5 Desember 2020

Hiruk Pikuk Warga Kampus di Tengah Pandemik

Oleh Dwi Febriyanto*

Covid-19 atau dikenal dengan virus corona yang saat ini menjadi wabah dan masalah diseluruh penjuru dunia termasuk Indonesia. Banyak korban berjatuhan akan dampak virus corona ini. Tak hanya itu pandemik virus corona juga membuat kehidupan saat ini sangat lain dari pada biasanya. Di sudut ekonomi misal, sedikitnya ada beberapa masyarakat yang saat ini mengalami dampak akan hal itu yakni dagangan yang dijualnya tak lagi laku dan terpaksa mengurangi jumlah produksi. Pendapatan masyarakat pun menurun drastis dibandingkan hari hari biasanya. Anjuran yang dikeluarkan  pemerintah sebagai instruksi misal physical distancing, social distancing, serta hashtag dirumah aja ( meskipun tidak semuanya memiliki rumah) yang mau tidak mau harus di diterapkan oleh seluruh masyarakat Indonesia. Guna mengantisipasi penyebaran wabah virus corona dan juga sebagai upaya memutus mata rantai dari terjangkitnya covid-19.

Tak hanya itu, dunia pendidikan juga kebagian atas dampak dari pandemik virus corona ini. Surat intruksi dari kementrian dan kebudayaan (kemendikbud) yang turut di edarkan berisikan instruksi kepada seluruh lembaga pendidikan tinggi untuk diliburkan sementara waktu, sebagai upaya memutus mata rantai penyebaran covid-19. Serta system perkuliahan yang terpaksa digantikan secara daring/online. setuju ataupun tidak kebijakan ini harus sama sama didukung oleh segala sektor guna benar benar menjadikan keadaan negara semakin lebih baik.

Berselang kurang lebih satu minggu menjalankan kebijakan sistem perkuliahan daring ini, ternyata perkiraan saya benar, bahwa hal tersebut akan menuai banyak komentar yang tentunya pro dan kontra sebagai warnanya. Mulai dari keluhan perihal sistem dan metode dalam jaringan (daring) yang tidak efektif disebabkan penyampaian materi dan penjelasan yang diberikan dosen kurang biasa dipahami dan tidak dapat diserap secara komprehensif. Ditambah bumbu penikmat yang semakin memberikan stimulus bagi mahasiswa untuk kembali menambahkan komentar. yakni tugas yang selalu diberikan dan menindih semangat mahasiswa dalam mengikuti kuliah online ini. Rasanya seperti pekerja romhusa saja hari ini. Kuliah dikejar kejar tugas untuk selalu tepat waktu dalam penyelesainya, dan tentunya dengan bobot yang tidak sedikit. “Kampus lockdown, mahasiswa down” begitu kira kira jargon mahasiswa saat ini.

Dosen juga tak mau kalah dalam menjawab persolan yang menjadi perdebatan atas komentar mahasiswa. Bahwa katanya, dosen memberikan “penugasan” bagi mahasiswa dikarenakan hanya dengan metode “penugasan” lah yang dinilai sangat efektif dalam menunjang kelancaran perkuliahan secara daring/online. akan tetapi metode tersebut tidak berlaku efektif pula pada segi pemahaman konsep yang diberikan. Mahasiswa tetap kebingungan dalam memahami materi materi yang di berikan oleh dosen (maaf, maksud saya tugas yang diberikan). Sedang jikapun dosen mengisi ruang kuliah online dengan metode ceramah, tidak ada kontrol yang menjamin bahwa mahasiswa akan serius dan khidmat dalam mengikuti alur dan jalanya perkuliahan. Serba salah bukan. Namun tidak secara keseluruhan demikian. Ada juga dosen yang memang efektif dalam segi penyampaian materi, dan mahasiswanya yang tidak terlau sensitf dalam merespon dosen sehingga perkuliahan berjalan khidmat dan harmonis (Seharmonis hubungan kalian dengan si dia).

Terlepas dari hal itu muncul kembali komentar perihal dampak pandemik ini. Bukan lagi soal keefektifan dari metode yang dilakukan dalam kuliah online. melainkan berpindah pada keluhan dengan unsur finalsial. Katakan saja paket kuota yang terbilang “menguras dompet” belum lagi fasilitas yang sudah tidak digunakan selama beberapa minggu terakhir ini semenjak adanya kebijakan kuliah PJJ/daring. Menambah hiruk pikuk warga kampus ditengah pandemik hari ini. Ada sebagian kampus yang memang memperhatikan kondisi ekonomi mahasiswa sehingga dalam membantu kelancaran proses perkuliahan daring, kampus menurunkan kebijkan dengan memberikan biaya oprasional atau dalam bentuk subsidi pulsa kepada masing masing mahasiswanya. Namun, hanya tercatat kampus yang tergolong “kampus negeri” yang mengeluarkan kebijakan seperti itu. Bagaimana dengan yang swasta? Saya rasa kampus yang berpredikat “swasta” masih asyik menyaring keluhan dari mahasiswanya. Juga ambigu dalam menentukan kebijkan sebagai sebuah solusi. Disatu sisi, kampus swasta tidak bisa disamakan dengan kampus yang tergolong negeri, mulai dari kualitas dosen, kuantitas mahasiswa bahkan dalam segi keuangan. Mungkin ini yang membedakan “kebijakan” antara kampus negeri dengan swasta.

Lalu, apa mahasiswanya juga beda? Jelas tidak, Setau saya mahasiswa memiliki keselarasan dan keseragaman, semua itu terangkum dalam peran dan fungsinya. Mahasiswa mempunyai hak untuk menyampaikan aspirasinya, pun mereka juga berhak menggugat hal yang di anggapnya tidak baik. Oleh sebab itu dosen dan “petinggi” kampus juga harus mengerti akan kondisi mahasiswa, misal dengan membantu kelancaran mahasiswa dalam melakukan pembelajaran dari rumah. Baik dalam segi metode yang diterapkan oleh masing masing dosen yang tetap memperhatikan beban dan kondisi mahasiswa, maupun dalam bentuk finansial dan subsidi lainya. Dengan demikian saya rasa cukup untuk sekedar meredam komentar yang penuh dengan pro dan kontra sehingga menyebabkan saling hujat dan tumpang tindih dalam sebuah perdebatan yang tidak berkesudahan. Atau memang ingin merampas hak mahasiswa dengan Instrumen kekuasaan? Sudahlah. Seharusnya kita fokus pada strategi prefentif yang bersifat kuratif dalam menghadapi covid-19 ini bukan malah sibuk dengan memikirkan hiruk pikuk yang tak akan pernah ada ujung penyelesaianya.

  • Penulis adalah Mahasiswa aktivis Universitas Wiraraja Sumenep

Pilihan Lain

Selamat datang di layanan kami Setuju Lain Kali

Privacy & Cookies Policy