21 Oktober 2020

Di Matamu

; Anak-anak di desaku

Di matamu aku melihat pelangi terlukis warna api

Menjilat-jilat ekor abjad yang semestinya tumbuh subur

Menggigit lidah dan otak yang belum retak

Di matamu daun-daun berguguran tak sempat mengenal batang

Cahaya merajam sketsa tanah kelahiran hingga kerontang

Ibu juga senang menimang tembang kematian

Di matamu tuhan kesepian

Aku dan puisi hanya bisa terdiam dan menyaksikan

Telenteyan, 2020

Pilihan Lain

Selamat datang di layanan kami Setuju Lain Kali

Privacy & Cookies Policy