24 September 2020

Hijrah yang Terkutuk


Oleh Harakatuna Team
Tahun baru Islam kali ini (1 Muharram 1440 H) jatuh pada tanggal 11 September 2018. Di Indonesia, tahun baru Islam seperti sekarang ini diperingati begitu meriah yang dibungkus dalam berbagai kegiatan seperti pengajian dan takbir keliling. Doa akhir dan awal tahun turut menjadi “ritual” yang tak bisa ditinggalkan dari rangkaian menyambut tahun baru hijriyah/Islam.
Peristiwa tahun baru kemudian direfleksikan oleh umat Islam sebagai momentun untuk hijrah. Karena peristiwa hijrah Nabi Muhammad dari Makkah ke Madinah pada tahun 622 M menjadi pemisah antara yang benar dan yang batil. Maka, kata Umar bin Khatab, jadikanlah ia sebagai patokan penanggalan. Mulai dari sinilah, hijrahnya Nabi dijadikan acuan awal tahun kalender hijryah (1 Muharram).
Saat ini, hijrah sudah melegenda bahkan menjadi gaya hidup pemuda zaman now. Namun hijrah seperti ini biasanya dilatarbelakangi atau motivasinya karena ingin move on dari kehidupan yang lalu (lama) yang dianggap sebagai kurang religius menjadi lebih Islami. Adapun dalam praktiknya, orang yang hijrah biasanya mulai meninggalkan kebiasan lama untuk kemudian berubah 180 derajat menjadi insan yang santun dan segala nafas serta geraknya karena Allah SWT. Gaya berpakaian juga menjadi pertanda bahwa ia sudah hijrah. Bahkan bahasa sehari-hari pun juga berubah; aku menjadi ‘ana’ dan seterusnya.
Ada satu hal yang harus ditegaskan dalam kaitannya hijrah, yakni motivasi atau niat dari hijrah itu sendiri. Nabi Muhammad pernah menegaskan bahwa ketika seorang sahabatnya ikut berhijrah dari Makkah ke Madinah, beliau mengatakan: “ setiap pekerjaan harus atau pasti disertai oleh niat. Maka, barang siapa berhijrah didorong oleh keinginan mendapatkan keuntungan duniawi atau keuntungan untuk mengawini wanita, maka hijrahnya dinilai sesuai dengan tujuan tersebut.”Quraish Shihab dalam Membumikan Alquran menjelaskan bahwa ketika beliau dan para sahabat berhijrah, motivasi utama mereka adalah memperoleh ridlo Allah SWT. Selain itu, perpindahan Nabi Muhammad dan para sahabat dari Madinah ke Makkah adalah untuk membangun peradaban yang lebih hebat. Dengan demikian dapat ditegaskan bahwa hijrahnya Rasulullah membawa dampak positif bagi perkembangan Islam di Tanah Arab kala itu. Nilai hijrah lainnya adalah, sebagai upaya untuk menghindari konflik seperti persekusi dan intimidasi serta kekerasan.
Kesalahan Memahami Hijrah
Sungguh tak menyangka jika sekarang ini, kata hijrah banyak sekali digunakan secara serampangan. Bahkan yang lebih miris adalah ada sekelompok yang memaknai hijrah sebagai ajakan berpindah dari negeri damai seperti Indonesia menuju negeri yang diliputi perang seperti beberapa wilayah di Timur Tengah.
Logika yang diterapkan oleh kelompok ini, bagi orang awam, benar adanya. Terlebih kelompok radikal ini membubui bahwa jihad itu bagian dari hijrah. Dengan menukil beberapa ayat dan hadis tentang kewajiban jihad dan hijrah, orang awam yang sedang gemar mempelajari agama, langsung percaya dan ikut dalam lingkaran mereka (kelompok radikalis).
Tentu pemahaman hijrah yang digandengkan dengan kewajiban jihad (perang) adalah sesuatu pemahaman yang keliru. Hal ini bisa dilihat dari beberapa hal. Salah satunya, bahwa hijrah itu membangun, bukan merusak. Spirit inilah yang harus dipahami betul untuk kemudian direnungkan agar menjadi pedoman dalam menjalankan kehidupan bermasyarakat dan beragama; bahwa membangun masyarakat atau negara yang aman dan damai lebih utanya daripada ikut-ikutan perang. Justru jika berlandaskan pada spirit hijrah, maka yang harus dilakukan adalah menjaga kondisi negara agar tetap damai dan aman.
Salah kaprah jika mengartikan hijrah sebagai langkah untuk berubah dan berpindah dari negeri damai ke negeri konflik. Juga salah kaprah lagi jika memaknai hijrah sebagai momentum untuk menciptakan kegaduhan nasional dengan cara menabuh genderang jihad mengangkat senjata di negeri damai. Dan yang demikian ini sejatinya adalah hijrah yang tak diridlio oleh Allah SWT.Untuk itu, melalui momentum tahun baru Islam ini, mari kita perbaiki diri, lur jjuskan niat dan pemahaman keagamaan kita, menjauhi segala bentuk yang dapat memicu kondisi konflik.

Pilihan Lain

Selamat datang di layanan kami Setuju Lain Kali

Privacy & Cookies Policy