28.8 C
Indonesia
9 Desember 2019

Efek Bahaya Salah Tasrif Kata Kafir Ustadz Zul

Efek Bahaya Salah Tasrif Kata Kafir Ustadz Zul 27

Beberapa pekan ini, dunia sosmed kita dihebohkan dengan cuplikan salah satu ustadz yang salah dalam mentasrifkan kata-kata bahasa Arab, tepatnya kata kafir. Maksud dari ustadz tersebut adalah untuk mengomentari salah satu hasil keputusan Munas Alim Ulama NU, tentang Nonmuslim jangan dipanggil kafir.  ketika menerangkan kata kafir kepada jama’ahnya, entah karena terkilir lidahnya atau karena ketidaktahuanya, Ustadz Zul salah dalam mentasrifkanya.

Kesalahan dalam mentasrif kata bisa menimbulkan efek pemaknaan yang berbeda. Ustadz Zul menerangkan bahwa asal kata kafir itu kufrun artinya menutupi apa yang seharusnya tampak jelas, kemudian Ustadz Zul menjelaskan bahwa kata tersebut telah diserap menjadi bahasa inggris “cover” yang artinya penutup.
Lebih lanjut ketika Ustadz Zul menerangkan kata kafir, beliau mencoba mentasrifkanya. tasrifan beliau adalah kafara-yukaffiru [dengan ditasydid huruf fa’nya]-kufron. dari segi ilmu sorof jelas tasrifan yang dilakukan Ustadz Zul salah kaprah, karena mencampuradukan antara fi’il tsulasi mujarat dan fi’il tsulasi mazid. Kata kafara merupakan fi’il tsulasi mujarot yang harusnya ditasrifkan kafara-yakfuru-kufron. akan tetapi Ustadz Zul malah mencampuradukan tasrif fi’il tsulasi mujarot dengan fi’il tsulasi mazid.
Jika menggunakan kata kafara [fi’il tsulasi mujarat] tidak terlalu banyak membuahkan makna baru, karena kata tersebut merupakan kata dasar yang artinya menutupi apa yang seharusnya tampak jelas. akan tetapi jika jika meninjau kata yukaffiru maka akan membuahkan banyak makna.
Dalam ilmu sorof kata yukaffiru berasal dari wazan fa’ala-yufa’ilu-taf’ilan,  jadi kata yukaffiru jika ditasrikan secara lengkap menjadi kaffara-yukaffiru-takfiiron. penambahan tasydid pada kata fa tersebut membuahkan banyak makna. diantara
1. Untuk memperbanyak [littaksir], artinya apabila digunakan kata tersebut menghasilkan banyak kekafiran sebagaimana contoh Zulkarnaen yukaffiru Ibrahim, menandakan bahwa Zulkarnaen telah menyematkan banyak kekafiran kepada diri Ibrahim [dalam diri ibrahim terdapat banyak kekafiran, tidak hanya satu akan tetapi banyak].
2. Untuk menisbahkan objek kepada kata kerjanya, ini berarti kata yukaffiru bermakna mengkafirkan objek
3. Untuk menghilangkan [lissalbiyah], kata salbiyah, berdasarkan apa yang penulis dapatkan dipondok pesantren dulu bisa bermakna mengkuliti, sebagaimana contoh yukaffiru Zulkarnaen Ibrahim. ini bermakna bahwa Zulkarnaen menghilangkan atau mengkuliti kekafiran yang ada pada diri Ibrahim.
4. Untuk i’tiqod atau keyakinan, dengan menggunakan kata yukaffiru berarti seseorang telah beri’tikad atau berkeyakinan bahwa objeknya adalah kafir.
5. Untuk penerimaan [lilqobul], dalam contoh sederhana beberapa orang sering mengucapkan syaffa’tu [saya menerima syafa’at] kalau digunakan dalam kata kaffartu berari artinya saya menerima kekafiran.
6. Untuk menjadikan sesuatu [lissoiruroh]. maksudnya kata yukaffiru menjadikan sesuatu menjadi kafir, sebagaimana contoh kaffartu maka artinya saya menjadi kafir, kalau kafartu artinya saya kafir. jadi perlu dibedakan antara makan kafara dan kaffara.
7. Untuk menunjukan masa tertertu [lilhaenunah] sebagaimana kata duhur berasal dari kata doharo, akan tetapi jika dirubah menjadi dohharo maka artinya memasuki waktu duhur. hal ini juga berimplikasi sama dengan menggunakan kata kaffara artinya memasuki fase kekafiran.
8. Untuk menuju atau mengarah [litaujih], sebagai contoh bahasa arab timur adalah syarqun berasal dari kata syaroqo, maka apabila dirubah menjadi syarroqo maka artinya menuju arah timur. begitu juga kata kaffara bisa bermakna menuju arah kekafiran.
Begitu banyak makna yang dihasilkan dari yukkafiru, makna manakah yang dimaksud oleh Ustadz Zul tersebut. Kalau tujuan beliau untuk makna salbiyah, maka maknanya menjadi indah karena berusaha untuk menghilangkan kekafiran. akan tetapi jika makna yang dituju adalah selain itu akan menimbulknan efek makna yang berbahaya, terlebih apabila kata tersebut disematakan kepada orang lain.

Penulis berkhusnudzon bahwa Ustadz Zul sudah pernah belajar mengenai hal seperti ini, pelajaran seperti ini dalam pondok pesantren adalah pelajaran ibtidaiyah, atau pelajaran kelas dasar. Jika untuk pelajaran kelas dasar aja belum selesai, maka janganlah berbicara terhadap pelajaran kelas tinggi. terlebih membahas mengenai persoalan agama, yang semua sumbernya berasal dari bahasa Arab, maka janganlah sembarang menafsirkan bahasa arab dengan sembarang, karena bisa bermakna fatal, terlebih jika bahasa arab tersebut termasuk dalil dalam beragama.

Pilihan Lain

Selamat datang di layanan kami Setuju Lain Kali

Privacy & Cookies Policy