8 Agustus 2020
Di Tengah Covid-19, Siapakah Aku?

Di Tengah Covid-19, Siapakah Aku?

Oleh Masykur Arif

Pertanyaan mengenai identitas seorang “Aku” biasanya selalu muncul dari kedalaman hati manusia, utamanya pada saat menghadapi masalah yang mengancam keberlangsungan hidupnya.

Sebutlah, misalnya, pada saat menghadapi ancaman serius Covid-19. Ancaman ini telah memaksa manusia untuk berpikir tentang identitas ontologis sekaligus epistemologis mengenai dirinya, siapakah diri (Aku) ini sebenarnya?

Sebagian manusia menjawab pertanyaan itu dengan nalar Fatalisme. Yakni, Aku hanyalah seonggok benda yang tak punya kekuatan apa-apa. Memang Aku hidup, bergerak dan berpikir, namun semua ini dikendalikan oleh Sang Pencipta.

Karena itu, Aku seperti wayang yang digerakkan oleh Sang Dalang.

Tidak hanya Aku, yang lain pun juga begitu, termasuk corona yang bisa membunuh itu. Semuanya digerakkan oleh Sang Pencipta. Seandainya corona tak digerakkan Sang Pencipta, tentu ia tidak bisa kemana-mana, apalagi mengepung dunia.

Kesimpulannya, jelas Aku tak memiliki daya. Mereka pun tak mempunyai kekuatan. Gerakan dan pikiran, kehidupan dan kematian, semua berada dalam genggaman Sang Pencipta.

Akhirnya, pasrah pada nasib adalah jalan terbaik untuk hidup bahagia di dunia.

Baca Juga  Memahami Islam Nusantara?

Itulah sebagian jawaban manusia atas pertanyaan tadi. Sebagian manusia lain, entah yang lebih banyak atau lebih sedikit, menggunakan nalar berbeda dalam menjawab pertanyaan itu, misalnya menggunakan nalar kehendak bebas. Tapi fokus tulisan kali ini adalah pada jawaban nalar Fatalisme itu.

Dengan berlindung pada jawaban nalar fatalis itu, banyak orang dengan angkuhnya tidak mengindahkan anjuran pemerintah dan dokter dalam menghadapi Covid-19. Seperti, mereka tidak mau melakukan physical distancing dan tidak memakai masker ketika keluar rumah.

Seandainya orang-orang yang berpegang teguh pada nalar fatalis itu konsisten, sebenarnya ia tidak perlu mengkritik pemerintah yang mengeluarkan kebijakan-kebijakan tersebut.

Karena sesungguhnya pemerintah juga digerakkan oleh Sang Pencipta. Artinya, pemerintah pun tak punya kekuatan apa-apa. Ia sekadar wayang yang berperan sebagai pemerintah, seperti kita sebagai wayang yang berperan menjadi rakyat biasa. Semuanya digerakkan oleh Sang Dalang.

Baca Juga  Belajar Islam Pada Cheng Ho di Surabaya (II)

Tetapi mungkin memang perlu dimaklumi. Sebagaimana dunia pewayangan, sesama wayang boleh bertentangan bahkan bertengkar, bukan?

Lihat saja pertunjukan wayang, tidak menarik apabila tidak ada konflik. Sebab konflik wayang memang diciptakan oleh sang dalang. Tujuan sederhananya, tentu agar penonton tidak bosan dan terhibur.

Pertanyaannya, apabila dunia dan isinya ini hanyalah wayang yang digerakkan Sang Dalang, lalu siapakah penontonya? Siapakah yang akan terhibur oleh pertunjukan akbar wayang ini?

Jawabannya mungkin hanya ada dua (boleh ditambah lagi, ya), yakni yang jadi penonton sekaligus yang akan terhibur adalah sang dalang itu sendiri. Sang dalang ingin menghibur dirinya, maka ia menciptakan skenario, panggung, wayang dan adegan demi adegannya.

Atau kita yang akan jadi penonton dan terhibur. Artinya, kita memikul dua peran sekaligus, sebagai wayang sekaligus sebagai penonton. Dengan demikian, kita akan menjadi wayang sekaligus yang akan merasakan dampak dari permainan akbar sang dalang. Kita harus terhibur apa pun nasib yang menimpa kita.

Jika benar demikian, mungkin pemikiran fatalisme ini akan membawa nama baik Sang Pencipta ke puncak kekuasaan-Nya yang paling tinggi. Atau malah sebaliknya, karena kebodohan dan keangkuhan kita dalam menghadapi ketidakmenentuan masa depan disematkan pada kebesaran-Nya.

Baca Juga  Memahami Pemikiran dan Kontribusi Al-farabi

Dengan kata lain, kita tidak bisa memanfaatkan daya akal dan indra sebagai pemberian agung dari Sang Pencipta untuk menyongsong masa depan yang lebih bahagia. Anehnya lagi, ini dianggap sebagai takdir dari Sang Pencipta dan patut disombongkan.

Tulisan ini direpost dari kiriman Facebook penulis setelah mendapat ijin via komentar.

Pilihan Lain

Selamat datang di layanan kami Setuju Lain Kali

Privacy & Cookies Policy