23.3 C
Indonesia
18 Juni 2019
News

Gusdurian Sumenep Bersama Santri Annuqayah Lubangsa Selatan Kaji Ekstrimisme dalam Islam

Mengingat semakin tingginya gerakan radikalisme dalam Islam yang hal ini sangat membahayakan akan keberadaan keberagaman. Maka Gusdurian Sumenep kembali mengadakan kajian bersama dengan organisasi daerah Harakah al-Fataa Al-Muttahidin (HARFATAIN) Pondok Pesantren Annuqayah Lubangsa Selatan. (08/04/2019).

Pada kajian kali ini mengangkat tema “Ekstremisme dalam Islam”. Karena tema ini sangat penting untuk dikaji dan dipecahkan bersama. Supaya beberapa golongan yang sering melakukan tindakan dengan cara kasar dengan mengesampingkan nilai-nilai kemanusiaan bisa ditanggulangi agar kemunculannya tidak semakin membesar.

“Kehadiran Gusdurian Sumenep di tengah-tengah santri Lubangsa Selatan (Lubsel) yang kebetulan bekerjasama dengan Harfatain sangat berguna, hal tersebut sebagai upaya memberikan suntikan pemahaman seputar golongan yang sering mendakwahkan dan melakukan tindakan kekerasan atas agama. Sehingga santri lebih mengerti bahwa golongan seperti itu kurang tepat dalam melakukan gerakannya.” Ungkap Ainur Rifqi ketua terpilih pengurus lubangsa selatan dalam sambutannya.

Mengingat dalam agama Islam sangat menganjurkan bagaimana seharusnya hidup harus mampu berdampingan di tengah keberagaman, tanpa melakukan kekerasan dalam mengkampanyekan. Maka segala bentuk kekerasan atas nama agama segera ditiadakan. Akan tetapi, bila gerakan ektremisme dalam Islam terus gencar dilakukan. Maka menunjukkan bahwa agama tengah mengalami kemorosotan peradaban. Sebab, selain mencederai berapa nilai dalam agama, hal itu akan menimbulkan rasa mopobia pada orang-orang dalam memandang agama Islam itu sendiri.

“Agama mengajarkan bagaimana kita harus bersikap lemah lembut penuh kasih dan sayang pada setiap orang. Membumikan nilai-nilai kemanusiaan demi tercapainya persaudaraan, kerukunan, persatuan antar umat beragama dan rakyat Indonesia lebih umumnya.” Ucap Zaynollah kordinator gusdurian sumenep di sela-sela penyampaiannya.

Kebiasaan Islam dalam menyikapi adanya kemungkaran bukan lantas menggunakan kekerasan untuk menghentikan. Melainkan dengan cara Amar Ma’ruf bil Ma’ruf, Nahi Mungkar bil Ma’ruf, menegakan kebaikan dengan kebaikan dan mencegah kemungkaran dengan kebaikan. Cara inilah yang paling efektif untuk dilakukan dalam rangka mendakwahkan dan mencegah beberapa kemungkaran. Gus Dur pernah bilang, “Agama mengajarkan kedamaian dan ekstrimisme memutarbalikkan.”

“Sesungguhnya Tidak ada ajaran Ektrimisme apalagi radikalisme, kecuali bergesernya pemahaman tentang Agama yang diaktualisasikan dalam bentuk prilaku yang menciderai nilai kemanusiaan dan ajaran agama itu sendiri”. Tutup Zaynollah di penghujung diskusi.

Selain mendapat sambutan baik dari ketua terpilih lubangsa selatan, kegiatan ini pula sangat mendapat apresiasi luar biasa dari anggota dan ketua Harfatain hingga berharap agar tetap bertahan dalam menjalin silaturahim dan kerjasama.

“Kegiatan semacam ini selain menjadi media pembelajaran pemahaman bagi kalangan santri, juga tali pengikat tersambungnya kami dengan teman-teman Gusdurian hingga berharap mampu mendalami Nilai Perjuangan dan Keteladanan (NPK) Gus Dur selama hidupnya melalui kegiatan semacam ini. Terimakasih banyak.” Kata Adhib Annal Hazan selaku ketua umum Harfatain.

Related posts

Ciptakan Santri Berjiwa Wirausaha

admin

Here’s Why Your Salad May Not Be The Most Healthy Meal

admin

Canon Picture Profiles, Get The Most Out of Your Video Features

admin

World’s Best Teens Compete in Microsoft Office World Championship

admin

Meet The Women At The Head of The Gym Revolution

admin

Peringati Haul Pendiri NU dan Pengasuh, Harfatain Adakan Yasinan dan Tahlilan

Moh Faiq

Leave a Comment