22 September 2021
Gus Dur

Gus Dur Menafsirkan 7 Sapi Kurus dan 7 Sapi Gemuk

MANTAN Juru bicara Kepresidenan era Abdurrahman Wahid atau Gus Dur mempunyai pengalaman berkesan ikut Gus Dur. Menurutnya, Gus Dur sebagai Presiden tetap sederhana.

“Presidennya saja sederhana sehingga saya tidak mungkin lebih mewah. Di pusat kekuasaan karena figur pemimpinnya adalah Gus Dur yang selalu berpikir dan berjuang untuk rakyat, ini juga membuat semua anggota kabinet juga bersahaja. Anak anak Gus Dur juga sederhana tidak berbisnis, ini membuat saya tidak bisa bergerak dari format pikiran-pikiran Gus Dur,” kata Adi Massardi saat ditemui beberapa waktu yang lalu.

Menjadi Juru bicara Presiden, membuatnya melihat sosok Gus Dur hampir setiap hari dari pagi ke pagi. Baginya Gus Dur sosok yang pas menjadi politisi di Indonesia. Alasannya di Tanah Air berkembang politik rasional dan irasional. Adi menilai Gus Dur bisa menggabungkan kedua “mazhab” itu.

“Jika ada masukan dari kalangan kiai atau tokoh supranatural Gus Dur menerima kemudian menganalisis. Lalu Gus Dur melihat di lapangan,” ucapnya.

Misalnya ketika Gus Dur menjadi Presiden, saat itu di Indonesia dalam keadaan kritis. Dia meminta kiai-kiai untuk melakukan istikharah. Seminggu kemudian kiai-kiai itu datang lagi dengan membawa pesan yakni surat Yusuf. Dari beberapa kiai itu pesannya semuanya sama. Lalu Gus Dur menafsirkan dari surat itu. Dari surat Yusuf itu ada penjelasan mengenai masa krisis 7 sapi kurus 7 sapi gemuk.

“Kemudian dikaji Gus Dur bahwa krisis dimulai tahun 1997,maka akan berjalan sampai 2004. Kemudian tahun 2004 ke atas adalah masa sapi gemuk,” ucapnya.

Lalu dalam surat Yusuf memuat kisah tentang Nabi Yusuf yang meminta Rajanya untuk melakukan persiapan mengisi gudang-gudang.

Dihubungkan dengan kondisi Indonesia saat itu, Gus Dur menafsirkan tahun 1997-2004 masa membangun fundamental terhadap krisis. Maka yang dibangun fundamental politik, fundamental ekonomi, dan lain-lain.

Sumber Okezone

Pilihan Lain

Selamat datang di layanan kami Setuju Lain Kali

Privacy & Cookies Policy