Flash Sale! to get a free eCookbook with our top 25 recipes.

Hukum Bercinta Saat Istri Haid Menurut Islam

Mungkin bertanya-tanya bolehkan berhubungan saat haid? Bagaimana pandangan Islam tentang berhubungan saat haid? Tentang berhubungan saat haid dalam Islam, secara umum ulama memiliki perbedaan pandangan.

Hubungan seksual memiliki banyak manfaat untuk suami istri. Selain meningkatkan keharmonisan rumah tangga dan bernilai ibadah, bercinta juga meningkatkan kesehatan anggota tubuh, terutama jantung. Jadi, tidak dapat dipungkiri bahwa berhubungan seksual merupakan aktivitas yang paling menyenangkan bagi suami istri.

Namun, adakalanya hal ini terhenti karena istri haid. Jadi, apakah berhubungan saat haid diperbolehkan menurut islam? Atau justru malah diharamkan?

Haid Menurut Islam

Dalam kitab Matnul Ghayah wat Taqrib, Abu Syujak mengatakan bahwa haid adalah darah yang keluar dari kemaluan perempuan dengan cara sehat, bukan karena melahirkan. Warnanya hitam kemerah-merahan dan terasa panas.

Sedangkan dalam dunia medis, haid adalah proses keluarnya darah dari dalam rahim yang terjadi karena luruhnya lapisan dinding rahim bagian dalam yang banyak mengandung pembuluh darah dan sel telur yang tidak dibuahi.

Al-Qur’an sendiri memiliki penjelasan tentang haid dalam Q.S Al-Baqarah: 222, yang artinya: “Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah: ‘Haid itu adalah suatu kotoran’. Oleh sebab itu, hendaklah kamu menjauhkan diri dari perempuan di waktu haid.”

Sekalipun menggunakan kondom, berhubungan saat haid tetap haram atau termasuk dosa besar, seperti termaktub dalam kitab Tuhfatul Muhtaj: “Haram melakukan apa pun di antara pusar dan dengkul istri yang menjerumuskan sampai hubungan badan, walaupun menggunakan penghalang (kondom).”

Pendapat Ulama tentang Bercinta saat Haid

Dalam Al-Baqarah: 222, ditegaskan bahwa haid merupakan kotoran. Dari sini, para ulama sepakat keharaman berhubungan saat haid. Hanya saja, para ulama berbeda pendapat tentang anggota tubuh istri yang harus dijauhi saat haid. Berikut penjelasannya seperti dikutip dari Nahdlatul Ulama.

Pertama, Imam Ibnu Abbas dan Abidah Al-Salmani mengatakan, seorang suami harus menjauhi seluruh anggota tubuh istrinya saat haid. Artinya, tidak boleh menggauli istrinya dengan cara apa pun karena berpedoman pada keumuman ayat tersebut.

Kedua, mayoritas ulama seperti Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Auza’i dan Imam Abu Hanifah menegaskan bahwa anggota tubuh istri yang harus dijauhi adalah anggota tubuh antara lutut dan pusar.

Salah satunya, mereka berpegangan pada hadits riwayat Malik dari Zaid bin Aslam: “Bahwasanya seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seraya berkata: ‘Apakah yang dihalalkan bagiku dari istriku yang sedang haid?’ Beliau bersabda: ‘Hendaklah engkau kencangkan sarungnya, kemudian dibolehkan bagimu bagian atasnya’,”. (Al-Muwaththa’, Nomor 143).

Ketiga, Imam Tsauri, Muhammad bin Al-Hasan, dan sebagian ulama mazhab Syafi’i menyatakan, anggota tubuh istri yang harus dijauhi adalah tempat keluarnya darah menstruasi, yaitu farji. Artinya, suami boleh menggauli istri pada selain farjinya.

Mereka berpegangan pada hadits riwayat Anas bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kerjakanlah segala sesuatu kecuali nikah.” (Shahih Muslim, Nomor 455).

Di samping itu, mereka juga berpedoman pada perkataan Aisyah: Dari Masruqin, ia berkata: Aku bertanya kepada Aisyah: Apakah yang dihalalkan bagiku dari istriku saat dia sedang haid? Ia berkata: “Segala suatu kecuali farji”. (Lihat: Muhammad bin Ahmad Al-Qurthubi, Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, Beirut: Muassasah Al-Risalah, 2006, juz 3, halaman 483-484).

Dari pendapat tersebut, tampaknya pendapat kelompok kedua merupakan pendapat yang kuat, yaitu pendapat yang menyatakan bahwa anggota tubuh istri yang harus dijauhi saat haid adalah anggota tubuh antara lutut dan pusar.

Pendapat ini sejalan dengan prinsip kehati-hatian dalam hukum Islam, sebagaimana disebutkan oleh Syekh Ali Assabuni: “Sesungguhnya memperbolehkan menggauli anggota tubuh antara pusar dan lutut dapat membawa kepada hal yang dilarang. Karena siapa yang berada di sekitar batasan yang diharamkan, ditakutkan akan terperosok ke dalamnya. Maka untuk kehati-hatian, kita menjauhkannya dari daerah larangan.”

Hikmah Diharamkan Senggama saat Haid

Laura Berman, PHD, seorang pakar seks dan terapis dari Northwestern University Chicago mengatakan bahwa berhubungan saat haid berpotensi menimbulkan penularan berbagai virus.

“Terutama virus HIV dan hepatitis, bagi perempuan, dan bagi laki-laki berpotensi mengakibatkan infeksi saluran kencing, sperma, dan prostat,” jelasnya.

Berdasarkan pada penjelasan Laura Berman tersebut dilarangnya bercinta saat haid oleh Islam sudah dapat duktikan manfaatnya secara medis. Penjelasan di atas, jelas sangat melarang manusia melakukan hubungan intim saat iati haid.

admin
Pena Santri adalah media dedikasi Santri Pejuang NKRI