28.8 C
Indonesia
9 Desember 2019

Doa Sang Katak

Doa Sang Katak 27
Judul tulisan ini sengaja meminjam buku karya Anthony de Mello SJ, yang diberi judul Doa Sang Katak, Meditasi dengan Cerita. Versi bahasa Indonesia diterbitkan oleh Penerbit Kanisius 1990.
Ada salah satu bagian dalam buku itu mengisahkan cerita Hasidin:
Suatu hari, sudah petang seorang petani miskin pulang dari pasar, menyadari bahwa ia lupa membawa buku doanya. Roda gerobaknya terlepas tepat di tengah hutan, dan ia menyesal bahwa hari akan lewat tanpa bisa mengucapkan doanya.

Maka inilah doa yang dibuatnya: “Perbuatanku amat bodoh, ya, Tuhan. Aku meninggalkan rumah pagi ini tanpa membawa buku doa. Dan ingatanku itu sedemikian rupa hingga doa satu pun tak dapat kukatakan tanpa buku. Maka inilah yang hendak kukatakan: Aku akan mengucapkan a-b-c…lima kali pelan-pelan dan engkau, yang mengetahui semua doa, bisa mengatur huruf-hurufnya, untuk membentuk doa, yang tak dapat kuingat.”
Dan Tuhan berkata kepada para malaikat-Nya, “Dari segala doa yang Aku dengar hari ini, satu ini niscaya yang paling baik, karena datang dari hati yang sederhana dan jujur.”
Cerita di atas memberikan pesan bahwa doa sejati adalah apa yang dicapai dalam rahasia hati nurani, hati: tidak dapat dipahami, hanya dapat dilihat oleh Allah. Doa semacam itu menghindari kepalsuan: dengan Tuhan, tidak mungkin untuk berpura-pura. Petani miskin itu yakin bahwa di hadapan Tuhan, trik tidak memiliki kekuatan.
Karena itu, ia berdoa apa adanya, sebisanya. Bukankah, doa sejati dibuat di kedalaman hati yang intim yang hanya dapat dilihat oleh Allah. Itulah yang dilakukan oleh petani miskin yang lupa membawa buku doanya. Doa yang dilambungkan petani miskin itu adalah dialog yang sunyi, dengan cinta pada intinya. Petani miskin itu melihat Tuhan dan membiarkan diri dilihat oleh Tuhan, sama dengan berdoa apa adanya.
Petani miskin yang kemalaman di tengah hutan telah mengungkapkan isi hatinya secara wajar, walau dengan kalimat yang sangat sederhana, dengan kerendahan hati, tapi jelas dan bermakna. Yang ia ucapkan bukan sekadar kata-kata indah yang hanya basa-basi semata.
Apalagi kata-kata yang sifatnya membentak-bentak, memaksa-maksa, memerintah, mengancam Tuhan. Bukan sama sekali. Bukan! Ia menyampaikan dengan kalimat sopan, karena ia sadar sedang berbicara dengan Raja Diraja, Raja di atas segala Raja.
Ketika berdoa, petani miskin itu pun tidak memikirkan strategi supaya dianggap benar-benar berdoa. Padahal, hatinya tidak! Ia juga tidak memikirkan bagaimana seharusnya sikap kaki, tangan, kepala, mata, dan raut wajah saat berdoa. Tidak! Semua itu tidak dipikirkan.
Ia juga tidak ingin berdoa seperti orang-orang munafik yang memikirkan kata-kata untuk ditaruh di mulut, sementara hatinya disembunyikan. Ia tidak ingin berteriak lantang, sementara hati dan telinganya tuli. Tidak! Ia berdoa begitu saja. Semua keluar dari hatinya.
Petani miskin itu hanya berdoa, seperti seorang anak berbicara kepada bapaknya. Benar. Seperti seorang anak yang yakin bahwa bapaknya akan mendengarkan apa yang dikatakan. Ia meyakini itu, karena tahu bahwa bapaknya sangat menyayangi, mencintai, dan mengasihinya.
Ia yakin bahwa kalau ia minta roti, pasti akan diberi roti, bukannya diberi batu dan ular yang bisanya mematikan. Dengan bersikap demikian, petani miskin itu sepenuhnya bergantung dan percaya atas kebaikan, kemurahan hati, dan kasih sayang bapaknya.

Dengan demikian doa petani miskin itu bukanlah pelarian dari realitas historis dan problem riil yang tengah dihadapi. Tetapi, doanya dipanjatkan sebagai bentuk kepasrahan bahwa yang bisa dan memiliki kuasa untuk memutuskan adalah hanya Yang Ilahi.
Itu berarti bahwa berdoa bukanlah memerintah. Artinya lewat doa, dapat mendiktekan apa yang dimaui dan segera mendapatkan apa yang diinginkan. Dengan hanya mengucapkan a-b-c…petani miskin itu telah melawan anggapan dan keyakinan umum bahwa berdoa harus menggunakan banyak kata. Tidak! Doa dilakukan dari hati”. 
Sebab, hanya orang munafik yang ketika berdoa ingin dilihat dan dikagumi. Orang-orang sering atau bahkan selalu berdoa, tetapi kemudian menyebarkan kebencian, berbicara buruk tentang orang-orang, menfitnah, menyebarkan berita bohong, hoaks, mengumbar ujaran kebencian, memutarbalikkan fakta, mengarang-ngarang cerita tidak benar, pembunuhan karakter, dan melakukan tindakan jahat terhadap orang lain. Itu adalah sebuah perbuatan yang memalukan! Lebih baik tidak berdoa, sebab hidup seperti itu layaknya hidup seorang ateis.

Sebab pada akhirnya seperti kata pepatah lama ‘lupus pilum mutat, non mentem’, serigala berganti mantel (bulunya), tetapi bukan wataknya (yang berganti). Sekali serigala, tetaplah serigala. Bukan kodok!

Oleh Trias Kuncahyono

Pilihan Lain

Selamat datang di layanan kami Setuju Lain Kali

Privacy & Cookies Policy