26.1 C
Indonesia
18 Agustus 2019

Dilema Agama; Mencari Perdamaian. Citra Keras Yang Didapat

Dilema Agama; Mencari Perdamaian. Citra Keras Yang Didapat 1

Judul Buku : Fields of Blood
Penulis : Karen Armstrong
Penerbit : Mizan
Cetakan : II, Mei 2017
Tebal Buku : 696 hal.
ISBN : 978-979-433-969-5
Peresensi : Ach. Khalilurrahman*

Telah berkembang di tengah-tengah masyarakat sebuah pandangan negatif tentang agama. Tak sedikit dari mereka yang beranggapan bahwa agamalah sumber kekerasan serta bertanggungjawab atas rentetan terorisme yang kian kerap terjadi. Untuk menunjang hipotesisnya, golongan ini merujuk pada sejumlah peristiwa kekerasan yang dilakukan oleh kelompok tertentu seperti Islamic State (IS) di Timur Tengah, Boko Haram dan Lords Resistance Army di Afrika, juga ekstremis Buddha dan Hindu di Myanmar dan India.
Opini seperti itu telah merebak luas utamanya di dunia barat. Miris akan hal tersebut, seorang penulis dan komentator terkemuka masalah agama-agama berkebangsaan Inggris, Karen Amstrong, tergerak hatinya untuk menulis dan mengurai sejarah hubungan agama dan kekerasan. Karen melakukannya dengan menampilkan penjelajahan historis yang luas, mulai dari epik Gilgamesh hingga al-Qaeda, merentang masa tiga ribu tahun sebelum kelahiran Kristus hingga zaman sekarang. Dari penelusurannya, Karen menemukan fakta bahwa agama sejatinya telah melakukan berbagai upaya untuk mewujudkan perdamaian.
Pada abad kesembilan SM, ritualis India mengeluarkan semua kekerasan dari liturgi mereka dan menciptakan ideal ahimsa, tanpa kekerasan. Perdamaian dan Gencatan Senjata (yang diresmikan para uskup Kristen) memaksa para kesatria untuk berhenti meneror orang miskin dan melarang kekerasan dari Rabu sampai Minggu setiap pekan. Secara dramatis, setelah Perang Bar Kokhba para rabi menafsirkan kembali kitab suci dengan sangat efektif sehingga orang Yahudi menahan diri dari agresi politik selama seribu tahun (hal. 519). Ketika mengambilalih Yerusalem dari Bizantium, Umar segera menandatangani piagam guna memastikan agar tempat-tempat suci Kristen dan Yahudi tidak diganggu.
Lalu bagaimana halnya dengan banyaknya aksi kekerasan yang kerap mengatasnamakan agama? Menurut Karen, alasan sesungguhnya kekerasan yang terjadi sepanjang sejarah umat manusia sangat sedikit hubungannya dengan agama. Pada Perang Salib, Karen menemukan bahwa ada faktor sosial-ekonomi dalam tragedi ini sekalipun ia dikenal sebagai perang akbar antaragama. Banyak tentara salib pertama berasal dari daerah timur laut Prancis dan barat Jerman yang telah dihancurkan oleh banjir, wabah penyakit, dan bencana kelaparan selama bertahun-tahun, sehingga mereka mungkin hanya ingin meninggalkan kehidupan yang tak tertahankan.
Para pemimpin Perang Salib Pertama, yang meninggalkkan Eropa pada 1096, memiliki berbagai motif untuk bergabung dalam ekspedisi itu. Bohemund, Pangeran Taranto di Italia Selatan, memiliki tanah perdikan yang sangat kecil, dan tidak merahasiakan ambisi duniawinya: dia meninggalkan Perang Salib begitu ada kesempatan untuk menjadi Pangeran Antiokhia (hal. 285). Perang ini juga merupakan upaya pertama kekaisaran Kristen Barat, setelah kebuntuan berabad-abad, untuk kembali masuk ke kancah internasional (hal. 288). Namun demikian, Karen juga mengakui bahwa tak sedikit pula ksatria yang tulus berjuang dalam perang suci ini.
Kasus lainnya yaitu tragedi Afghanistan yang oleh Presiden Ronald Reagan disebut-sebut sebagai perang suci. Reagan dan Direktur CIA William Casey, seorang Katolik taat, merasa sangat tepat mendukung mujahidin Muslim melawan komunis ateis. Paket bantuan besar-besaran senilai US$600 juta (diperbarui setiap tahun dan ditandingi setiap tahun oleh Arab Saudi dan negara-negara Teluk) mengubah pasukan gerilya Afghanistan menjadi raksasa militer yang bertarung melawan Rusia dengan sama gigihnya. Amerika juga memberi orang-orang Arab-Afghan (sebagaimana relawan asing menyebut mereka) setiap dorongan yang mungkin.
Didukung oleh dana dari pengusaha Arab seperti bin Laden, mereka dipersenjatai oleh Amerika dan dilatih oleh pasukan-pasukan Pakistan. Di kamp-kamp pelatihan di sekitar Peshawar, mereka berjuang bersama para gerilyawan Afghanistan, tetapi kontribusi mereka tidak harus dibesar-besarkan. Hanya sedikit yang benar-benar ambil bagian dalam pertempuran; sebagian hanya menghabiskan sedikit waktu liburan musim panas mereka dalam wisata jihad, yang mencakup perjalanan melewati Khyber Pass dimana mereka bisa berfoto-foto di lokasi itu (hal. 481).
Peristiwa-peristiwa kekerasan itu, selain telah banyak menumpahkan darah ribuan orang tak bersalah, juga menggiring opini bahwa agama identik dengan peperangan. Pada tahap selanjutnya muncullah penyakit semacam Islamofobia dan ateisme yang keberadaannya saat ini tak dapat lagi disembunyikan. Membaca buku ini, kita menjadi tahu bahwa pada dasarnya agama telah banyak mencari dan melakukan usaha perdamaian, namun akhirnya justru citra keras yang ia dapat. Atau barangkali memang betul apa kata Ronald Reagan, Barangsiapa yang ingin damai, bersiaplah untuk perang.
*Penulis adalah pecinta buku.
Tinggal Sumenep Madura.

Pilihan Lain

Selamat datang di layanan kami Setuju Lain Kali

Privacy & Cookies Policy