23.3 C
Indonesia
18 Juni 2019
Hikmah

Gusdur dan Calon Dosen

Sebagai kebiasaan umat muslim khususnya santri dan warga nahdliyin bahwasanya malam jum’at adalah malam yang sakral. Karena pada malam itu sudah menjadi kebiasaan untuk bersama-sama mengagungkan kalimat tauhid yaitu membaca tahlil dan maulid dari mahrib sampai pertengahan malam. dan Kalimat tauhid itu telah menjadi kalimat dzikirnya para santri sepanjang waktu. Suatu ketika ada santri yang sedang asyik membaca kalimat tauhid berupa tahlil dan yasin ditengah keheningan malam jumat, tiba-tiba seorang ustadnya memanggil santri tersebut untuk kemudian diajaknya sowan kepada salah satu kyai di sebuah kota. 
Setelah beberapa jam perjalanan, akhirnya santri dan ustad tersebut sampai di pelataran rumah sang kyai dengan disambut pembacaan manaqib salah satu auliya, mengetahui bahwa sang kyai sedang memimpin pembacaan manaqib akhirnya, santri dan ustad tersebut menunggu seraya mengikuti pembacaan manaqib tersebut.
Awalnya santri tersebut tidak mengetahui apa maksud dan tujuan sang ustad mengajaknya sowan kepada sang kyai, baru setelah sampai ditempat sang kyai santri tersebut mengetahui maksud dan tujuan sang ustad mengajaknya.
Ternyata tujuan sang ustad sowan kepada kyai tersebut adalah mau meminta doa restu untuk menjadi salah satu dosen diperguruaan tinggi negeri, mendengar hal tersebut sang kyai langsung memasuki sebuah ruangan yang dipenuhi banyak kitab dan buku, kemudian kyai tersebut mengambil salah satu buku yang berisi sekitar 200an wejangan-wejangan Gusdur untuk kemudian diserahkan kepada sang ustad.
Di luar dugaan sang santri, ternyata sang ustad tadi disuruh membaca buku tersebut secara keras didepan kyai dari awal sampai akhir. Dengan nada penuh hembusan nafas kelelahan ustad tersebut terus membaca wejangan tersebut walau sudah satu jam berjalan, salah satu wejangan yang ada dalam buku tersebut adalah Indonesia bukan negara agama tapi negera beragama, ada enam agama yang di akui di Indonesia, jadi akui agama lain.
Setelah selesai membaca buku tersebut, kemudian sang kyai memberikan pengarahan kepada sang ustad calon dosen tersebut, bahwasanya penting sekali untuk para calon dosen mengetahui wejangan tersebut, karena buku ini berisi wejangan mengenai keberislaman, kebangsaan dan kemanusiaan. Karena sekarang banyak tidak sedikit dosen yang mengajarkan para mahsiswanya untuk tidak mencintai bangsanya, dan mengarahkan kepada paham-paham yang bertentangan dengan ideologi negara, sehingga muncul banyak mahasiswa yang berpaham negatif terhadap bangsanya. 
Dan juga sang kyai memberikan wejangan kepada calon dosen tersebut untuk bisa dakwah disekitar kampus tempat dimana nanti akan mengajar, karena sang kyai mengetahui bahwa daerah sekitar kampus merupakan daerah yang banyak terkena zending misionaris.
dari sinilah perlu ditekankan bahwa tugas seorang dosen tidak hanya mengajar akan tetapi juga memberikan pemahaman-pemahaman kepada mahasiswanya untuk mencintai dan menjaga bangsanya dari pengaruh asing, dan juga menjadi tugas juga buat para pendakwah bahwasanya penting juga untuk berdakwah di daerah dipenuhi zending misionaris dan di daerah yang penduduknya minoritas islamnya, karena para pendakwah sekarang sibuk mengakafirkan umat islam yang telah islam dari pada mengajak meraka kepada islam, berbeda dengan para pendakwah jaman dahulu yang sibuk sibuk mengislamkan orang, bukan mengkafirkan orang.
Mengetahui apa yang terjadi antara ustadnya dan seorang kyai tersebut, sang santri tertegun takjub atas kehebatan Gusdur. Ternyata tugas Gusdur untuk menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Islam masih terus dilakukanya walaupun ia telah sewindu meninggal.

Related posts

Abdullah Bin Abbas; Sahabat Nabi Tetesan Tuhan

PENA SANTRI

Membebaskan Tanpa Dendam

Moh Faiq

Pergi dan Kembali

PENA SANTRI

Gus Dur Sudah Terbiasa Hidup Sulit Sejak Kecil

PENA SANTRI

Duka Ramadlan dan Wafatnya Sayidina Ali

admin

Gus Dur dan Kisah Mahasiswa Nakal

admin

Leave a Comment