat peradaban dunia.

Atensi para ilmuan muslim pada buku masa lalu setidaknya telah menghapus bangsanya yang barbar. Mereka mampu membawa bangsanya menjauh dari tubir kehancuran. Pergumulan heroik mereka yang getol mencumbui buku telah menorehkan tinta emas monumental dalam sejarah islam. Islam memiliki titimangsa gemilang ketika hadir para ilmuan muslim di berbagai bidang. Tersebutlah nama Ibnu Sina yang masyhur sebagai bapak kedokteran, Al-biruni (Fisika), Al-Khawarizmi (Matematika), dan Ibn Madjid ahli kelautan.

Kesemuanya mempunyai tendensi membaca yang menggebu-gebu. Mereka dengan getol mencumbui buku saban harinya di perpustakaan Baitul Hikmah. Serasa peradaban islam masa silam begitu paripurna dengan munculnya tanda penguasaan ilmu eksak dan ilmu-ilmu naqli.

Kemajuan ilmu pengetahuan berbanding lurus dengan memuliakan selebrasi adab baca. Alhasil, sekira tahun 1257 M pasukan Tartar dibawah komando Hulaghu Khan melakukan invasi dengan cara memutus genetika intelektual Islam di Baghdad melalui metode membakar buku-bukunya. Sang novelis eksil Milan Kundera seolah membenarkan itu. “Hancurkan Buku-bukunya maka pasti bangsa dan peradaban itu hancur”. Maka langit kota Baghdad seolah dipenuhi jelaga hitam hancurnya peradaban.

Memuliakan Buku

Sekelumit narasi historis diatas telah membentangkan suatu bukti pada umat manusia bahwa peradaban yang besar ialah peradaban yang ditopang dengan buku-buku. Azyumardi Azra (2006) dalam sebuah pertemuan intelektual muslim pernah menyatakan bahwa “Peradaban Islam adalah peradaban buku-buku; jalan hidup muslim dipandu buku; dan kita menemukan nilai hidup kita hanya dalam buku-buku. Tuhan kita termanifestasi dalam buku; dan identitas kita terbentuk oleh buku-buku. Jadi bagaimana bisa ada orang diantara kita yang merusak buku. Dan menjadi penghianat buku-buku”.

Statemen Azra seolah menyiratkan pada kita untuk kembali pada buku-buku. “Hari Raya Buku”. Itulah slogan yang tepat untuk kembali pada buku. Orang-orang harus mudik pada buku, bersilaturrahmi dengan buku, dan bergumul dengan buku. Namun, slogan tersebut hanya menjadi sekedar utopis, apabila kesadaran membaca masih terkubur dalam ingatan setiap orang dinegeri ini.

Terbukti, dalam sebuah laporan yang diberikan Central Connectust State University pada Maret 2016 yang bertajuk “Most Litered Nation in The World” membuktikan data yang terasa begitu getir soal minat baca Indonesia. Indonesia jauh terperosok pada peringkat 60 dari 61 negara. Sungguh data yang yang begitu mengejutkan terjadi pada sebuah negara yang memiliki kualitas Sumber Daya Alam (SDA) yang begitu mumpuni. Namun warganya menampik diri dari urusan minat baca.

Kekayaan Sumber Daya Alam (SDA) yang melimpah nyatanya tak dapat menggembirakan hati jika tidak disokong dengan etos kebukuan. Keindahan alam Indonesia yang kita pijaki tidak akan bermanfaat apabila kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) nya masih ringkih. Sebab ia yang akan mengantarkan wajah Indonesia ke gerbang peradaban. Menampik buku berarti menampik peradaban. Padahal Khalid Abou el-Fadl (2005), dalam musyawarah buku menegaskan peradaban yang besar ditopang oleh buku dan etos literer yang kuat.

Indonesia sendiri, pada 2018 tercatat memiliki 154.000 perpustakaan (Kompas, 7 September 2018). Jumlah yang sulit mendapatkan pengakuan fantastis jika perpustakaan masih sepi dari pengunjung. Mengunjungi perpustakaan kerap dipandang sebagai kegiatan yang sia-sia dan tidak mendatangkan keuntungan. Apalagi saat pusat-pusat perbelanjaan mengambil peranannya hingga mampu menarik masyarakat Indonesia dalam kubangan hedonisme material. Akibatnya, budaya konsumtif telah mendarah daging dan sulit budaya baca mendapat atensi penuh.

Narasi perjalanan bangsa Indonesia sebagai bangsa merdeka nyatanya belum sepenuhnya merdeka jika etos budaya baca hanya mengawang dalam pikiran dan tak dapat diimplementasikan dalam praksis kehidupan. Sebab membaca buku juga akan membantu memerdekakan diri kita dari belenggu kebodohan. “Buka hidupmu dengan buku”. Joko Pinurbo suatu kali mengingatkan kita dalam puisinya Ibuku.

Maka dulu saat Indonesia dijajah secara fisik, bapak bangsa kita memberikan teladan ihwal atensi membaca yang begitu getol. Mereka sanggup mengungkit bangsa Indonesia dari getir kelamnya kolonialisme. Hingga mampu menanamkan kesadaran akan sikap nasionalisme. Buku pun menemukan momentumnya saat dua penggila buku (Bung Karno dan Bung Hatta) memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

Kegilaan terhadap buku mencapai titik vital ketika Bung Hatta melamar ibu Rahmi bermaharkan buku. Baginya, buku lebih bermanfaat dan bernilai ketimbang emas. Serupa dengan Bung Hatta, pada 23 April 1925 para lelaki Catalan menghadiahi kekasihnya dengan buku sebagai pengganti bunga mawar. Para lelaki Catalan yakin bahwa dengan memberikan buku pada sang pacar layaknya membuka cakrawala cinta yang cerdas. 

Semua berawal dari buku. Bung Hatta secara resmi mengundurkan diri sebagai wakil presiden 1956 karena terilhami oleh buku-buku yang dibacanya. Buku telah menyadarkan Hatta bahwa penyelewengan terhadap kekuasaan hanya akan membuat rakyat menjadi sengsara. Buku telah mampu mengubah hidup Hatta. Dalam jiwa Hatta tertanam pemuliaan terhadap buku. Jangankan tangan, setitik debu pun harus hilang dari setiap buku. 

Buku dan narasi kebangsaan berjalan sinergis. Keduanya saling berkait-kelindan menciptakan peradaban. Tanpa buku sejarah diam, sastra bungkam, sains lumpuh, dan pemikiran macet. Buku pengusung peradaban. Begitulah kata Barbara W. Tuchman Sejarawan Amerika yang sekaligus cucu duta besar kerajaan Ottoman.

Akhirnya, butuh kesadaran kolektif yang teramat masif untuk menumbuhkan tanda loyalitas terhadap buku ( Buku dan narasi kebangsaan ). Tentu hal ini bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah untuk menggelorakan antusiasme membaca pada warganya. Tetapi kita selaku warganya mulai melangkah bergerak bersama menciptakan peradaban dengan cara memuliakan buku. Wallahu a’lam. 

 Oleh: Muhammad Ghufron*

* Penikmat buku dan Pengurus Perpustakaan PP. Annuqayah Lubangsa.

Nomor Rekening       : 0737664953 (BANK BNI SYARIAH)

Atas Nama                 : NUVILU USMAN ALATAS

Pilihan Lain

Selamat datang di layanan kami Setuju Lain Kali

Privacy & Cookies Policy