Ciptakan Santri Berjiwa Wirausaha

Spread the love

Penasantri.id Balikpapan–Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mendorong pertumbuhan wirausaha industri baru. Salah satunya dengan menerapkan program Santri Berindustri. Melalui Direktorat Jenderal (Ditjen) Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA), Kemenperin menyasar pondok pesantren (ponpes) yang ada di Indonesia. Salah satunya Ponpes Hidayatullah di Gunung Tembak, Kelurahan Teritip, Balikpapan Timur.

Pada Jumat (12/4) lalu, jajaran Ditjen IKMA datang ke Ponpes Hidayatullah menyerahkan bantuan berupa peralatan konveksi. Mulai dari mesin jahit, mesin lubang, dan pasang kancing, hingga mesin obras. Acara penyerahan dihadiri Direktur Jenderal IKMA, Gati Wibawangsih.

“Kami melakukan kegiatan di banyak pondok pesantren. Di Hidayatullah ini baru kali kedua di luar Jawa yang kami fasilitasi. Yang pertama Lampung, kedua di sini. Kami selama ini fokus di Jawa. Namun saya mendapat masukan dari DPR RI, Bu Hetifah, bahwa di luar (luar Jawa, Red) juga banyak yang harus kami fasilitasi,” ungkap Gati. 

Alasan memilih pondok pesantren karena bisa dijadikan agent of development. Selama ini pondok pesantren adalah tempat menempa para santri. Mereka diajari tentang akhlak yang baik dan mental yang kuat. “Untuk menjadi seorang wirausahawan, yang terpenting adalah kekuatan mental. Santri itu tangguh dan siap ditempa mentalnya, maka kami merasa santri ini punya potensi,” imbuhnya. Diharapkan, ke depannya para santri yang telah lulus tidak canggung lagi dalam bersosialisasi. Mereka punya bekal untuk mandiri.

Pada tahun ini, ditargetkan sebanyak 27 pondok pesantren akan mendapatkan program tersebut. Sejauh ini sudah ada 10 pondok pesantren di Indonesia. Hidayatullah yang kesepuluh, namun yang pertama di Pulau Kalimantan. Sedangkan ponpes lainnya, antara lain, Ponpes Sunan Drajat, Lirboyo, dan Nurul Iman.

Program Santri Berindustri sebenarnya telah ada sejak 2013 lalu. Pesantren memiliki budaya tertib dan disiplin, sehingga para santrinya dipercaya mampu menjadi wirausahawan. “Mereka sudah terbiasa bangun pagi dan salat lima waktu. Sehingga, mereka lebih disiplin dibanding jika kami membentuk wirausaha baru di SMK. Seperti, di Sunan Drajat dan Nurul Iman di Bogor sudah berhasil,” jelas Gati. 

Bertajuk “Santri Berkreasi”, santri di Ponpes Nurul Iman juga belajar mengenai animasi. Selain itu menjadi ahli dalam pembacaan, coding, dan evaluasi data. Dia meyakini, tenaga tersebut ke depannya akan dibutuhkan. 

“Kalau Hidayatullah ini saya melihat untuk belajar animasi masih belum pas. Sementara di Sunan Drajat mereka sudah punya basic animasi. Harapannya ke depan, mereka bisa dipekerjakan oleh Hollywood. Selama ini untuk perindustrian di Kaltim masih berupa kerajinan dan konveksi,” tuturnya.

Menurutnya, hal itu juga bagian dari ekonomi kreatif. Bantuan yang diberikan berasal dari anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN), jumlahnya sekira Rp 500 juta. “Per bantuan jumlah mesin jahit terakhir ada 10 unit, juga 2 unit mesin obras, mesin pasang lubang kancing, dan mesin neci,” sebutnya. 

Pihaknya berharap, pondok pesantren bisa memenuhi kebutuhannya. Seperti makanan, minuman, dan pakaian. “Kaltim untuk dikenal secara nasional sudah ada, tapi untuk yang go international memang belum kami lihat. Selanjutnya menjadi tugas pemerintah daerah,” pungkas Gati. (cha/cal/k1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: