27.5 C
Indonesia
23 Oktober 2019
Film The Santri Go Internasional

Film The Santri Go Internasional

Ulama Irak berkunjung ke PBNU meminta film The Santri bisa diterjemahkan dalam bahasa Arab dan Urdu. Sehingga film tersebut bisa beredar di Jazirah Arab untuk memberikan pencerahan di sana.

Film ini mungkin biasa saja, selayaknya film-film lain yang menceritakan tentang drama romantik dan tragedi para tokoh beserta karakter orang yang terlibat di dalamnya. Kita belum tahu. Karena film ini belum tayang. Hanya “trailernya” saja yang seliweran, melintas dalam banyak media.

Tapi siapa sangka di balik itu semua, ada sebuah pertarungan besar yang berbanding lurus dengan kemunculan film “The Santri” ini. Ada nama Emil Dardak di sana, dan satu lagi yang menarik: Nahdlatul Ulama.

Penghakiman mengalir deras, bahkan anjuran boikot diserukan lantang berdasar adegan dalam trailer, tanpa ada yang tahu jalan cerita yang sebenarnya. Terutama dari mereka yang biasa menghakimi sesuatu dari judul, tanpa mau tahu isinya. Yang penting ustadznya anti NU, muridnya akan memusuhi semua produk turunan NU. “Taqlid buta”.

Tapi tak sesederhana itu. Inilah efek dari berbagai polarisasi yang terjadi saat ini. Dari The Santri inilah kita bisa melihat bahwa belahan politik dan sosial pasca Pilpres masih ada, gerakan eksklusivisme Islam melawan Islam Nusantara, pengusung pluralisme melawan anti-plural, dan secara bercanda bisa juga – kelompok pengusung Tumpeng ke gereja melawan pengusung bom ke gereja.

Melalui The Santri serangan kepada NU berpelumas, meski ini hanya gigitan nyamuk bagi kebesaran NU. The Santri sekedar tontonan, dengan selipan budaya, pluralisme dan moral kebangsaan di dalamnya serta nilai-nilai yang selalu diusung NU. Para pengusung Khilafah dan kaum Takfiri, tentu saja meradang. Karena mereka memang selalu memasung kelompoknya dari berbagai informasi yang akan melunturkan berbagai propagandanya.

Nahdlatul Ulama tak akan tumbang hanya karena pemboikotan sebuah film. Tak ditontonpun NU tak akan bubar. Dulu PKI mempersekusi dan membunuh banyak Kyai NU, dan NU pun tetap tegak berdiri. Apalagi sekedar serangan lewat film–sebuah segmen hiburan.

Menjelekkan The Santri, tak akan membuat NU jelek. Menjelekkan NU, tak akan berpengaruh terhadap The Santri. Karena NU bukan Ram Punjabi, bukan Golan-Globus atau 20th Century Fox – ia Nahdlatul Ulama, sebuah lembaga yang cukup terhibur dengan Maulid Nabi, alunan Sholawat dan Tahlil (Islah Bahrawi).

Di banding popularitas dan eksistensi NU, kelompok Islam fundamentalis radikalis itu ibarat bayi yang baru lahir, atau maksimal baru belajar berjalan tapi nakalnya minta ampun. Mereka ingin diperhatikan dengan cara terus-menerus mengganggu NU, berpura-pura atau memantaskan diri menjadi lawan ormas besar yang tak lain adalah orang tua atau senior mereka. Ini juga yang tampak dalam penolakan film The Santri yang diinisiasi menantu Rizieq Shihab, Hanif Alathas.

Maka dengan segala pertimbangan, NU akan tetap terus eksis dengan polanya sendiri, termasuk dalam mengawal suksesi peluncuran film The Santri ini. Alih-alih kemarin, beberapa Ulama Irak berkunjung ke PBNU dan meminta film The Santri bisa diterjemahkan dalam bahasa Arab dan Urdu. Ini sebuah pertanda sederhana bahwa The Santri telah ditunggu-tunggu kedatangannya dengan lengkap. Paling tidak nanti bisa meluruskan pemahaman kalangan yang sejauh ini saja telah menolak, membaikot film tersebut.

Sebagai kalangan NU, kita–mungkin-perlu menambah sedekah syukuran atas prestasi Film tersebut yang menjadi viral sebelum kelihatan pertunjukan aslinya. Sehingga tak ayal ketika utusan negara luar sampai ingin tahu yang sebenya tentang seputar fil iini.

Pilihan Lain

Selamat datang di layanan kami Setuju Lain Kali

Privacy & Cookies Policy