Flash Sale! to get a free eCookbook with our top 25 recipes.

Hati-hati, Jangan sampai Salah Memaknai Peristiwa Hijr(i)ah dalam Kehidupan Sehari-hari

Listen to this article

Beberapa hari yang lalu kita telah memasuki tahun baru Islam 1443 H yang disebut 1 Muharram. Ini merupakan peristiwa yang agung. Ia bukan perstiwa yang biasa-biasa saja. Perjalanan baginda Rasulullah SAW dari Mekkah menuju Madinah dalam upaya mempertahankan keimanan.

Disampaikan dalam beberapa literatur bahwa hijrah terbagi menjadi dua macam. Pertama, hijrah makaniyah yakni berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Kedua, hijrah maknawiyah yakni mengubah diri, dari yang buruk menjadi lebih baik demi mengharap keridhaan Allah SWT, dari maksiat menuju ketaatan.

Meski saat ini kita tidak lagi dituntut berhijrah dari satu tempat ke tempat lain karena alasan musuh dan faktor yang membahayakan bagi diri dan agama, yaitu adanya Pandemi Covid-19. Naming kita dapat mengambil makna hijrah secara maknawi. Ikhtiar berjuang untuk kondisi lebih baik, menjadi insan lebih baik dan terus bergerak ke arah lebih baik, karena berpindah dari keadaan yang semula buruk menjadi keadaan yang baik, dari kondisi yang sudah baik menjadi kondisi yang lebih baik, itulah hijrah.

Hijrah tidak boleh dipahami salah kaprah, secara tekstual saja. Hijrah bukanlah tren atau mazhab, bukan milik sebagian kelompok. Namun, hijrah adalah keharusan, milik semua insan untuk terus-menerus memperbaiki diri, memperbaiki cara berpikir, cara berucap, serta bersikap, sehingga dengan berhijrah kita bertekad bagaimana menjadi hamba yang baik menurut Allah SWT.

Jika boleh mengutip, saya lebih sepakat dengan pernyataan Dr. Thobib Al-Asyhar, intelektual muda bidang Kajian Remaja dan Psikologi yang memaknai hijrah sebagai perubahan cara berpikir. Menurutnya, “hakikat hijrah adalah kalau kita mau berubah. Dari berpikir sempit ke open minded. Dari merasa paling benar sendiri ke pemahaman utuh terhadap perbedaan. Hijrah itu berawal dari pikiran. Mulai dari cara pandang. Selama kita tidak mampu mengubah pola pikir menuju yg lebih baik dan merdeka, selama itu pula kita tdk pernah hijrah”.

Lebih spesifik, beliau melanjutkan bahwa, hijrah tidak semata soal perubahan identitas fisik. Hijrah adalah totalitas perubahan diri yg membebaskan dari kejumudan, kekerdilan, dan keterbelakangan (dilansir dari akun Facebook Thobib Al-Asyhar, 13/6).

Ayu Sulistya
Syarif Hidayatullah State Islamic University Jakarta UIN Faculty of Usul al-Din and Philosophy, Master of Arts