Dapatkah Bangkai Disucikan?

Spread the love

Oleh Ahmad Fairozi
Ulama bersepakat bahwa setiap bangkain hukumnnya najis kecuali manusia. Sementara itu, ada banyak hewan yang matinya pun dibutuhkan, entah dijadikan obat, didaur ulang menjadi pakaian dan aksesoris atau dipoles menjadi perhiasan. Maka pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana cara menyucikannya agar dapat dimanfaatkan kembali.
Menyamak adalah salah satu cara mensucikan benda dari najis, yaitu benda najis yang berupa kulit bangkai, baik kulit bangkai hewan yang halal dagingnya atau tidak, kecuali kulit anjing dan babi serta peranakannya. Cara mensucikan dengan menyamak termasuk mensucikan dengan cara perubahan bentuk (istihâlah), mirip sucinya arak ketika telah berubah bentuk menjadi cukak dan sucinya bangkai setelah menjadi belatung.
Hukum dan Dalil
Secara hukum dasar fiqih menyamak boleh boleh saja (mubah).[1] Sebab menyamak merupakan media untuk menghilangkan kotoran dan kuman yang terdapat dalam kulit hewan supaya menjadi suci.Sehingga dari itu kulit tersebut bisa dimanfaatkan setalah nasjisnya hilang.
Diantara dalil yang menjadi pedoman madzhab Syafi’i dalam hal ini ialah dua Hadits shahih berikut [2]:

إِذَا دُبِغَ اْلإِهَابُ فَقَدْ طَهُرَ.) رواه مسلم)
“Ketika kulit bangkai disamak maka akan menjadi suci” (H.R. Muslim)

 أَيُّمَا إِهَابٍ دُبِغَ فَقَدْ طَهُرَ.) رواه النسائي)
“Kulit hewan apapun yang telah disamak benar-benat telah suci.” (H.R. An-Nasâi)

Kedua Hadits ini, disamping menunjukkan hukum mubâh menyamak juga menjelaskan bahwa semua kulit bangkai dapat disamak dan dapat disucikan. Disamping itu, kulit hewan selain anjing dan babi serta perakannya ketika masih hidup dihukumi suci, dan kulit tersebut berubah menjadi najis hanya karena hewan tersebut telah menjadi bangkai, sehingga kulit tersebut semestinya dapat disucikan, tak ubahnya seperti kulit hewan sembelihan yang terkena najis dapat disucikan kembali [3].
Binatang yang dihukumi najis ketika hidupnya, seperti anjing dan babi serta peranakannya dikecualikan dari keumuman redaksi Hadits di atas, sehingga tidak dapat disucikan dengan disamak. Hal ini berdasarkan pada keterangan sebuah Hadits :
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُكَيْمٍ الْجُهَنِىّ ِt قَالَ أَتَانَا كِتَابُ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم وَنَحْنُ بِأَرْضِ جُهَيْنَةَ وَأَنَا غُلاَمٌ شَابٌّ « أَنْ لاَ تَنْتَفِعُوْا مِنَ الْمَيْتَةِ بِإِهَابٍ وَلاَ عَصَبٍ .(رواه أحمد)
“Dari Abdullah bin Ukaim al-Juhany, Beliau Berkata; Telah sampai kepada kita surat dari Nabi waktu kami masih berada di daerah Juhainah dan saya masih muda, yang isinya ialah “janganlah kalian semua memanfaatkan kulit dan otot bangkai” (H.R. Ahmad)
Keumuman Hadits di atas mencakup segala macam kulit bangkai. Dikecualikan dari keumuman Hadits tersebut, kulit bangkai yang telah disamak, sehingga dapat dimanfatkan. Pengecualian ini berdasarkan dua Hadits yang telah disebutkan sebelumnya (H.R. Muslim & H.R. An-Nasâi). Akan tetapi pengecualian ini tidak mengikutkan kulit anjing dan babi, sehingga masih termasuk dalam keumuman larangan penggunaan kulit bangkai dalam Hadits di atas. Dan juga, najis anjing dan babi terletak pada badan binatang tersebut, sehingga tidak dapat disucikan, seperti darah dan nanah yang tidak dapat disucikan karena benda tersebut memang merupakan barang najis. Berbeda dengan baju yang terkena najis, dapat disucikan karena baju tersebut bukan benda najis.
Alasan berikutnya ialah ; jika keadaan hidup seekor anjing saja tidak menjadikannya suci, apalagi hanya sekedar menyamak [4].

         Tata cara menyamak ialah :
1.      Menghilangkan sisa-sisa kotoran yang menempel pada kulit bangkai, seperti darah dan daging yang masih melekat, dan seandainya dibiarkan akan membuat kulit tersebut menjadi busuk. Hal ini terus dilakukan sampai kulit betul-betul bersih dari sisa-sisa kotoran yang masih melekat, sampai kulit terlihat bersih dan bagus, sehingga jika direndam ke dalam air, maka tidak akan rusak dan tidak berbau busuk.
2.      Mensucikan kulit dengan dibasuh air yang suci mensucikan. Hal ini dilakukan karena setatus kulit yang telah disamak telah menjadi mutanajjis, sebab darah dan kotoran yang pernah melekat. [5]

Media Menyamak
          Proses penyamakan harus mengunakan benda-benda yang mempunyai rasa pahit dan sepat, baik berupa benda suci atau najis, seperti kotoran burung, daun salam dan lain sebagainya. Rasulullah r bersabda tentang bangkai kambing milik seorang sahabat wanita, Maimunah:
 لَوْ أَخَذْتُمْ إِهَابَهَا فَقَالُوْا إِنَّهَا مَيِّتَةٌ  فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُطَهِّرُهُ الْمَاءُ وَالْقَرَظُ.) رواه أبو داود والنسا ئي)
“Ambillah kulitnya”. Para sahabat berkata ; “Sesungguhnya kambing itu telah menjadi bangkai”. Beluai bersabda ; “Kulitnya dapat disucikan dengan air dan kulit kayu qordh”. (H.R. Abû Dâwûd & an-Nasai)  [6]
         Teks Hadist di atas memberi kesimpulan, bahwa dalam proses menyamak harus dengan menggunakan benda-benda yang mempunyai rasa sepat. penyebutan daun akasia atau daun salam dalam Hadits di atas hanyalah sebagai contoh, sehingga sesuatu yang mempunyai kesamaan dengannya juga dapat digunakan sebagai alat menyamak [7]. Menurut Habib Muhammad bin Ahmad as-Syathiry dalam kitab Syarh Yaqut an-Nafis, menyamak dapat juga menggunakan benda-bensa masa kini yang mampu menghasilkan tujuan manyamak (membersihkan kulit bangkai), termasuk benda-benda yang terbuat dari zat-zat kimia [8].  


[1] Hasan bin Ahmad, Taqrirat as-Sadidah, hlm. 130.
[2] An-Nawawy, al-Majmu’, vol. I, hlm. 273. 
[3] An-Nawawy, al-Majmu’, vol. I, hlm. 276.
[4] Abû al-Hasan al-Mawardy, al-Hawi al-Kabir, (Lebanon : Dâr al-Fikr, 1414 H./1994 M.), vol. I, hlm. 59-60.
[5] Muhammad al-Hasany, Kifayah al-Akhyar, vol. I, hlm. 12.
[6] Sulaiman Al-bujairamy, Hasyiyah al-Bujairamy ‘alâ al-Khatîb, vol. I, hulm.99.
[7] An-Nawawy, al-Majmu’, vol. I, hlm. 281-282.
[8] Muhammad asy-Syâthiry, Syarh  al-Yâqût an-Nafîs, hlm. 63

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: