23.3 C
Indonesia
18 Juni 2019
Esai

Dari Tekstualis Menuju Kontekstualis Ala Abdullah Saeed

Permasalahan dialektika keilmuan al-Qur’an dan tafsir, sebagaimana yang terlihat dalam fenomena saat ini yang tidak pernah selesai dibahas adalah mengenai perkembangan tafsir atau penafsiran. Sebagaimana hadirnya al-Qur’an dikenal sebagai rahmatan lil ‘alamin (kasih sayang untuk alam semesta) dan hudal lin naas (petunjuk bagi manusia). Dengan demikian, keilmuan al-Qur’an dan tafsir sangat berperan penting bagi umat manusia terutama umat Muslim di dunia dalam proses memahami al-Qur’an.

Metode penafsiran al-Qur’an dalam sejarah Islam selalu mengalami perubahan dan perkembangan. Metode pendekatan yang tidak asing lagi didengar oleh beberapa sarjanawan Muslim adalah pendekatan ‘tekstualis’ dan ‘kontekstualis’. Pendekatan ‘tekstualis’ sampai saat ini masih digeluti oleh para penafsir yang beraliran Sunni, semua harus dikembalikan kepada al-Qur’an dan Sunnah Nabi. Al-Qur’an bersifat tektualis dihadapan mereka, karena mereka beranggapan bahwa makna al-Qur’an tidak pernah berubah sepanjang zaman, sehingga makna al-Qur’an sejak zaman pewahyuan masih dapat digunakan di era kontemporer. Fokus yang digunakan oleh penafsir tekstualis banyak menggunakan aspek analisis linguistik daripada analisis sosial, sejarah, dan budaya. (Pengantar Studi al-Qur’an, Abdullah Saeed, 2016)

Concern penafsir yang menggunakan pendekatan tekstualis, lebih mengedepankan pemahaman teks yang berbasis riwayat dan pembacaan teks secara literal tanpa memperdulikan konteks ayatnya. Pemahaman yang berdasarkan riwayat ini, meliputi: al-Qur’an sendiri, hadits-hadits Nabi, dan atsar (pendapat para sahabat, para ulama’, mufassir, dll). Dalam kacamata tekstualis, anggapan kepada orang yang selalu mempertimbangkan konteks dalam memahami al-Qur’an (penafsir kontekstualis) sangatlah tidak relevan. Menurut mereka, pendekatan tekstualis lebih terkenal dan meluas, sehingga di masa modern ini tidak dapat dipungkiri lagi, masih banyak pemikir tradisional yang mana dalam menafsirkan ayat-ayat hukum dan teologi masih sangat tekstual sekali.

Praktik tekstualisme dikelompokkan menjadi dua, yaitu tekstualisme lunak dan tekstualisme keras. Pertama, tekstualisme lunak yang masih menganggap adanya makna literal, namun masih memungkinkan adanya  ke-fleksibel-an dalam penafsiran sambil tetap bepegang teguh dengan makna yang berbasis riwayat. Kedua, tekstualime keras terkesan kaku, karena hanya terfokus dalam mengaplikasikan pemahaman literalnya tanpa memperdulikan kompleksitas maknanya. (Al-Qur’an Abad ke-21: Tafsir Kontekstual, Abdullah Saeed, 2016)

Melihat pemaparaan Saeed di atas, bahwasanya pendekatan tekstualis tidak semuanya kaku. Namun, ternyata ada juga yang bersifat lentur dalam menafsirkan al-Qur’an, meskipun masih ada bumbu-bumbu literalnya dalam mengkaji makna al-Qur’an. Memahami al-Qur’an tanpa memperdulikan konteks, dan hanya terpaku kepada pemahaman yang berbasis riwayat semata juga akan menuai problematika. Tekstualis terkadang menggunakan hadits untuk mendukung makna historisnya. Namun, menggunakan hadits saja juga tidak cukup memberikan pencerahan dalam memahami al-Qur’an. Hadits memiliki kategori kuantitas dan kualitas yang beragam, sehingga apabila hadits yang dijadikan rujukan untuk memahami al-Qur’an ternyata tidak shahih, maka akan memunculkan permasalahan serius di dalam proses ataupun pada hasil penafsiran al-Qur’an.

Melihat adanya perkembangan dan perubahan sosial yang begitu cepat, maka cara berpikirnya seseorang juga harus bisa mengikuti perubahan dan perkembangan zaman. Pendekatan yang kedua adalah pendekatan kontekstualis, di mana kaum kontekstualis ini  menganggap bahwa ajaran yang tertera di dalam al-Qur’an sebaiknya dipahami dengan cara bagaimana ia dapat dipahami dan dapat diaplikasikan oleh generasi awal abad ke-7 M dan dapat pula dipahami dan diaplikasikan pula oleh generasi zaman modern sekarang (abad ke-21 M). (Al-Qur’an Abad ke-21: Tafsir Kontekstual, Abdullah Saeed, 2016)

Masih membahas mengenai pendekatan ‘kontekstualis’, yang mana tidak terfokus dengan menggunakan aspek analisis linguistik semata, namun juga menggunakan aspek hermeneutika modern, dan teori sastra dalam proses memahami al-Qur’an. Sesuai dengan namanya yaitu pendekatan ‘kontekstualis’, berarti pendekatan ini tidak bisa jauh dengan yang namanya konteks. Dalam memahami makna al-Qur’an, pendekatan ini harus memiliki cukup pengetahuan terlebih dahulu tentang konteks sosial, budaya dan politik di masa pewahyuan. (Pengantar Studi al-Qur’an, Abdullah Saeed, 2016)

Kontekstualis dalam pandangan Saeed menggunakan beberapa aspek, yaitu linguistik, hermeneutik, dan teori sastra. Dengan demikian, pendekatan ini memiliki kesan lebih bervariasi dalam mencari ‘makna’ dalam sebuah teks al-Qur’an daripada pendekatan ‘tekstualis’. Karena, makna ayat al-Qur’an tidak bisa dideteksi secara pasti kebenarannya. Manusia hanya bisa menduga-duga, dan berusaha semaksimal mungkin untuk bisa mengikuti perkembangan makna ayat al-Qur’an dan menyesuaikannya dengan aspek historis, politik, budaya, dan linguistik teks yang berkembang di era modern ini. Pendekatan kontekstualis dalam mendekati teks harus dengan pengalaman, dan nilai-nilai keyakinan. Sehingga pendekatan kontekstualis ini tidak bisa jauh dengan aspek-aspek subjektif yang ada dalam pengalaman kita, sehingga terkesan dalam menafsirkan makna al-Qur’an dengan pendekatan ‘tekstualis’ ini tidak bisa benar-benar murni objektif, selalu ada campur tangan subjektifnya.

Dapat disimpulkan, bahwa konstribusi pemikiran Abdullah Saeed dalam bidang ilmu penafsiran sangat perlu diapresiasi. Saeed memberi kesan terutama kepada umat Muslim, agar al-Qur’an tidak dipandang sebagai hukum yang kaku, stagnan, dan kurang bisa menerima perkembangan konteks yang ada. Pendekatan kontekstualis Abdullah Saeed inilah, yang sepertinya dapat memberi pengaruh besar bagi para sarjana kontemporer untuk selalu memperhatikan konteks sosial, budaya, dan politik di masa pewahyuan dan mengaitkannya dengan konteks di masa kontemporer ini. Dengan demikian, dapat dibuktikan bahwa al-Qur’an dapat dijadikan sebagai rahmatan lil ‘alamin dan hudal lin naas.

Related posts

Rufaidah al-Anshariyah: Paramedis Pertama dalam Islam

KH. Dr. M. Ishom el Saha, M.Ag.

Selayang Pandang Awal Mula Islam di Madura

Ahmad Fairozi

Islam Moderat Solusi Islam Damai di Indonesia (Bagian-II)

khalwani ahmad

Quraish Shihab, Cerminan Imam Syafi’i di Era Kontemporer

admin

Al-Qur’an Membela Vanessa Angel

Khalilullah

Hukuman Bagi Pemecah Belah Bangsa Menurut Rasullah

Ahmad Fairozi

Leave a Comment