22 September 2020
Hagia Sophia dan Kebijakan Jenaka Populis Ala Erdogan

Hagia Sophia dan Kebijakan Jenaka Populis Ala Erdogan

Aya Sofya atau Hagia Sophia adalah situs bersejarah sejak zaman Bizantium. Mulanya difungsikan sebagai Gereja Ortodok, kemudian pada masa Al-Fatih 1453 menjadi masjid, beralih menjadi museum pada masa Mustafa Kemal Attaturk tahun 1935. Tahun 2020, tepatnya 85 tahun setelah berfungsi sebagai museum, kini kembali menjadi masjid.

Sebagian besar umat muslim menyambut baik konversi fungsi tersebut, walaupun sebenarnya menyisakan sejumlah problem serius, apalagi kebijakan tersebut tidak berdasar pada kebutuhan masyarakat luas, tapi lebih tepatnya hanya berpijak pada kepentingan politik praktis semata. Gus Zuhairi Misrawi menyebut fenomena ini dengan sebutan Erdoganisme.

Resonansi  euforia tersebut juga bergetar kencang di tanah air dengan pengertian sebagai indikator kebangkitan Islam. Erdoganisme terasa tidak terlalu kentara jelas dibalik bayang-bayang kebijakan populis bercorak Islam, Vedi R Hadiz menyebutnya populisme Islam. Kepentingan personal-sektarian terkemas pada semangat dan identitas keagamaan. Padahal, segala bentuk populisme dan segala hal yang mensifatinya tidak pernah jauh dari kepentingan ekonomi dan kekuasaan.

Erdogan begitu lihai memainkan kebangkitan identitas keagamaan walau suatu saat umatlah yang akan menanggung resikonya. Berbagai protes yang dilayangkan oleh Gereja Ortodok diabaikan, bahkan pintu dialog itu sengaja ditutup sekaligus benar-benar mengabaikan suratan historis dari Hagia Sophia.

Konversi menjadi masjid bukan hal yang mendesak bagi masyarakat Turki, khususnya warga Istanbul, karena di sekitar Hagia Sophia juga berdiri ratusan masjid yang masih mencukupi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat setempat. Tapi ini bukan persoalan kebutuhan, namun lebih sekedar persoalan citra, citra Erdogan untuk periode berikutnya.

Sejarah Hagia Sophia yang Terus Berkecamuk

Dilaporkan oleh Aljazeera.com, Erdogan saat ini telah membuat kesalahan, menjadikan Turki kembali pada situasi 6 abad silam. Pada saat yang sama Turki menposisikan dirinya sebagai pembuka provokasi masyarakat dunia untuk kembali bergesekan atas nama simbol-simbol keagamaan.

Selain dari respon serius tersebut, beberapa terdapat respon netizen yang di media sosial yang tergolong lucu. Misalnya, mereka ada yang bilang, berdoa di dalam Gereja itu lebih menyenangkan dan menentramkan. Satu pesan lagi yang terkesan sangat jenaka adalah saran bagi Erdogan, seharusnya kebijakan Erdogan lebih baik dari sebelumnya, yaitu menjadi Hagia Sophia sebagai Masjid di hari Jum’at, menjadi Gereja di hari minggu dan menjadi museum selain dari dua hari itu.

Masukan yang cukup sederhana dan jenaka, tapi masih lebih bagus daripada kebijakan serius tetapi senyatanya mengundang konflik di kemudian hari. Disitu kemudian kita sulit membedakan mana sebenarnya yang benar-benar lelucon dalam hidup ini. Hagia Sophia adalah milik bersama, bukan seperti lelucon yang dibuat oleh Erogan.

 

Pilihan Lain

Selamat datang di layanan kami Setuju Lain Kali

Privacy & Cookies Policy