23 September 2020

Ibnu Sina Pemantik Pijar Peradaban Islam

Oleh Saiful Fawaid


Kesuksesan anak didik merupakan cita-cita setiap bangsa serta harapan para tenaga pendidik, karena hal tersebut dapat memberikan sumbangsih terhadap perkembangan serta kemajuan peradaban suatu negara. Pendidikan di tanah air kita ini dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan, pemerintah terus menggenjot lembaga-lembaga yang ada, bahkan tak jarang mengubah kurikulum pendidikan. Hal demikian bertujuan salah satunya untuk terus meningkatkan kecerdasan anak didik agar menjadi out-put yang berprestasi.
Namun, secanggih apapun kurikulum pendidikan dan sehebat apapun tenaga pengajar yang ada di negeri kita ini jika tidak dibarengi dengan kesadaran dari diri masing-masing anak didik untuk terus belajar dan belajar, maka cita-cita tinggallah cita-cita dan kecerdasan (memperoleh ilmu) hanyalah mimpi yang sangat besar. Karena ilmu itu tidak datang sendiri, ilmu itu harus bahkan wajib dicari. Kita tidak akan mendapatkan ilmu kecuali kita belajar. Hal ini telah dibuktikan oleh sabda Nabi bahwa “ilmu itu bukanlah dari keturunan, melainkan karena belajar”. Di sini sudah jelas, se-genius apapun bapak kita itu tidak bisa dijadikan tolak ukur bagi kecerdasan kita.
Dari sini kita—sebagai generasi bangsa—dituntut untuk mengisi hari-hari kita dengan belajar. Tidak ada dalam sejarah kehidupan para tokoh, ilmuwan, pemikir dan lain sebagainya yang terlahir di dunia dalam keadaan pintar dan cerdas. Beberapa tokoh terkemuka harus menjalani proses yang begitu panjang, rumit dan berusaha semaksimal mungkin untuk menjadi seorang tokoh. Seperti halnya Ibnu Sina, salah satu tokoh yang berdiri dengan megah di atas menara peradaban yang cemerlang, yang terkenal sebagai seorang filosof dan “Bapak para Dokter” (Father of Doctors), atau “Raja Para Dokter” (Medicorum Principal).
Aan Rukmana lewat bukunya yang berjudul “Ibn Sina Sang Ensiklopedik, Pemantik Pijar Peradaban Islam” mencoba sedikit mengulas tentang biografi dan pemikiran-pemikiran tokoh yang dikenal dengan sebutan Syaikh al-Rais (guru besar para cendikiawan). Beliau bernama Abu ‘Ali al-Husayn ibn Abdillah ibn Sina, yang di Barat dikenal dengan Avicenna. Beliau lahir pada tahun 370 H/980 M. di Afshana, dekat Bukhara (sekarang Uzbekistan), di mana pada waktu itu pemerintahan Abbasiyah mencapai masa keemasannya dalam hal ilmu dan pendidikan, selain itu keluarganya memang menaruh perhatian serius terhadap pendidikan. Terbukti, setelah beliau menguasai beberapa ilmu mulai dari fisika, hukum, teologi sampai bahasa Arab, ayahnya mendatangkan guru untuk belajar al-Qur’an dan studi literatur. Sehingga tak heran bila beliau telah menghafal seluruh ayat al-Qur’an pada usia 10 tahun.
Namun, meskipun telah menghafal al-Qur’an, hal itu tidak mengurangi ketekunannya dalam belajar, bahkan beliau semakin haus akan ilmu pengetahuan. Beliau semakin tekun membaca, ketekunannya terlihat dari mengulang-ngulangnya beliau dalam membaca sebuah buku metafisika Aristoteles yang sulit dipahaminya, konon sampai 40 kali. Hingga akhirnya beliau memperoleh buku karangan al-Farabi yang berupa pembahasan terhadap metafisika Aristoteles, sehingga Ibn Sina dapat menyingkap kesulitan yang dihadapinya itu.
Buku terbitan Dian Rakyat ini menjelaskan bahwa Ibn Sina pernah beberapa kali menduduki suatu jabatan di pemerintahan, sehingga hari-harinya disibukkan dengan urusan-urusan negara. Namun pada malam harinya beliau membaca dan menulis dengan begitu semangat. Jabatan dan popuralitasnya membuat hidupnya berpindah-berpindah tempat. Karena itu terkadang beliau menulis di atas punggung kudanya, beliau menulis buku-buku kecil yang disebut dengan risalah. Selama aktif dalam jabatannya, siang hari beliau sibuk mengerjakan tugas-tugasnya di istana, sebagai seorang fisikawan dan administrator. Sedangkan pada malam harinya beliau berkumpul dengan murid-muridnya untuk berdiskusi seputar filsafat dan sains serta ilmu-ilmu pengetahuan lain yang terkait dengannya. Kesibukannya tidak memudarkan semangat beliau dalam mengkaji beberapa macam ilmu. Ketika beliau berada di istana dalam keadaan tenang serta dapat dengan mudah memperoleh buku yang diinginkan, Ibn Sina menyibukkan diri dengan menulis kitab Qanun dalam ilmu kedokteran dan menulis ensiklopedia filsafatnya yang diberi nama al-Syifa’, (halaman 13).
Setelah menguasai beberapa macam ilmu, dan beliau sudah dianggap lebih pintar dari gurunya, atas izin ayahnya beliau mencari murid yang terpelajar. Selama berkelana beliau mengisi hari-harinya dengan membaca karya-karya Euclid dan Ptolemy dalam bidang aritmatika dan geometri, kemudian beralih pada karya Aristoteles, dimulai dari logika, filsafat alam dan metafisika. Selama masa ini, ketika menjelang malam beliau duduk di depan cahaya penerang dan belajar hingga akhir malam, ketika diserang kantuk atau mulai merasa lelah, beliau pun meminum anggur dan kembali belajar. Dan siang harinya beliau juga belajar sepanjang hari, melakukan analisis suatu argumen hingga kepada premis-premis silogistiknya dan menulis dalam kumpulan catatannya. Ketika menemui kesulitan mengenai suatu permasalahan yang tengah dikajinya beliau pergi ke Masjid, salat dan berdo’a meminta petunjuk kepada Tuhan agar memberikan solusi terhadap masalah yang sedang dihadapinya, (halaman 22).
Buku setebal 136 halaman ini juga banyak membahas tentang pemikiran-pemikiran Ibn Sina yang sangat penting dan berpengaruh, tidak hanya bagi aliran Neoplatonik-Aristotelian secara khusus, atau dalam periode klasik filsafat Islam secara umum, melainkan bagi keseluruhan tradisi filsafat Islam. Menurut beliau kebenaran agama yang dibawa oleh para Nabi dan kebenaran filsafat yang dibawa oleh para filsuf itu tidak bertentangan, keduanya berjalan berbarengan. Dalam pandangannya, para filsuf yang sudah memaksimalkan penalarannya mampu meraih kemampuan untuk melakukan komunikasi dengan Akal Aktif, yaitu Jibril. Perbedaannya dengan para Nabi adalah meskipun para Nabi berada di alam material, mereka sudah mampu melakukan kontak dengan Jibril. Sedangkan para filsuf harus melewati lebih dahulu berbagai daya dan upaya sehingga mampu sampai pada level akal perolehan (mustafad). Beliau membagi manusia ke dalam dua kelompok, khusus dan umum. Kebenaran filsafat diperuntukkan untuk kelompok khusus, sedangkan kebenaran agama diperuntukkan bagi kelompok umum. Dan untuk memahami kedua kebenaran tersebut dibutuhkan ta’wil (halaman 67).
Ibn sina dikenal sebagi filosof saintis Muslim yang bersifat ensiklopedik, dimana beliau menguasai seluruh cabang ilmu yang ada di masanya. Beberapa temuan baru ilmu pengetahuan, terutama yang berkaitan dengan kedokteran lahir di tangannya. Hal demikian terlihat dari karyanya yang berjudul Al-Qanun fi al-Tibb (The Canon), suatu ensiklopedia tentang ilmu kedokteran, buku tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Latin di abad keduabelas Masehi dan menjadi buku pegangan di Universitas-universitas Eropa. Dan masih banyak lagi karya-karya yang lain.
Pada saat ini kita hidup dalam “ke-statis-an”, di mana negara kita masih jauh tertinggal dari negara-negara lain, yang secara psikologis selalu merasa kalah dengan bangsa lain. Peradaban kita tidak pernah benar-benar autentik. Oleh karena itu kita perlu menghidupkan kembali “Ibn Sina-Ibn Sina baru” yang akan melakukan sintesa atas pelbagai temuan yang ada pada saat ini. Tentunya untuk menjadi “Ibn Sina-Ibn Sina baru” bukanlah hal mudah, kita harus memompa semangat belajar kita.
Sudah saatnya remaja Indonesia sadar dan bangun dari “tidurnya”. Sudah bukan saatnya kita bermalas-malasan, kita harus selalu semangat dalam belajar dan mengkaji ilmu pengetahuan. Marilah kita buka lembaran para tokoh, ilmuwan dan pemikir-pemikir. Dan ambillah hikmah yang terkandung di dalamnya, praktikkanlah dalam kehidupan kita. Bawalah bangsa tercinta kita ini menyongsong masa depan yang lebih cerah hingga cahayanya bersinar terang sampai ke ujung dunia.
Buku ini tepat dibaca bagi siapapun yang mendamba lahirnya kembali peradaban Islam. Dan sangat penting dibaca bagi para pelajar, untuk memompa serta memacu semangat belajar dan menggali ilmu-ilmu pengetahuan. Di sini menggambarkan seorang figur yang memiliki bakat kecerdasan yang luar biasa yang telah menghafal al-Qur’an pada usia 10 tahun, namun beliau tetap semangat dalam belajar dan membaca karya-karya tokoh yang hidup sebelum beliau. Sedangkan kita yang hanya memiliki kecerdasan yang biasa, masihkah terus-menerus diam diri berpangku tangan mengharap mukjizat Tuhan? Dengan membaca buku ini semoga para pelajar sadar akan kewajiban mereka, yaitu belajar dan belajar!

Pilihan Lain

Selamat datang di layanan kami Setuju Lain Kali

Privacy & Cookies Policy