1 Desember 2020

Guru Dan Murid, Siapakah Yang Lebih Berkuasa…..?

oleh Ibnu Badri 

Diera yang serba canggih, kebanyakan tugas guru sekarang hanya mengajar saja, bukankah tugas guru emang mengajar..? iya emang benar tugas guru itu mengajar, akan tetapi kebanyakan guru itu hanya mengajar dan menyuplai kebutuhan intelektual saja dan melupakan aspek mendidik muridnya. Dalam hal ini bedakan antara mengajar dan mendidik. 
Para guru datang kesekolah hanya untuk menggugurkan kewajibanya saja tanpa disertai mendidik murid dengan kebijkasanaan dan kearifan, tentu hal ini bukan semua guru, karena penulis yakin, tidak sedikit pula guru yang masih punya dedikasi untuk mengajar dan mendidik. Dan akhirnya sekarang sangat dirasakan dampaknya  yaitu degradasi moral dan bobroknya akhlak generasi bangsa. Gusdur pernah berkata bahwa jika mengetahui merupakan kodrat hidup, maka sistem pendidikan adalah kebudayaan sehingga ketika sistem tersebut menjauhkan manusia dari pengetahuan diri, krisis pendidikan secara sah menjadi krisis kebudayaan.
Terlebih lagi yang sangat menyakitkan, hal seperti ini didukung oleh birokrasi hukum kita. Hukum di negeri ini sangat melindungi peserta didik hingga karena lantaran seorang guru mencubit siswa, jeruji besi menjadi pilihannya, padahal upaya mencubit yang dilakukan guru, menurut hemat penulis bukanlah pindak pidana akan tetapi upaya memperbaiki moral peserta didik yang dianggap sudah diluar norma kewajaran.
Memang benar untuk mencapai sebuah tujuan pasti ada yang harus dikorbankan. Tapi bukan moral juga kali yang harus dikorbankan. Zaman sekarang untuk mencapai tujuan Negara yang tertuang dalam UUD 45 yaitu untuk mencerdaskan kehidupan bangsa maka muridharus belajar lebih keras, dimulai dari jam belajar formal di sekolah yang mencapai delapan jam perhari, selepas ashar merekapunharus mengikuti les tambahan pelajaran dan malamnya mereka juga harus belajar lagi. Apalagi dengan diberlakuknya Full Day School, sudah otomatis waktu mereka terkuras habis untuk memikirkan pelajaran.
Terus yang jadi pertanyaan sekarang, kapankah mereka belajar ahklaknya kalau waktu mereka hanya fokus untuk pelajaran umum saja, sedangkan pelajaran agama hanya 2-3 jam perminggu…?
            Ditambah lagi hak guru untuk mengajar benar-benar dikekang alias murid sekarang menjadi tuhannya. murid begitu dilindungi UU, sehingga nilai pengajaran semakin terkekang. Zaman dahulu yang namanya belajar murid mendatangi gurunya, nah dizaman sekarang guru harus mendatangi muridnya. Dulu yang namanya murid wajib menghormati gurunya, eh sekarang guru yang wajib menghormati muridnya, terus dimanakah peran guru yang digugu dan yang ditiru…? Kalaugurunya saja harus mengikuti aturan muridnya.
Suatu ketika penulis mendengar sebuah cerita, yang pada intinya seorang santri itu selalumenuhankan guru. Semua santri harus tunduk dan patuh terhadap perintah gurunya. Bahkan seorang santri pantang mengatakan TIDAKketika diperintahkan gurunya. Itu berarti seorang santriwajib mengIYAkan semua perkataan gurunya.
Apakah benar cerita seperti itu..? penulis yang pernah nyantri di salah satu Pondok Pesantren hanya bisa menjawab bahwasanya itu semua menunjukan bahwa santri mempunyai etika terhadap guru, seorang santri menghormati ahli ilmu, seorang santri selalu mencari ridho guru. Itu adalah pengorbanan yang wajib dilakukan santri terhadap gurunya. Dalam sebuah pembelajaran, akhlak adalah nomor satu, sehingga banyak para pakar pendidikan yang mengatakan Dahulukan Akhlak Dari Ilmu. Sehingga istilah menuhankan guru itu kurang tepat, yang lebih tepat adalah menuhankan akhlak adalah yang nomor satu.
Akan tetapi dalam urusan pengetahuan dan keilmuan semuanya harus diserahkan  pada pakarnya, guru dan murid harus saling menghormati untuk terus mengembangkan ilmu pengetahuan, sebagai contoh KH Hasyim Asyari yang merupakan pakar hadist mempunyai guru namanya KH Kholil yang pakar dalam bidang Bahasa dan Fiqih, sebagai murid beliau menuruti apa perkataan gurunya. Semua yang dikatakan gurunya selalu ia menurutinya dan tidak pernah membantah sama sekali. Dan suatu ketika KH Kholil ingin belajar hadist maka ia berguru pada muridnya yaitu KH Hasyim Asyari. Ketika KH Kholil belajar hadist ia pun menghormati gurunya yang kebetulan juga sebagai muridnya.
Dari sini dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam proses pembelajaran menghormati guru adalah suatu kewajiban. Jadi tiadalah istilah menuhankan guru. Yang ada adalah kewajiban seorang murid untuk selalu hormat dan taat kepada perintah gurunya. Dan sebagai seorang guru yang bijak jangan berlaku sewenang-wenang terhadap murid, sehingga seorang murid bertindak diluar koridor aturan yang telah ditetapkan.

Pilihan Lain

Selamat datang di layanan kami Setuju Lain Kali

Privacy & Cookies Policy