28 November 2020

Degradasi Makna Jihad

Oleh Anam Addymaki *

Foto di atas adalah jepretan gamber Munomen Nasionas yang memiliki-menyimpan makna penting “JIHAD” tentang sejarah perjuangan bangsa ini melawan penjajahan. Foto ini saya ambil beberapa hari yang lalu dari lt.22 Perpustakaan Nasional di Jl Medan Merdeka tepat di samping Tugu Monas. 


Tentang Perpusnas, secara pribadi sayangat merekomindasikan bagi teman teman kesarjana yang kekeringan bahan bacaan. Perpusnas, selain banyak menyediakan buku-buku kebutuhan akademik dan manuskrip kuno, Perpusnas ini juga memiliki fasilitas yang cukup mewah, meja kursi, ruang diskusi, masjid, kantin, dan beberapa ruang yang bisa diakses umum, dan yang penting tidak dipungut biaya pula.

Namun, meskipun sudah digratiskan, tampaknya masyarakat Jakarta masih sedikit yang memanfaatkan fasilitas tersebut. Beberapa kali saya ke perpustakaan nasional ini, sebatas pengalaman pribadi selama 3 bulan terakhir, ke 24 lantai yang tersedia di sana belum pernah menjadi penuh, atau bahkan sampai sesak sehingga pengunjung tidak bisa duduk di tempat yang sudah disediakan.

Dari sini saya mengandaikan seumpama setiap hari, di Perpusnas ini (begitu juga perpus-perpus lainnya) dipenuhi oleh pemuda-pemudi, bapak-bapak dan ibu-ibu yang rutin membaca, apalagi sampai mengobarkan semangat membaca dengan semangat jihad menolak kebodohan. 

Alangkah indahnya jika hal itu adalah sebuah kenyataan, sayangnya itu sebatas pengandaian saja. Dan kenyataannya adalah gelora jihad hanya didengungkan di Monas saja, sedangkan yang mau berjihad di Perpustakaan jumlahnya tak seberapa. 

Oleh karena itu, pemahaman atas jihad hendaknya didudukkan secara adil, dan tidak hanya disempitkan kepada kegiatan yang diusung oleh kelompok oposisi pemerintah saja. Siapapun yang berani menghujat pemerintah akan diberikan label berjihad. Dan khusus untuk demo berjilid di Monas -sebagaiamana diberitakan di media- para pendemo itu menyebut dirinya dan kelompoknya sebagai “mujahid”.

Agaknya, wacana ini harus menjadi bahan renungan kita bersama, supaya bangsa ini segera berbenah, berbenah dari pembodohan politik berkedok agama. []

Anam : adalah Santri 
asal Demak yang sedang menyelesaikan program Pasca Sarjananya di Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) Jakarta.

Pilihan Lain

Selamat datang di layanan kami Setuju Lain Kali

Privacy & Cookies Policy