27 November 2020
Era Milenial: Madu Atau Racun Bagi Pelajar NU?

Era Milenial: Madu Atau Racun Bagi Pelajar NU?

Mejadikan Generasi Mienial khususnya Generasi Pelajar NU yaitu IPNU harus sedini mungkin mempersiapkan diri dalam menghadapi tantangan.

Oleh; Choirul Mubtadi’in

Istilah generasi milenial memang sedang akrab terdengar, isitilah tersebut berasal dari millennials yang diciptakan oleh pakar sejarah dan penulis amerika, William Strauss dan Neil Howe dalam beberapa bukunya. Millennial Generation atau Generasi Y juga akrab disebut generation me  atau echo boomers. Secara harfiah memmang memang tidak ada demografi khusus dalam menentukan kelompok generasi yang satu ini. Namun, para pakar menggolongkannya berdasarkan tahun awal dan akhir. Penggolongan generasi Y terbentuk bagi mereka yang lahir pada 1980-1990, atau pada awal 2000, dan seterusnya.

Rata-rata generasi ini menghabiskan waktu di depan layer perangkat mobile sekitar tiga jam sehari. Angka tersebut melambung empat tahun kemudian menjadi 20 persen. Waktu yang dialokasikan untuk menonton streaming juga meningkat tiga kali lipat. Fakta tersebut membuktikan, prilaku generasi milenial sudah tak bisa dilepaskan dari dunia teknologi. Teknologi juga membuat para generasi internet tersebut mengandalakan media social sebagai tempat mendapatkan informasi. Saat ini, media social telah menjadi platform pelaporan dan sumber berita utama bagi masyarakat khususnya generasi Y tersebut.

Millennials saat ini menjadi generasi tebesar. Menjelang dewasa, Millennials dihadapkan dengan berbagai peristiwa penting. Dikancah Politik, masalah Gender, dan Ras mulai tidak menjadi isu utama. Misalnya selama ratusan tahun, amerika serikat akhirnya memiliki presiden kulit hitam pertama atau sejumlah pemimpin negara eropa yang adalah wanita, seperti Halimah Yacob yang menjadi Presiden Muslimah pertama di Sngapura, terlebih didalam negeri Indonesia yang masih hangat ialah seorang wanita yang pertama memjadi Gubernur Jawa timur yaitu ibu Khofifah Iindahparawansa.

Namun, generasi Millennials ini pun menyaksikan berbagai aksi terorisme diberbagai belahan dunia, belum lagi terjadi resesi besar yang sangat memengaruhi perekonomian dunia. Meskipun demikian, Millennials dikenal sebagai genrasi yang memiliki tingakt optimism sangat tinggi. Salah satu penyebabnya adalah pengaruh Internet dan Globalisasi. Internet sangat membantu membuak pikiran generasi ini.

Berkaitan dengan hal tersebut, Santri atau pelajar nahdlatul ulama terwadahi dalam sebuah organisasi bernama Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama’ (IPNU) yang menjadi kawah candra dimuka nya generasi melenial di kalangan Nahdlatul Ulama’. IPNU  harus mempersiapkan diri dalam menyambut gelombang besar tantangan dalam gejala kegersangan social, seperti berkurangnya kesantunan, kehangatan interaksi social, sensitivitas social, dan berkembangnya aksi kekerasan, termasuk kekerasan dalam berungkap.

Jika kita cermati, Pertama, betapa banyak ungkapan-  ungkapan yang kasar di ranah publik yang tidak jarang disampaikan oelh orang yang terhormat dalam status sosialnya. Kini kita kadang sulit membedakan ungkapat kritik dari kalangan terpelajar atau dari kalangan yang tidak terdidik. Interaksi dan komunikasi social terasa sangat kering, ini salah satu tanda terjadinya kegersangan social.

Kedua, disampaikan oleh Profesor Yuval Noah Harari dalam bukunya berjudul Homo Deus: A Brief History of Tomorrow, beliau mengeksploarasi tentang keadaan masa depan dan bagaimana kekuatan global, yakni seleksi alam, yang menjadi kekuatan utama dalam suatu evolusi digantikan oleh intelligent Design, berupa teknologi baru yang ada pada masa depan demi menciptakan manusia yang lebih unggul yang disebut Homo deus. Agama atau dalam Bahasa inggris disebut religion merupakan sesuatu yang sering dianggap orang muncul dari peradaban yang ada di timur tengah. Akan tetapi, suatu agama mungkin tidak muncul dari tempat yang sama seperti agama – agama yang sudah kita kenal, seperti Islam, Kristen Katolik, Hindu Budha maupun konghuchu. Agama baru ini kelak akan muncul dalam laboratorium riset, dimana para professor atau alhi teknologi menciptakan Tekno-Religi (Techno-Religion). Tekno-Religi tidak terkait sama sekali dengan keilahian, tetapi dengan teknologi yang menjanjikan banyak hal; seperti kemakmuran, kesehatan, perdamaian, kebahagiaan, dan keabadian. Dan oleh Profesor Yuval Noah Harari Tekno Religi ini dijadikan aspek fundamental yaitu Agama Data.

Melihat dua tantangan diatas, mejadikan Generasi Mienial khususnya Generasi Pelajar NU yaitu IPNU harus sedini mungkin mempersiapkan diri dalam menghadapi tantangan tersebut, sehinga diri kita sendirilah yang menentukan Era Milenial ini menjadi Racun ataukan Madu  bagi pelajar NU.

Hadratussyaikh KH. Hasyim Asyari telah membekali kita sebuah nilai-nilai kebaikan, tolong-menolong, cinta kasih antar sesame dan juga memberikan rasa aman, yang dijadikan oleh beliau manhajul fikr (metodologi berfikir) sebagai sebuah khasais dalam menjawab kegersangan Sosial dan Tekno Religi.

Pilihan Lain

Selamat datang di layanan kami Setuju Lain Kali

Privacy & Cookies Policy