30.1 C
Indonesia
8 Desember 2019
Habib Lutfi-bin-Yahaya

Habib Luthfi bin Yahya: Islam Nusantara Itu Menampilkan Citra Agama Yang Humanis

Islam merupakan agama yang dianut oleh mayoritas masyarakat Muslim di Nusantara. Hal ini menunjukkan suatu keberhasilan dan kesuksesan besar dakwah Islam awal di Nusantara. Berbagai penelitian telah dilakukan untuk mengungkap rahasia keberhasilan dakwah Islam di Nusantara. Sebagian besar peneliti sepakat bahwa Islam masuk ke Nusantara melalui jalan damai, utamanya jalur pendekatan kultural. Wali Songo sebagai garda terdepan dalam dakwah Islam di Nusantara, tidak jarang memadukan budaya setempat dengan nilai-nilai keislaman.

Salah satu budaya pertunjukan yang sampai sekarang masih eksis dan mengandung nilai-nilai Islam adalah pagelaran wayang kulit. Kendati demikian, sebagian masyarakat justru lambat laun mulai meninggalkan tradisi ini. Oleh karena itu, upaya pelestarian harus selalu digalakkan di tengah-tengah arus modernitas yang semakin menguat, di mana arus modernitas sering mencerabut masyarakat dari akar budayanya.

Menyikapi fenomena masyarakat yang mulai luntur mencintai budayanya sendiri, Rais ‘Aam Idarah Aliyah Jam’iyah Ahlit Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyah (Jatman), Habib Muhammad Luthfi bin Yahya belum lama ini mengadakan pagelaran wayang kulit di majelis Kanzus Shalawatnya. Adapun tujuan dari acara ini, salah satunya menurut Habib Yahya untuk melestarikan dan memupuk rasa cinta masyarakat terhadap budaya wayang kulit, di mana dalam pertunjukan wayang kulit memuat jati diri masyarakat tentang nilai-nilai filosofi, tasawuf, akhlak, hingga budi pekerti. Hal ini membuktikan dakwah agama tak selalu berjalan linier dan kaku, terbukti dengan pendekatan budaya mampu menampilkan citra Islam yang humanis.

“Banyak generasi muda kita tidak kenal dunia pewayangan. Padahal di situ banyak diajarkan tentang berbagai hal termasuk masalah filosofi, tasawuf, akhlak, dan budi pekerti,” terang Habib Luthfi dalam acara ‘Pagelaran Wayang Kulit Kebangsaan’ yang dihelat panitia Maulidurrasul 1441 Hijriyah di Kanzus Sholawat Pekalongan, beberapa waktu lalu dilansir dari situs nu.or.id

Lebih lanjut ulama yang dalam ceramah-ceramahnya selalu mengingatkan pentingnya cinta tanah air tersebut, berpesan kepada para jamaah dan masyarakat umum untuk mengembalikan lagi kejayaan wayang kulit. Hal ini mungkin cukup berasalan bahwa di tengah arus modernitas yang serba bebas, arus hiburan masyarakat sangat jauh dari kata mendidik. Tontonan yang bisa menjadi tuntunan semakin jarang, sehingga walaupun tidak mudah, masyarakat utamanya generasi muda memiliki tanggungjawab moral untuk melestarikan budaya sendiri salah satunya wayang kulit.

Wayang kulit tidak sekadar pertunjukan budaya, melainkan media dakwah yang memiliki nilai khas masyarakat Nusantara. “Siapa lagi kalau bukan kita yang melestarikan budaya kaya akan makna di Bumi Pertiwi ini dan ini sekaligus nguri-uri (menjaga) warisan Wali Songo,” pungkas ulama kharismatik asal Pekalongan tersebut.

Pilihan Lain

Selamat datang di layanan kami Setuju Lain Kali

Privacy & Cookies Policy