4 Juni 2020
Fathu Makkah

Fathu Makkah, Kisah Heroik 10 Hari Terakhir Ramadhan

Dalam sejarah, pembebasan Kota Makkah (Fathu Makkah) merupakan suatu momen yang penting. Inilah fase yang mengawali merekahnya dakwah Islam di seluruh Arab, atau bahkan dunia. Sejak saat itu, musuh-musuh Nabi Muhammad SAW dari kalangan musyrikin Quraisy melemah. Bahkan, berbondong-bondong mereka memeluk Islam.

Peristiwa Fathu Mekah terjadi pada 10 menjelang Idul Fitri tahun kedelapan Hijriyah. Inilah suatu kemenangan yang menjadi tonggak ketinggian Kalimatullah.

Tentang hal ini, Allah SWT berfirman, yang artinya, “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata” (Surah al-Fath: 1).

Peristiwa itu menunjukkan pula keteladanan Rasulullah SAW. Beliau bukanlah pribadi yang pendendam. Justru, ia menjadi pemimpin yang pemaaf, meskipun dalam posisi kemenangan.

Di hulu Kota Mekah, tak jauh dari makam Abu Thalib dan Khadijah, Nabi Muhammad SAW tengadah. Beliau memikirkan keadaan 10 ribu orang pasukannya yang berangkat dari Madinah pada 10 Ramadhan itu. Mereka semua bergerak menuju kota kelahiran Nabi SAW–kota yang telah delapan tahun ditinggalkan beliau itu.

Hijrahnya Nabi SAW lantaran kekejaman kaum Quraisy terhadap diri dan para pengikutnya.

Baca Juga  Nasehat Hidup Dalam Ilmu Nahwu

Kini, Rasulullah SAW memikirkan, bagaimana memasuki kota itu tanpa ada setetes pun darah tertumpah. Setelah diserang dari semua penjuru, kini di depan mata beliau, terlihat pintu Lembah Wahyu dan tempat Rumah Suci itu lebar terbuka.

Dengan segala kerendahan hati, dengan air mata di pipi, tanda syukur pada Ilahi, beliau memasuki Kota Suci. Setelah mandi pagi di rumah sepupunya, Ummu Hani, delapan rakaat salat dhuha pun beliau jalani.

Lalu, beliau menuju Ka’bah, bertawaf tujuh kali. Selesai tawaf, dibukanya pintu Ka’bah dan dicampakkannya gambar para malaikat dan nabi-nabi, dihancurkannya berhala-berhala di sekelilingnya.

Beliau berseru, ”Dan katakanlah: ‘Yang benar itu sudah datang, dan yang palsu segera hilang, sebab kepalsuan itu pasti lenyap.'” (QS. 17: 81).

Berdiri di pintu Ka’bah, di hadapan kaum Quraisy, beliau membacakan ayat ke-13 dari surah al-Hujurat: “Hai manusia, sungguh Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan dan menjadikanmu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.”

Baca Juga  Bencana Alam Menantang Kita untuk Berfikir

Beliau lalu bertanya, “Wahai, orang-orang Quraisy, menurut pendapatmu, apa yang akan kuperbuat terhadapmu sekarang?”

Mereka menjawab, ”Yang baik-baik! Wahai, saudara kami yang pemurah, sepupu kami yang pemurah!”

Nabi SAW kemudian bersabda, ”Pergilah kamu sekalian. Kalian semuanya sudah bebas.”

Demikianlah, suatu pengampunan yang beliau pilih. Sikap ini menunjukkan kebesaran jiwa yang sangat indah, bahkan terhadap orang-orang yang telah memusuhinya.

Dengan tindakan itu, mereka berbalik menjadi pendukung Islam yang sangat tangguh!

Pilihan Lain

Selamat datang di layanan kami Setuju Lain Kali

Privacy & Cookies Policy