8 Agustus 2020

Corona; Adzab Atau Ujian?

Wabah pandemi corona yang melanda dunia saat ini, sepertinya melahirkan banyak sekali statemen yang kadang dijadikan sebuah senjata dukungan atas kepentingannya. Berbagai narasi banyak bermunculan dengan memanfaatkan moment langka ini, Seperti statemen yang dikeluarkan oleh www.muslimahnews.com (24/3/2020) beberapa kelompok pengusung khilafah mengatakan; “corona merupakan hukuman (Azab/musibah) yang diturunkan Allah untuk masyarakat dunia, karena tidak menjalankan syariat Islam yang semestinya yakni dengan sistem khilafah”. Narasi-narasi seperti ini nampaknya sengaja dibuat oleh kelompok tersebut untuk pendorong agar misi khilafahnya terlaksana.

Perihal statemen diatas, Nadirsyah Hosen, dalam cuitannya di Twiter, menegaskan bahwa “khilafah bukanlah solusi untuk menyelesaikan wabah corona”. Gus Nadir juga menegaskan bahwa “dimasa Khalifah Umar ada wabah Amawas yang bermula dari Palestina lalu ke Syam kemudian menyebar kewilayah lain, yang menewaskan sekitar 30 ribu orang termasuk nama besar Sahabat Nabi SAW”.

Komentar gus Nadir diatas menegaskan bahwa wabah virus corona ini tidak ada kaitannya dengan khilafah atau dengan kepentingan apapun. Musibah corona adalah murni kuasa dan kehendak tuhan sebagai dzat yang memiliki sifat qudrah dan iradah.

Lalu, pantaskan jika musibah wabah covid 19 ini kita sebut sebagai musibah adzab?

Baca Juga  Seribu Alasan dan Fatwa Ulama Tentang Tahlil

Dalam KBBI musibah adalah; (1) kejadian (peristiwa) menyedihkan yang menimpa; (2) malapetaka. dari Pengertian ini, menegaskan bahwa musibah adalah semua kejadian atau peristiwa yang kurang baik yang menimpa manusia .

Adzab atau ujian merupakan istilah yang lahir dari sumber kata musibah. Quraish Shihab dalam tafsir al-Misbah mengatakan: Musibah pada mulanya berarti “sesuatu yang menimpa atau mengenai” sesuatu yang menimpa tidak selalu buruk, misalkan hujan yang oleh orang yang pekerjaanya dilapangan akan mengatakan buruk, tapi bisa jadi oleh petani hujan adalah sesuatu yang baik.

Ibnu Qayyim al-Jauziyyah (2004) dalam bukunya Kunci Kebahagiaan, mengatakan; “musibah adalah ujian yang ditimpakan Allah SWT kepada hamba-hambanya yang terbaik, yang mengantarkan mereka ke tujuan dan terminal paling mulia dan sempurna, yang tidak mungkin mereka capai kecuali melalui jembatan ujian dan cobaan; ujian mengandung nilai kemuliaan mereka. Bentuknya memang musibah dan cobaan, tapi dibaliknya tersimpan rahmat dan nimat Allah SWT yang besarnya tak terkira, yang dipetik dari ujian dan musibah tersebut”.

Dalam al-Quran banyak sekali ayat yang berbicara mengenai musibah, seperti yang dikemukakan dalam surat at-Taghabun 64:11:

ما أصاب من مصيبة إلّا بائذن الله ومن يؤمن بالله يهد قلبه والله بكا شيء عليم

Baca Juga  Siapa Yang Berhak Bicara Agama

Artinya; “tidak sesuatu musibahpun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah: dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah maha mengetahui segala sesuatu”.

Ibnu Katsir mencoba menjelaskan ayat tersebut dengan mengemukakan bahwa Allah menyatakan tiada sesuatupun yang terjadi di alam ini melainkan dengan kehendak dan kekuasaan Allah swt, sedang siapa saja yang beriman kepada Allah pasti ia akan rela pada putusan Allah baik qada maupum takdirnya.

Musibah yang diturunkan oleh Allah kepada manusia, tidak hanya berupa penderitaan saja, tetapi bisa jadi berupa kebaikan. Sebagaimana ditegaskan dalam al-Quran surat al-Anbiya 21:35:

كلّ نفْس ذائقة الموت ونبلوكم بالشرّ والخير فتنة وإلينا ترجعون

Artinya; tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati, kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya) dan hanya kepada kami-lah kamu dikembalikan.

Mengenai hal ini, Abdul Rahman Rusli Tanjung (2012) setidaknya terdapat empat konteks pehamanan mengenai musibah: 1) sebagai ujian orang mukmin; 2) sebagai peringatan atau teguran untuk manusia; 3) sebagai azab atau siksa bagi pelaku dosa dan maksiat; 4) sebagai kasih sayang bagi orang mukmin.

Baca Juga  Quraish Shihab: Shalat Tarawih, Iā€™tikaf, dan Tadarus tak Harus di Masjid

Dari uraian singkat ini, dapatlah dikatakan bahwa musibah adalah murni kehendak Allah, bisa berupa kebaikan dan bisa juga berupa keburukan. Seseorang yang terkena musibah, bila dihadapi dengan tabah akan membawa kemaslahatan yang banyak bagi dirinya berupa rahmat. Begitupun sebaliknya, jika seseorang tidak bisa menerima musibah sebagai ketentuan Allah, ia akan mendapatkan keburukan.

Musibah yang yang datang kepada orang mukmin, adalah untuk menguji taraf keimanannya kepada Allah. Artinya, semakin kuat dan mantap seorang mukmin dalam menyikapi musibah yang datang kepadanya dengan besikap sesuai ketentuan allah, maka semakin mantaplah keimannya.

Menyalahgunkan pengertian musibah oleh beberapa kelompok untuk kepentinganya, seperti yang digunakan untuk kepentingan khilafah ataupun sejenisnya tidak bisa dibenarkan. Dalam sudut pandang teologi, orang yang meyakini wabah corona sebagai adzab atas orang mukmin karena alasan memakai sistem demokrasi misalnya, maka ia sama saja menginterfensi atau merendahkan kehendak dan kekuasaan Allah. Sifat qudrah dan iradah Allah adalah murni, tidak bisa kita sematkan dengan alasan apapun.

Oleh: Syifaus Syarif, (Indramayu, 14 April 2020)

Pilihan Lain

Selamat datang di layanan kami Setuju Lain Kali

Privacy & Cookies Policy