27.3 C
Indonesia
21 Juli 2019
Sosial Budaya

Heuristik Perspektif Tukang Ojek Pengkolan

Sepulang Jum’atan saya melihat postingan yang muncul di beranda saya. Salah satu postingan yang menarik rasa bahasa Arab yang telah lama saya tinggalkan adalah tulisan pada baliho menyambut Ramadhan menggunakan bahasa Arab, “اهلا وسهلا يا رمضان” yang dipasang oleh Gerakan Reformis Islam (Garis).

Apakah salah? Bukan salah, tapi tidak tepat, dan akan terasa kaku bagi orang-orang mengkaji zauqul luqhah (rasa bahasa) Arab.

Di dalam bahasa Arab ada perbedaan penggunaan kata اهلا وسهلا dan مرحبا ,walaupun keduanya sama-sama diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan kata selamat datang.

Kalimat اهلا وسهلا terdiri atas kata اهلا yang berakar dari kata اهل yang berarti keluarga, sedangkan سهلا dari kata سهل yang berarti mudah. سهل juga berarti dataran rendah, yaitu tempat yang mudah dilalui oleh para pejalan kaki, tidak seperti tanjakan tinggi. اهلا وسهلا adalah ungkapan selamat datang yang menyiratkan kepada tamunya bahwa mereka (tamu tersebut) adalah bagian dari keluarga (tuan rumah) atau Anda berada di tengah keluarga Anda sendiri dan ke mana pun melangkahkan kaki, Anda akan dimudahkan oleh tuan rumah”.

Sehingga sebetulnya اهلا وسهلا memiliki makna yang lebih dalam lagi dari sekadar mengucapkan selamat datang dalam bahasa Indonesia.

Kata مرحبا berasal dari akar kata رحب yang artinya luas atau lapang. Dari akar kata yang sama muncul kata رحِب yang artinya selamat datang. Maka muncullah kata مرحبا untuk mengungkapkan kegembiraan kedatangan tamu yang sangat istimewa. Yang dalam penerimaannya disambut dengan penuh kelapangan dada dan untuknya dipersiapkan ruang yang luas untuk melakukan apa saja yang diinginkannya.

Dari akar kata yang sama dengan “marhaban”, terbentuk kata rahbat yang antara lain berarti “ruangan luas untuk kendaraan, untuk memperoleh perbaikan atau kebutuhan pengendara guna melanjutkan perjalanan.” Dengan demikian مرحبا يا رمضان mengandung arti bahwa kita menyambutnya dengan lapang dada, penuh kegembiraan; tidak dengan menggerutu dan menganggap kehadirannya tidak “mengganggu ketenangan” atau suasana nyaman kita. Sebaliknya, dengan kedatangan bulan yang mulia tersebut kita mengharapkan agar jiwa raga kita diasah dan diasuh guna melanjutkan perjalanan menuju Allah Swt

Menyambut Ramadhan seraya mengucapkan, “Marhaban ya Ramadhan”. Ungkapan ini bermakna masing-masing pribadi harus menyiapkan fisik yang prima dan hati yang lapang untuk ditaburi nilai-nilai kebaikan di bulan Ramadhan.

Meski sama-sama berarti selamat datang, para ulama kita menggunakan istilah ‘marhaban’, bukan ‘ahlan wa sahlan’ untuk menyambut Ramadhan.

Karena مرحبا bermakna jalan yang luas dan mendaki, maka dibutuhkan kesiapan diri bagi siapa pun untuk menyambut Ramadhan. “Ibaratnya, Ramadhan itu sebagai tamu yang agung. Jadi tidak semua orang bisa bertemu dan ditemui. Hanya orang-orang yang beriman dan penuh pengharapan saja yang bisa menangkap makna Ramadhan.

Maka, ucapkanlah Marhaban Ramadhaan, bukan ahlan wa sahlan yaa Ramadhan.

Sekian jika ada yang salah mohon maaf, maklum kami cuma sekumpulan tukang ojek, bukan kumpulan ulama.

Oleh Kipli



Related posts

Bersetan Dengan Alasan

admin

Pesantren Abad 14-16 (Masa Wali Songo)

Ahmad Fairozi

Integritas Pesantren dan ‘Revolusi Mental’ Kebangsaan

PENA SANTRI

Mitos Masuknya Islam di Nusantara dan Terbentuknya Seni Budaya Islam Nusantara

admin

Ibadah Sosial: GUSDURian Sumenep Galang Dana Untuk Donggala

PENA SANTRI

Non-Muslim Atau Kafir’ Versi Yusuf Al-Qaradhawi

PENA SANTRI

Leave a Comment