3 Desember 2020

Harta Karun Yang Terpendam (Mengenal Ulama Nusantara)


Oleh : Amirul Ulum*

Indonesia adalah lumbung ulama terbesar di Asia Tenggara. Karena banyaknya ulama yang singgah dan berdomisili di Nusantara, maka tidak mengherankan jika umat Islam di Nusantara jumlahnya menjadi terbanyak di belahan dunia. Semua ini tidak dapat dilepaskan dari peran serta muballigh yang menyebarkan Islam dengan penuh keramahan. Mereka tidak mudah menghakimi, namun justru melebur dengan apa yang sudah ada di Nusantara, selagi adat atau budaya yang sudah melekat tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Seandainya bertentangan, maka dengan cara yang halus dan santun, muballigh Islam akan menghilangkannya setahap demi setahap.

Muballigh Islam di Nusantara mayoritas masih keturunan Arab. Banyak dari mereka yang nasabnya bersambung dengan para sayyid, masih dzurriyah Nabi Muhammad SAW. Seperti di Jawa ada Walisanga, di Sumatera ada Syaikh Abdush Shamad al-Palimbani, Syaikh Abdurrauf al-Singkeli, Syaikh Burhanudin Ulakan, Syaikh Nurdin al-Raniri, dan Tuanku Tambusai, di Sulawesi ada Syaikh Yusuf al-Maqassari dan Syaikh Jamaludin Husein, di Kalimantan ada Syaikh Arsyad al-Banjari dan Syaikh Muhammad Nafis al-Banjari, di Nusa Tenggara ada Syaikh Abdul Ghani al-Bimawi, di Maluku ada Tuan Guru Imam Abdullah, di Madura ada Syaikhona Khalil Bangkalan, dan lain-lain.

Ketika Islam sudah semebar di Nusantara yang ditandai dengan banyaknya surau, pesantren, dan masjid yang berdiri, yang penuh dengan majlis ilmi yang digelar, maka seorang syaikh atau ulama yang mengajarkan Islam di Nusantara memerintahkan sebagian santrinya yang sudah memenuhi syarat untuk mematangkan dirasahnya menuju Haramain yang dipenuhi halaqah keilmuan dari masyayikh yang menjadi nibrasnya umat. Selain itu, mereka juga berniat untuk menunaikan rukun Islam yan kelima, ibadah haji. Azem yang kedua, dicitakan oleh semua umat Islam, terlebih yang sudah mampu jalannya. Dahulu, jika orang sudah berhaji, maka ia dianggap matang keilmuannya dalam bidang keagamaan, sebab di masa itu sedikit sekali orang yang berminat/ mampu dalam menunaikan ibadah haji.

Ketika ulama Nusantara bersinggungan dengan Haramain, prestasi mereka semakin melunjak dalam bidang akademisinya. Sebagian dari mereka ada yang menjadi imam dan khatib di Masjidil Haram, dan ada yang menjadi pengajar di dalamnya. Bahkan, ada yang menjadi mufti di Hijaz, ada yang dijuluki mujadid dalam bidang sanad (musnid al-dunya), dan ada yang dijuluki Imam Sibaweh pada zamannya, serta ada yang dijuluki Imam al-Ghazali al-Shaghir. Sungguh hal ini merupakan prestasi yang gemilang bagi bangsa Indonesia dalam kencah keilmuannya.

Banyaknya ulama Nusantara yang mengunjungi Haramain membuat khazanah Islam Nusantara semakin bersinar. Mereka dijadikan tempat berlabuh untuk menambah wawasan keilmuan. Karya tulis mereka, banyak dijadikan rujukan, bukan hanya di Nusantara, namun merambah ke berbagai negara Islam, bahkan ada yang sampai ke Eropa dan Afrika, seperti karya Syaikh Nawawi Nawawi al-Bantani, Syaikh Mahfudz al-Termasi, Syaikh Yusuf al-Maqassari, Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, Syaikh Abdul Qadir al-Mindili, Syaikh Yasin al-Fadani, dan lain-lain.

Ironis sekali jika kita bangsa yang besar, mayoritas menganut ajaran Islam, jika tidak berkaca dengan apa yang sudah diprestasikan oleh ulama terdahulu yang kariernya disegani di berbagai negara Islam. Bahkan, dari kalangan kita masih banyak yang tidak mengenalnya.

Jika Indonesia adalah lumbung ulama, maka sudah semestinya prestasi yang ditorehkannya juga segudang, seperti karya tulis yang ditorehkannya. Syaikh Yasin al-Fadani mempunyai karya sekitar 102 yang terdata oleh penulis, namun yang beredar di tengah-tengah masyarakat hanya sebagian kecil saja, tidak lebih dari 20 judul. Ia mempunyai mahakarya Dur al-Mandûd syarh Sunan Abi Dawud sebanyak 20 jilid, namun menurut hasil riset penulis karya tersebut belum dipublikasihan. Sebagian karya al-Fadani, menurut salah seorang narasumber masih berupa manuskrip, tulisan tangan al-Fadani, yang belum diketik memakai alat modern karena terbatasnya akses untuk semua itu, belum terjamah oleh sejarawan Muslim Nusantara. Sangat menyedihkan jika harta karun sebanyak ini tidak ada yang memperdulikan, terutama dari Pemerintah Indonesia. Pemerintah wajib ikut andil dalam menyelamatkan kekayaan yang nilainya sangat berharga ini. Jika tidak ada tindakan yang nyata, sangat dikhawatirkan karya tersebut akan raib entah kemana. Imbasnya, bangsa ini akan mengalami kerugian yang luar biasa. Kita akan menyesal di kemudian hari, jika semuanya terlambat dan tidak dapat diselamatkan.

Selain Syaikh Yasin al-Fadani, ulama Nusantara yang meninggalkan banyak karya tulis adalah Syaikh Nawawi al-Bantani, Syaikh Mahfudz al-Termasi, Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, Syaikh Mukhtar al-Bughuri, Syaikh Zakaria Bela, Syaikh Abdul Fatah al-Rawa, Sayyid Muhsin al-Musawa, dan lain-lain. Karya mereka hanya sedikit yang sampai ke tangan kita dari segudang keilmuan yang ditinggalkan.

Menurut cerita dari Kiai Muhammad Najih MZ kepada penulis, dahulu ketika Syaikh Yasin al-Fadani pernah berkunjung ke Nusantara. Ia bertemu dengan salah satu ulama sembari berpesan, “Cetaklah karya Syaikh Mahfudz al-Termasi, insyaAllah Indonesia akan menjadi berkah.” Ulama yang diberi pesan tersebut menyatakan kesanggupannya. Di kemudian hari, al-Fadani menanyakan ihwal tersebut ternyata belum direalisasikan karena alasan tertentu, sehingga al-Fadani merasa sangat kecewa sebab mereka kurang memperhatikan turast al-Termasi yang menjadi saksi atas pretasi ulama Nusantara. Di tangan al-Termasi, lahirlah banyak ulama alim yang ikut andil dalam mendirikan Negara Kesatuan Republik Indonesia, seperti Kiai Hasyim Asy’ari, Kiai Wahab Hasbullah, Kiai Abbas Buntet, dan Kiai Ahmad Dahlan. Mayoritas kiai di tanah Jawa pasca al-Termasi menjalin silsilah sanad keilmuan dengannya.

Kebesaran Islam di Nusantara tidak dapat dipisahkan dengan ulamanya. Kemajuan peradaban Islam Nusantara sangat dipengaruhi oleh sumbangsih dan kontribusi ulamanya, baik kontribusi dalam sebuah karya tulis atau karya yang lainnya yang kemanfaatannya senantiasa dikenang oleh generasi setelahnya.

Tak kenal maka tak sayang, sebuah pepatah mengatakan. Ironis sekali jika kita tidak mengenal ulama-ulama yang mendahului kita, yang menyebarkan Islam, sehingga sampai kepada kita. Jika bukan karena jasanya, mungkin ajaran Islam belum sampai kepada kita. Kita sangat berhutang jasa kepada mereka.
Salah satu media untuk mengenal ulama Nusantara yang amat berjasa kepada Indonesia adalah dengan mempelajari sejarah dan pemikirannya. Dengan mempelajari kisah dan karya tulisnya, kita berharap kejayaan Islam Nusantara akan terulang kembali. Indonesia akan dijadikan rujukan dalam segi pemikiran, sebagaimana kitab-kitab ulama Nusantara yang dijadikan rujukan oleh umat dari belahan dunia Islam.

Melalui buku ini, penulis berusaha mengungkap sebagian sejarah ulama Nusantara yang mempunyai kontribusi besar dalam kencah keilmuannya melalui media Haramain. Nama mereka begitu masyhur, bukan hanya di Nusantara, namun mengglobal, sebab halaqah keilmuan yang digelar di Masjidil Haram dikitari thalabah dari berbagai negara Islam. Mereka mengabdikan dirinya sebagai qadîmu al-ilmi, pelayan ilmu di Masjidil Haram hingga akhir hayatnya.

Masih banyak nama ulama Nusantara yang mengabdikan dirinya di Haramain yang belum dikupas dalam beberapa karya penulis, seperti Syaikh Umar bin Shaleh al-Samarani, Syaikh Zubair al-Filfulani, Syaikh Dahlan Hasan, Syaikh Abdul Karim al-Sambasi, Syaikh Aman al-Palimbani, Syaikh Hamid al-Kaff, Syaikh Mukhtar al-Palimbani, Syaikh Abdur Syakur al-Sirbawi, Syaikh Abdul Haq al-Bantani, Syaikh Abdul Wahab al-Sirbawi, Syaikh Abdul Muhid al-Sidoarjoi, Syaikh Abdul Hamid al-Minangkabawi, Syaikh Abdul Karim al-Minangkabawi, Syaikh Sulaiman al-Sumedangi, Syaikh Mahmud al-Fadani, dan lain-lain.

Penulis sangat bercita-cita untuk menuntaskan biografi ulama Nusantara yang mempunyai kontribusi besar untuk bangsa Indonesia, dengan harapan kelak akan menjadi ibrah, perenungan bagi generasi sekarang dan yang akan datang, sehingga kejayaan Islam Nusantara akan terulang kembali. Mereka diharapkan akan menghasilkan segudang karya turats Nusantara yang nantinya akan dijadikan rujukan penting bagi umat Islam di belahan dunia. Amin ya Rabbal Alamin.

*Khadim Ulama Nusantara Center (UNC)

Pilihan Lain

Selamat datang di layanan kami Setuju Lain Kali

Privacy & Cookies Policy