28.7 C
Indonesia
6 Desember 2019

Dakwah Itu Bukan Doktrin

Dakwah Itu Bukan Doktrin 27

Dakwah itu dilakukan untuk tujuan kemuliaan dan syiar agama Islam. Tanpa adanya dakwah tidaklah mungkin agama Islam menyebar ke seantero penjuru dunia. Sudah menjadi tanggung jawab umat Islam untuk terus melakukan dakwah, hal ini sebagaimana yang termaktub dalam surat Al-Imron Ayat 104 “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.

Dilihat dari ayat tersebut maka dakwah merupakan tanggungjawab bagi segolongan atau sebagian umat Islam, karena tanggungjawab dakwah ditujukan kepada segolongan umat islam, maka beberapa ulama menghukumi bahwa berdakwah itu hukumnya adalah fardu kifayah. Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa dalam surat Al-Imrom ayat 104 tersebut menyatakan bahwa kewajiban dakwah ini diwajibkan kepada segolongan umat Islam saja..? hal ini karena tujuan dakwah adalah demi tercapainya kemuliaan dan syiar agama Islam maka dakwah harus dilakukan oleh orang-orang yang menguasi ilmu Agama, baik syariat dan keimanan. 

Seperti yang kita ketahui tidaklah semua orang memahami ilmu agama secara mendalam, oleh karenanya maka tugas dakwah yang menjadi perantara kemulian agama Islam ini harus dilakukan oleh mereka-meraka yang telah mampu dan mempunyai kapasitas serta otoritas membicarakan dan mendakwahkan ajaran Islam. Berangkat dari keterangan yang demikian maka bagi orang yang merasa ilmu agamanya masih kurang dan ingin mendakwahkan ajaran agama Islam maka hal yang wajib mereka lakukan adalah belajar serius ajaran agama Islam. Belajar dengan serius mengenai ajaran Islam juga merupakan dakwah Islam yang sangat dianjurkan. Jadi jangan dikatakan yang berdakwah adalah mereka yang pandai berorasi didepan panggung dengan retorika dan dalil agama yang memukau. Belajar dengan tekun juga merupakan dakwah islam yang paling utama dan dianjurkan.

Semakin banyak orang yang belajar agama Islam dengan sungguh-sungguh maka kemuliaan dan kejayaan agama Islam akan datang dengan sendirinya, karena peradaban dan kemajuan Islam akan diperoleh dengan hal tersebut, akan tetapi semakin banyak pendakwah yang bermunculan belum tentu mengantarkan kepada kemuliaan agama Islam. Kenapa hal ini bisa terjadi..? yang jelas adalah pendakwah yang tidak menguasai ajaran agama Islam tidak akan membuat syiar Islam semakin berkembang justru malah bisa menghancurkan Islam itu sendiri, hal ini sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi “apabila suatu perkara diserahkan kepada yang bukan ahlinya maka tunggulah kehancuranya. 

Jika yang melakukan dakwah bukan ahlinya maka tunggulah kehancurannya, kata kehancuranya dalam sabda nabi tersebut bisa diartikan kehancuran tatanan kehidupan, sedangkan kehancuran yang dimaksud oleh Nabi dalam sabdanya tersebut adalah kiamat. Dengan demikian rusaknya tatanan kehidupan didunia mempercepat datangnya kiamat. 

Dakwah memanglah sesuatu yang mulia dalam agama Islam. Sehingga banyak umat Islam yang bergegas untuk melakukan dakwah. Hal terbaik sebelum melakukan dakwah adalah belajar mengenai ajaran Islam, jangan karena kecongkakan dan karena sudah menjadi terkenal tidak mau belajar, jika para pendakwah hanya berdakwah denagn modal yang demikian [kepopuleran] tanpa disertai modal pengetahuan agama dan modal kemauan untuk terus belajar maka sudah bisa dipastikan dakwahnya bisa sesat dan menyesatkan umat, bukannya mencerahkan malah mengkhawatirkan umat, bukannya memberi pemahaman agama malah mendoktrin ajaran agama. 

Ada indikasi mencolok yang menunjukkan bahwa, Islam di Indonesia semakin mendapatkan tempat yang luas di kalangan masyarakat, dari kelompok remaja mau pun kelompok tua. Mushala dan masjid dibangun di mana-mana dan selalu dipadati oleh kaum muslimin. Kelompok pengajian, majelis ta’lim dan kajian Islam muncul bagaikan cendawan di musim penghujan. Namun semua itu tidak berarti adanya perkembangan dan pengembangan agama Islam. Karena berkembangnya jumlah pemeluk agama Islam yang menunjukkan adanya kepedulian masyarakat terhadap agama tidak atau belum berarti bahwa ajaran agama Islam secara substansial juga berkembang.

Oleh karenanya tujuan utama dakwah yang sesungguhnya adalah meningkatkan pemahaman agama Islam yang utuh dan tuntas serta menjadikan nilai-nilai spiritual Islami sebagai rujukan baku dalam kehidupan, bukan malah tujuan dakwah untuk mencari kepopuleran dan keuntungan dunia, dakwah itu dikatakan berhasil bukan hanya dinilai dari jumlah pengikutnya yang membludak ketika diadakan pengajian akan tetapi dengan dinilai juga dari perubahan masyarakat menuju perilaku yang islami dan tercapai masyarakat yang makmur dan sejahtera. 

Dakwah secara bahasa adalah mengajak, mengundang dan mendorong, sudah bisa dipastikan bahwa jika mengajak orang tentunya dengan menggunakan cara yang baik, jika kita mengajak orang dengan kekerasan sudah tentu orang yang diajak akan lari meninggalkan kita. Logika yang sederhana ini harusnya selalu terpatri dalam diri pendakwah. Jika pendakwah melakukan dakwah dengan kekerasan dan mengkafirkan sesama umat muslim maka logika mereka [pendakwah dan pengikutnya] sama-sama tumpul, akal sehatnya tidak berjalan. Orang yang tanpa bekal agamapun paham dan tahu bahwa cara berdakwah dengan menyakiti sesama umat muslim adalah cara yang kurang tepat. 

Landasan utama dalam berdakwah adalah surat An-Nahl ayat 125 yang artinya Ajaklah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah, tutur kata yang baik, dan berdiskusilah dengan mereka dengan baik. Gusdur menafsirkan ayat tersebut bahwasanya kata Ajaklah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah, artinya dengan cara yang bisa diterima orang lain dan menempatkan segala sesuatu pada tempatnya. 
Dengan berdasarkan pada ayat tersebut bahwasanya dakwah adalah mengajak kepada berbuat baik, mengikuti petunjuk Allah, melarang mengerjakan jelek agar bisa mendapatkan kebahagiaan dunia dan Akhirat. Dalam arti kata lain dakwah adalah ajakan atau usaha sadar untuk memotivasi orang lain agar mau melaksanakan perintah dan menjauhi laranganya.

Dakwah itu sifatnya memotivasi, karena dakwah sifatnya memotivasi maka yang dilakukan adalah upaya untuk menumbuhkan kesadaran dan nalar kritis bukan malah meningkatkan ashobiyah [kefanitikan] terhadap suatu ajaran dan kelompok. Maka rasanya perlu dibedakan antara dakwah, di’ayah [propaganda], dan indoktrinasi. Dalam di’ayah, yang dipropagandakan belum tentu sesuatu yang baik. Sedangkan dalam indoktrinasi terdapat unsur paksaan. Berbeda dengan dakwah, di mana sesuatu yang didakwahkan tentu baik dan tidak mengandung unsur paksaan, tetapi justru menumbuhkan kesadaran.

Dakwah yang ilmiah selalu memberikan motivasi dan meningkatkan daya kritis, artinya dakwah yang baik akan menumbuhkan akal sehat baik bagi para pendengarnya maupun pendakwahnya sendiri. Salah bukti tumbuhnya akal sehat adalah menerimanya pendakwah saran dan kritik dari pendengarnya ketika memang dakwah yang disampaikan dirasa kurang tepat, anti kritik dan merasa selalu benar adalah pola dakwah yang menumpulkan akal sehat apalagi jika pendakwah hanya jago dakwah mimbar dan selalu menghindari untuk dakwah yang sifatnya diskusi yang untuk kebaikan [mujadalah allati hiya ahsan].

Pilihan Lain

Selamat datang di layanan kami Setuju Lain Kali

Privacy & Cookies Policy